Home » , , » Kesenian Wayang Ajen Diakui UNESCO

Kesenian Wayang Ajen Diakui UNESCO

Kesenian Wayang Ajen Diakui UNESCO

Wayang Ajen mendapatkan pengakuan sebagai bentuk pertunjukan kesenian bagian dari warisan budaya tak benda Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Wayang ajen dianggap sebagai salah satu bentuk terobosan kreatif mengembangkan kesenian dan tradisi wayang di dunia.

”Pengakuan itu muncul karena kami tampil dalam Festival Internasional Bucheon World Intangible Cultural Heritage Expo (BICHE) di Kota Bucheon, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan, 28 September-2 Oktober 2010,” ujar dalang wayang ajen, Wawan Gunawan.

Wayang ajen adalah hasil kolaborasi wayang golek, wayang kulit, wayang dari bahan fiberglass, tari, dan komposisi musik dalam sebuah pertunjukan. Dalam pementasannya, didukung juga penataan artistik panggung, keserasian tata cahaya, serta kostum harmonis.

Wawan mengatakan, BICHE 2010 merupakan ajang pertemuan budaya dan kesenian tradisi dunia yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda, sekaligus guna mengenang sejarah 500 tahun Korea. Beberapa pertunjukan yang ditampilkan, antara lain, adalah tari aspara dari Kamboja, musik dan tari mariachi Latin dari Meksiko, musik dunia Rudiger dari Jerman, dan tari samba dari Brasil.

Menurut Wawan, wayang ajen mendapat kesempatan tiga kali tampil, dengan lakon ”Sinta Ilang”, ”Rahwana Gugur”, dan ”Sinta Obong” dari kisah Ramayana. Untuk memudahkan interaksi dengan penonton, pertunjukan diberi pengantar bahasa Inggris, lalu diterjemahkan dalam bahasa Korea.

”Pesan moral dan diplomasi budaya, sebagai jembatan persahabatan antarbangsa melalui pertunjukan kesenian, merupakan upaya jitu. Semua anggota tim yang berjumlah 10 orang bahkan sempat menyanyikan lagu Korea, ’Arirang’,” ujarnya.

Manajer Wayang Golek Ajen Dini Irma Damayanthi menjelaskan, pertunjukan di Bucheon kali ini hanya tiga kali. Meskipun tidak seperti saat pertunjukan di beberapa kota di Spanyol dan Republik Ceko yang pernah dilakukan, pihaknya puas karena mendapatkan pengakuan dunia.

”Sambutannya sangat meriah. Apalagi, kami juga menyertakan penampilan wayang tavip karya Mohammad Tavip. Wayang hasil daur ulang beragam materi yang sudah tidak terpakai ini mampu memperkaya kekuatan estetika pertunjukan,” ujar Dini.

info lebih lanjut Wayang Ajen

0 comments:

Post a Comment