Home » » Sangkuriang dan Dayang Sumbi: Sebuah Kajian Semiotika

Sangkuriang dan Dayang Sumbi: Sebuah Kajian Semiotika

    Semiotika adalah studi tentang makna, termasuk studi tentang tanda-tanda dan proses tanda (semiosis), indikasi, penunjukan, kemiripan, analogi, metafora, simbolisme, makna keputusan dan komunikasi. Semiotika bisa juga dialamatkan sebagai sebuah kajian yang dipakai dalam memahami simbol atau tanda tentang nama tokoh cerita/dongeng. Semiotika mengisyaratkan bahwa didalam penggunaan nama tokoh sebagai simbol, terdapat makna yang bisa digali sebagai rujukan ranah filosofi. Penulis menggunakan semiotika sebagai alat untuk memaknai simbol atau tanda dari nama tokoh sentral dalam sebuah  dongeng.
     Penulis melihat antara semiotika dan tokoh dongeng ini, menarik secara kebahasaan untuk dikaji. Bahwa ada simbol tokoh dari dongeng sasakala (dongeng asal usul terjadinya sebuah tempat), yang sangat melegenda dan hidup dalam  budaya sunda. Bahkan saking kuatnya hidup dalam budaya Sunda, dongeng itu memunculkan beberapa versi. Dimana versi-versi yang kemudian ada, telah disesuaikan dengan keadaan geografis daerah/tempat dongeng itu hidup. Sebagai tokoh Sentral  dalam dongeng sasakala atau legenda, kiranya nama tokoh Sangkuring dan Dayang Sumbi, perlu mendapat perhatian lebih sebagai upaya meraih makna yang tersembunyi di baliknya.
     Sebelum dikaji lebih jauh lagi, dibawah ini penulis hidangkan secara singkat alur cerita Sasakala Gunung Tangkuban Parahu yang berkisah tentang tokoh-tokoh Sangkuriang dan Dayang Sumbi:

     Suatu hari raja Sungging Perbangkara pergi berburu, di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun “cariang” (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang, yang tengah bertapa karena punya keinginan supaya berubah menjadi manusia, meminum air seni tadi. Kemudian Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi manusia yang cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh Raden Sungging Perbangkara dan diberi nama Dayang Sumbi (dalam versi dongeng Sasakala Batu Bedil, Soreang, bernama Rarasati). Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya.  Dayang Sumbi pun atas permintaannya sendiri  mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu si Tumang.
     Ketika sedang asyik bertenun, taropong (torak, gulungan benang) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah kolong saung ranggon. Dayang Sumbi karena merasa malas mengambilnya, lantas berucap sompral, tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Dan bila perempuan yang menolongnya akan dijadikannya saudara.
     Janji itu terdengar oleh Si Tumang,  diambilkannya torak itu oleh Si Tumang dan diberikanya kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi kaget tapi harus patuh, tidak boleh ingkar pada janji yang telah diucapkannya. Dayang Sumbi harus rela dipersunting oleh Si Tumang. Kemudian Dayang Sumbi melahirkan bayi laki-laki dan diberi nama Sangkuriang.
     Suatu ketika, Sangkuriang pergi berburu ke hutan. Disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina Wayungyang. Karena tidak menurut, lalu si Tumang pun dibunuhnya. Hati si Tumang  oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahan Dayang Sumbi memuncak. Serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sinduk (sendok nasi) yang terbuat dari tempurung kelapa, sehingga kepala Sangkuriang terluka.  Sangkuriang pun diusir, lalu pergi mengembara berkeliling dunia.
     Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenali bahwa putri cantik  yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi – ibunya. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi  meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan situ (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya. Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung Bukit Tunggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah Barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang (siluman/makhluk halus) bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boéh rarang (kain putih hasil tenunannya), seketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar,  dipuncak kemarahannya, bendungan  yang berada di sanghyang tikoro, dijebolnya. Sumbatan aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya  ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Parahu. Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujungberung akhirnya menghilang ke alam gaib (Ngahiyang). Dalam versi lain diceritakan, Sangkuriang terjun menghanyutkan dirinya ke aliran sungai Citarum yang sedang mengalir deras.

     Sangkuring dan Dayang Sumbi, sebagai tokoh sentral dalam dongeng sasakala Gunung Tangkuban Parahu, merupakan bahan kajian yang unik. Kedua simbol tokoh ini jika dikaji lebih dalam lagi dan dimaknai sebagai keutuhan yang saling melengkapi, akan diperoleh sesuatu yang bisa dijadikan sebagai rujukan filosofis humanis atau falsafah dari sisi mentalitas kemanusiaannya. Bukan dari amanat atau pesan yang menjadi benang merah cerita. Maka, dalam tulisan inipun penulis membatasi diri dengan hanya mengkaji secara semiotika kedua tokoh sentral dari dongeng tersebut, yaitu Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

     SANGKURIANG
     Sangkuriang, terdiri dari dua simbol bahasa yang bisa dipisahkan menjadi kata 'sang' dan kata 'kuriang'. Sang, adalah kata sandang, penanda hormat personal. Seperti 'si' atau 'sakadang', kata sandang penanda hewan. Sedangkan 'kuriang', berakar dari dua kata. Pertama, dari kata 'guriang' dan yang kedua dari kata 'kuring'.
     Kuriang, dari kata 'guriang', memiliki dua kata 'guru' dan 'hiang'. Guru artinya pemberi nasehat, pangajar, menurut aturan, atau pemimpin. Sedangkan hiang/hyang artinya gaib. Guruhiang dapat dimaknai sebagai pemberi nasihat yang gaib. Guriang, bisa juga dimaknai sebagai bangsa lelembut atau siluman, makhluk halus (Kamus Umum Basa Sunda, LBSS). Jadi, kuriang, sebagai guriang, bermakna makhluk halus yang ada dalam diri manusia. Atau pengejawantahan dari nafsu.
     Sedang, kata 'kuriang' dari akar kata 'kuring'/aing/umaing/kumaha aing, memiliki arti ego/egois. Hanya mementingkan diri sendiri, tidak memperdulikan orang lain. Individualis. Biarlah orang lain yang celaka atau merugi atas keegoisan perilakunya.
     Dengan demikian sangkuriang, sebagai sang guriang atau sang kuring dapat dimaknai sebagai nafsu manusia, atau keegoisan manusia. Sangkuriang =  Jiwa (ego)  non material yang menjadi dasar tumbuhnya kesadaran mental manusia yang selalu mendapat cobaan dan ujian kualitas dirinya. (Drs. HR. Hidayat Suryalaga).

     DAYANG SUMBI
     Dayang Sumbi, terdiri dari dua kata, 'dayang' dan 'sumbi'. Dayang berakar dari kata 'dangiang'/'danghyang'. Dang merupakan penanda hormat personal. Dan, 'iang/hyang' mengandung arti hilang/gaib.
     Sedangkan kata 'sumbi', merupakan tendok/penyocok atau sebuah alat penusuk hidung kerbau. Dimana pada saat hidung kerbau ditusuk, maka kerbau akan jinak, menurut, walaupun ke dalam hidungnya nanti akan dimasukan seutas tali sebagai pengendali, kerbau akan nurut saja tidak mengamuk. Seringkali kita dengar istilah, 'seperti kerbau dicocok hidung'. Hal tersebut diungkapkan sebagai isyarat, untuk menyindir perilaku manusia yang sangat nurut  dan diam saja, tidak pernah protes.
     Maka, Dayang Sumbi dimaknai sebagai, fitrah manusia yang bersifat gaibiah yang memberi petunjuk dan kendali dalam menentukan arah kehidupan. Bisa dimaknai pula sebagai kata hati nurani yang mendapat pencerahan hidayah Allah Swt. (Drs. HR. Hidayat Suryalaga).
     Dalam versi lain, karakter tokoh Dayang Sumbi dimunculkan sebagai tokoh 'Rarasati'. Kata Rarasati bisa dimaknai sebagai RaRasaan nu SajaTi (perasaan yang sejati) dengan kata lain sebagai hati nurani.

     Kesimpulan
     Dari uraian tentang Sangkuriang dan Dayang Sumbi, sebagai tokoh sentral dari dongeng sasakala Gunung Tangkuban Parahu diatas, bisa diambil kesimpulan:
Bahwa, ada dua hal yang bersifat gaib yang berkecamuk dalam diri seorang manusia.
     Pertama adalah hawa nafsu, ego, yang seringkali membuat manusia lupa. Bahkan sampai tega mencelakai orang lain, dengan tidak berperikemanusiaan. Cara apapun dihalalkan hanya untuk menggapai segala macam impian. Walaupun harus menikahi ibu kandungnya sendiri (Sangkuriang). Semakin besar hawa nafsu dan ego, maka manusia akan semakin angkuh dan serakah. Lepas kontrol. Tanpa kendali. Tidak berperikemanusiaan, yang muncul adalah perilaku setan/siluman (guriang).
     Kedua adalah hati nurani. Ketika nafsu bersemayam dalam diri manusia, maka hati nurani yang paling bisa meredam gejolak hawa nafsu tersebut. Hati nurani lah yang bisa melembutkan perilaku manusia. Dan seringkali hati nurani yang selalu berkata benar.
     Sangkuriang (nafsu/ego) dan Dayang Sumbi (hati nurani). Selama manusia hidup, akan selalu berdampingan di dalam dirinya. Menjadi dua bagian yang selalu bertentangan, berkecamuk dan saling berperang untuk mempengaruhi satu sama lain. Jika Sangkuriang (nafsu/ego) yang menang, akan berakibat pada kebiadaban perilaku manusia. Tapi jika Dayang Sumbi (hati nurani) bisa meredam, melembutkan angkara murka, maka perilaku seorang manusiapun akan penuh dengan kebaikan.
     Semoga kita sebagai manusia, masih memiliki Dayang Sumbi, untuk melembutkan nafsu ego Sangkuriang yang bersemayam dalam jiwa. Cag. Wallahualam bisawab.

0 comments:

Post a Comment