Home » , » KEPALA SEKOLAH SEBAGAI PEMIMPIN, PEJUANG, DAN PELAYAN PENDIDIKAN

KEPALA SEKOLAH SEBAGAI PEMIMPIN, PEJUANG, DAN PELAYAN PENDIDIKAN


KEPALA SEKOLAH SEBAGAI PEMIMPIN, PEJUANG,
DAN PELAYAN PENDIDIKAN
Oleh:
IDRIS APANDI

Kepala Sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam pengelolaan sekolah. Maju-mundurnya kondisi sekolah dan tinggi rendahnya kualitas  lulusannya tidak lepas dari peran Kepala Sekolah. Cukup banyak kasus Kepala Sekolah yang berkualitas atau profesional mampu menunjukkan kinerja yang baik dan berdampak pada meningkatnya kualitas sekolah yang dipimpinnya. Dengan kata lain, kepala sekolah adalah agen atau lokomotif perubahan di sekolah yang dipimpinnya.
Standar Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah diatur dalam Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007, dan penugasan guru sebagai Kepala Sekolah/Madrasah diatur melalui Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010. Syarat menjadi Kepala Sekolah tidak mudah. Dia harus mengikuti serangkai seleksi, mulai dari seleksi administratif, seleksi akademik, harus lulus diklat calon Kepala Sekolah selama 300 JP dengan pola In Service Learning-1 selama 70 JP, On the Job Learning selama 200 JP, dan In Service Learning-2 selama 30 JP di Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) atau di lembaga lain yang ditunjuk atas rekomendasi atau izin LPPKS.
Kepala Sekolah harus memiliki 5 (lima) dimensi kompetensi, yang meliputi (1) Kompetensi kepribadian, (2) Kompetensi manajerial, (3) kompetensi kewirausahaan, (4) kompetensi Supervisi, dan (5) kompetensi sosial. Kelima kompetensi tersebut diperkenalkan dan ditanamkan pada saat diklat Calon Kepala Sekolah dan perlu ditingkatkan secara berkelanjutan.
Banyak Kepala Sekolah yang ditugaskan di sekolah-sekolah pinggiran, sekolah gurem, bukan sekolah pavorit, kurang diperhitungkan oleh masyarakat, tetapi dengan kerja keras yang dilakukannya, berhasil memoles dan meningkatkan prestasi sekolahnya baik akademik maupun non akademik.
Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada Kepala Sekolah yang ditempatkan di sekolah-sekolah pavorit atau di “wilayah tengah” yang infrastrukturnya telah relatif mapan, menurut Saya, Kepala Sekolah yang ditugaskan di daerah-daerah pinggiran bahkan daerah terpencil tentunya harus menghadapi beragam tantangan yang relatif lebih kompleks, seperti tantangan geografis, kondisi masyarakat, kondisi guru, intake siswa, dan sarana-prasarana.
Kepala Sekolah berperan sebagai pemimpin, pejuang, dan pelayan pendidikan. Kepala Sekolah adalah seorang pemimpin (leader), baik sebagai pemimpin sebuah organisasi, pemimpin secara administratif, manajerial, maupun sebagai pemimpin pembelajaran. Pemimpin organisasi berkaitan dengan tugasnya memimpin sebuah organisasi yang terdiri dari guru, staf, dan siswa, beserta lingkungannya. Pemimpin secara administratif dikaitkan dengan tugas yang diembannya dari atas dan berkewajiban mengelola administrasi sekolah dengan baik.
Pemimpin secara manajerial berkaitan dengan tugas dan wewenangnya untuk mengelola berbagai komponen manajemen sekolah, seperti guru, staf, siswa, kurikulum, keuangan, sarana dan prasarana, lingkungan, dan sebagainya. Dan pemimpin pembelajaran berkaitan dengan tugasnya untuk memastikan dan memfasilitasi kegiatan pembelajaran agar berjalan dengan lancar dan berkualitas, menyiapkan fasilitas pendukungnya, mampu melaksanakan supervisi, dan utamanya mampu menjadi contoh teladan bagi para guru, staf, dan siswanya, karena seorang pemimpin bukan hanya didengar apa yang diucapkannya, tetapi yang apa yang dilakukannya. Hakikat keteladanan adalah jika apa yang diucapkan selaras dengan apa yang dilakukan.
Sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah harus memiliki kecakapan dan karakter kepemimpinan, seperti memiliki visi yang jelas, tanggung jawab, tegas, bijaksana, rela berkorban, dan mampu mengambil keputusan. Seorang pemimpin juga kadang harus berani mengambil resiko disaat sulit.
Peran Kepala Sekolah sebagai pejuang berkaitan dengan berbagai upaya yang dilakukannya untuk ikut mencerdaskan bangsa, membangun dunia pendidikan melalui sekolah yang dipimpinnya. Sebuah perjuangan tentunya dihadapkan pada berbagai tantangan, baik dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam seperti masalah kedisiplinan guru, staf, dan siswa, terbatasnya dana, sarana dan prasarana.
Tantangan dari luar seperti masih kondisi geografis bagi yang bertugas di pedalaman atau daerah terpencil, rendahnya kepercayaan masyarakat, persaingan antar sekolah, dan belum dapat perhatian atau kerjasama dengan dunia usaha / industri (DUDI). Ketika seorang kepala sekolah berhasil membangun, meningkatkan daya saing, dan meningkatan kualitas sekolah yang dipimpinnya, maka dia akan dikenang sebagai pahlawan. Seorang pejuang, kedatangannya disambut gembira, dan kepergiannya ditangisi.
Peran kepala sekolah sebagai pelayan sesuai dengan filosofi bahwa pada hakikatnya seorang pemimpin adalah seorang pelayan. Siapa yang harus dilayani? Tentunya semua pihak terkait baik internal maupun eksternal. Pihak internal meliputi guru, staf, dan siswa. Sedangkan pihak luar meliputi orang tua siswa dan masyarakat.
Dalam memberikan pelayanan, seorang pelayan tentunya harus memberikan pelayanan prima (service of excellence) kepada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal. Layanan yang disukai oleh pelanggan antara lain; ramah, sopan, santun, dan cepat. Seorang kepala sekolah pun kurang lebih harus dapat memperlihatkan karakter-karakter tersebut.
Dalam memberikan layanan, Kepala Sekolah pun tentunya tidak dapat melaksanakan seorang diri, tetapi dibantu oleh guru dan staf-stafnya. Aktivitas Kepala Sekolah biasanya sangat padat. Walau statusnya adalah guru yang diberikan tugas tambahan dan masih memiliki kewajiban mengajar sebanyak 6 (enam) JP setiap minggu, pada kenyataannya tugas tambahan suka lebih menyedot konsentrasi, waktu, dan tenaganya. Oleh karena itu, dia harus mendelegasikan dan membagi-bagi tugas kepada setiap bawahannya.
Peran Kepala Sekolah sebagai pemimpin, pejuang, dan pelayan pendidikan di sekolah yang dipimpinnya tidaklah mudah. Hal tersebut akan sangat dipengaruhi oleh kompetensi, komitmen, tanggung jawab, mentalitas, kreativitas, dan jiwa wirausaha yang dimilikinya.


Penulis, Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat dan Master Trainer Diklat Calon Kepala Sekolah.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts