Home » , , » Orang tua kelahiran 60an vs 80an

Orang tua kelahiran 60an vs 80an

Orangtua Kelahiran 60-70an VS Kelahiran 80-90an

Seorang bunda dengan bangga yang tak bisa ditutupi, menceritakan bahwa ia mengajari berbagai konsep matematika kepada anaknya, sejak diferensial sampai logaritma, sejak matriks sampai trigonometri dstnya. Alasannya karena sekolah umumnya tidak mengajarkan konsep hanya hafalan rumus semaata.

Setidaknya bunda itu pasti penggemar matematika atau mantan guru matematika. Mengapa demikian, kalau orangtua biasa sudah pasti tidak banyak paham konsep matematika apalagi para orangtua hari ini adalah produk persekolahan yang umumnya membenci matematika

Bunda ini ingin menunjukkan bahwa rumah bisa menjadi (menu) pelengkap sekolah, dgn menjelaskan konsep matematika di rumah yang tidak ada diajarkan di sekolah. Di sisi lain nampaknya ingin menunjukkan sisa sisa kehebatan akademis masa lalunya .

Bunda di atas dan banyak orangtua sepertinya adalah ciri khas orangtua kelahiran 60an dan 70an, yang memandang wacana prestasi akademis adalah segalanya. Orangtua di generasi ini stressnya kambuh setiap menjelang UN. Global science adalah ilmu wajib jika mau maju, modern dan meraih posisi terpandang. Mereka bersusah payah membuka buka "kitab" lamanya utk mengajarkan anaknya. Generasi ini juga terkenal menjelaskan konsep dengan pemaparan rumus bukan dengan pengalaman nyata.

Namun berbeda dengan orangtua kelahiran 80an dan 90an yang tidak lagi memandang sekolah sebagai tempat mendidik yang utama. Kebanyakan mereka bahkan tidak percaya dengan sekolah walau sedikit tidak yakin mendidik sendiri.  Generasi kelahiran 80an-90an sejak masih semasa kuliah sudah membaca banyak artikel ttg sekolah yang membebaskan (fitrah) anak anak. Dan mereka sadar betul bahwa mereka korban sistem persekolahan. Mereka tahu well schooled belum tentu well educated.

Orangtua kelahiran 80an dan 90an, melihat bahwa rumahlah pusat mendidik, sekolah hanya pelengkap jika dibutuhkan. Bukan sbaliknya. Obrolan ttg persekolahan berbeda dengan obrolan pendidikan. Mereka ingin mengembalikan peran sejati orangtua dalam mendidik yang dirampas sekolah selama seratus tahun terakhir.

Mereka juga melihat bhw local science atau kearifan lokal justru lebih sustainable dan cocok dengan kehidupannya. Pekerjaan rumah bagi mereka bukan pelajaran sekolah yg dibawa ke rumah, tetapi berkebun bersama ayah, membantu bunda memasak, membersihkan rumah, menjalankan bisnis keluarga dll.

Orangtua kelahiran 80an dan 90an, menyadari bahwa anak mereka unik dan tidak bisa diseragamkan dengan kurikulum seragam. Fitrah tidak bisa diformalin (diformalkan), karena fitrah itu hidup, dan hanya jenasah yang bisa diformalin (diformalkan).

Mereka, kelahiran 80an dan 90an sadar bahwa "too much teaching" itu sangat buruk. Anak yang terlalu banyak diajarkan akan minta diajarkan sepanjang hidupnya. Mereka sadar bahwa tugas orangtua hanyalah membangkitkan gairah belajar anak anaknya, krn anak yang suka belajar akan belajar sepanjang hidupnya.

Lihatlah bunda dalam artikel ini kemudian bercerita bahwa ia akhirnya "menyerah" mengajarkan anaknya akademis. Ya memang, sampai kapan terus mengajarkan anak anaknya pelajaran sekolah di rumah. Apa harus hafal 124 rumus dasar integral, apa tidak letih mengulang kembali stokiometri, menjelaskan konsep gaya gerak listrik dan termodinamika atau menghafal kembali tabel periodik unsur kimia?  Lalu susah payah itu kemudian apakah relevan dengan peran peradaban anak mereka di masa depan?

Come on, sains berubah dan bertambah 200% per tahun. Bukankah kita tidak bisa terus membersamai anak kita. Anak  anak kita punya semua bekal yang cukup untuk menjadi khalifah di muka bumi dan hamba Allah. Biarkan fitrah mereka tumbuh sehingga mereka akan mandiri menghadapi zamamnya kelak.

Mereka, anak  kita, bisa saja wafat lebih dulu dari kita, namun pada ghalibnya kita akan wafat lebih dulu, anak anak kita akan menghuni zaman yang kita tidak pernah mampu mengunjunginya apalagi menghuninya. Anak anak kita akan hidup sendiri dengan zamannya. Lalu apa yang diperlukan anak anak kita untuk hidup bahagia di masa itu?

Anak anak kita, ketika itu membutuhkan semua aspek fitrah mereka tumbuh hebat melalui kenangan indah kebersamaan dengan kita pada masa kini, namun tentu bukan dengan banyak mengajarkan tetapi dengan banyak menumbuhkan dan membangkitkan (tarbiyah) gairah gairah fitrah mereka.

Ingatlah bahwa anak yang tumbuh hebat gairah fitrah belajarnya, maka kelak akan belajar sepanjang hidupnya. Ingat bahwa anak yang tumbuh hebat gairah fitrah imannya, maka kelak akan mencintai Allah, Rasul dan Islam sepanjang hidupnya.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

0 comments:

Post a Comment