Home » , , » MENJADI WIDYAISWARA PENULIS, SEBUAH ANUGERAH DAN KESAKSIAN

MENJADI WIDYAISWARA PENULIS, SEBUAH ANUGERAH DAN KESAKSIAN

Penulis menjadi narasumber pada sebuah kegiatan. (Foto : Dok.Pribadi) 

MENJADI WIDYAISWARA PENULIS, SEBUAH ANUGERAH DAN KESAKSIAN
Oleh:
IDRIS APANDI
Mengawali tulisan ini, Saya ingin flash back ketika tahun 2002 Saya pertama kali diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Balai Pelatihan Guru (BPG) Bandung yang saat ini bernama Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat. Saya waktu itu, mendaftar menggunakan ijazah SMA, sehingga diangkat pada jabatan pelaksana golongan II/a.
Pada tahun pertama, Saya ditempatkan menjadi staf pada Sekretariat Widyaiswara, dan tahun 2003 pindahkan menjadi staf pada urusan kepegawaian. Sebagai seorang tenaga administrasi, Saya banyak berkutat pada pekerjaan administratif, mulai dari mengetik draft surat-surat sampai mengelola data-data kepegawaian.
Tahun 2005, Saya lulus ujian penyesuaian dari golongan II ke golongan III/a. Ijazah S-1 Saya alhamdulillah bisa terpakai. Saya masih berkutat di bagian administrasi. Saya mulai senang membaca berita dan artikel dari koran dan media Online. Dari membaca berita dan artikel tersebut, Saya mulai tertarik menulis. Diawali dari menulis surat pembaca di Pikiran Rakyat dan Galamedia. Isinya berupa aspirasi, mengkritisi pelayanan publik, dan permasalahan sosial yang terjadi.
Tahun 2006 jalan menuju dunia menulis mulai terbuka. Tulisan Saya yang berjudul “Arti Dibalik Kunjungan Presiden SBY ke Sekolah” dimuat di Galamedia tanggal 24 April 2006. Saya sangat senang karena Saya sadar tidak mudah sebuah tulisan dimuat di surat kabar. Tulisan Saya terpilih diantara sekian banyak tulisan yang diajukan oleh penulis yang lain.
Itulah momentum pertama saya untuk menggeluti dunia menulis, khususnya menulis artikel ilmiah populer. Perlahan tapi pasti, tulisan-tulisan cukup banyak menghiasi koran dan majalah, seperti Pikiran Rakyat, Galamedia, Tribun Jabar, Pelita, majalah Suara Daerah, Majalah Bhinneka Karya Winaya, dan sebagainya.
Awalnya, Saya tidak terlalu serius menggeluti dunia menulis. Saya menulis hanya sebagai hobi atau mengisi waktu luang, tetapi dalam perkembangannya, Saya mulai menikmatinya dan semakin masuk ke dalamnya. Dari 2006 sampai dengan saat ini (Maret 2017), kurang lebih sekitar 600 artikel dan puisi yang telah Saya tulis. Bagi Saya, karya-karya tulis tersebut adalah kekayaan intelektual yang tidak bernilai.
Tahun 2010 Saya mengikuti seleksi Calon Widyaiswara di kantor Saya, dan alhamdulillah lulus, lalu pada bulan November 2010, Saya mengikuti Diklat Calon Widyaiswara di Pusdiklat Pegawai Kemdikbud di Sawangan Depok. Saya diangkat menjadi Widyaiswara TMT 1 Mei 2011. Saya memasuki dunia yang baru, dari seorang tenaga struktural menjadi seorang tenaga fungsional yang wajib mengumpulkan Angka Kredit (AK). Dari dunia yang bergelut dengan kertas, komputer, dan benda-benda mati, kini harus berinteraksi mendidik, mengajar, dan melatih PNS khususnya kalangan guru.
Artikel-artikel yang Saya tulis di media massa ternyata sangat bermanfaat dalam menambah AK Saya. Sebelumnya Saya tidak berpikir artikel-artikel tersebut dapat menjadi AK, karena Saya menulis hanya sebagai hobi dan sarana curhat saja. Pelajarannya dari hal tersebut adalah segala sesuatu yang baik, tidak akan pernah sia-sia. Sejak saat itu, Saya semakin bersemangat untuk menulis. Saya merasa passion Saya memang di dunia menulis.
Tahun 2013 Saya mulai merintis menulis buku. Dan Maret 2014 buku pertama yang berjudul “Pendidikan Indonesia Mau Dibawa Kemana?” diterbitkan. Buku tersebut merupakan bunga rampai dari artikel-artikel yang Saya tulis dan diterbitkan di koran dan majalah. Hal tersebut menjadi motivasi Saya untuk menulis buku-buku berikutnya.
 Alhamdulillah, sampai dengan 2017, sebanyak 12 judul buku telah Saya terbitkan. Dan Saya pun berencana untuk menerbitkan buku-buku berikutnya. Hal ini didasari tujuan menulis bukan hanya sekedar mengejar angka kredit, tetapi untuk menyebarkan gagasan, pemikiran, memberikan manfaat bagi orang lain, mengukir sejarah, dan sebagai sarana ibadah.
Tidak dapat dipungkiri, dari menulis, Saya mendapatkan point dan koin. Point saya dapatkan dari AK, sedangkan koin berupa honor yang dari koran atau majalah yang menerbitkan tulisan Saya. Walau demikian, ada kalanya tulisan yang dimuat di koran atau majalah lokal tidak mendapat honor. Bagi Saya, hal itu tidak menjadi masalah, karena rezeki bisa datang dari pintu yang lain. Misalnya dari undangan mengisi seminar, pelatihan, atau workshopyang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan, sekolah, atau organisasi profesi guru.
Tidak dapat dipungkiri, menulis telah mengubah hidup Saya. Dari orang yang dinilai tidak ada apa-apanya, menjadi manusia yang diperhitungkan, dinilai dapat memberikan atau berbagi ilmu atau pengalaman kepada sesama. Dari sosok yang tidak dikenal menjadi sosok yang relatif dikenal, khususnya di kalangan pendidik dan tenaga kependidikan di provinsi Jawa Barat.
Dari menulis, Saya diundang menjadi narasumber dialog pendidikan di radio lokal seperti RRI Bandung, PR FM, dan Elshinta. TV Lokal seperti IMTV, Sindo TV, I-News TV dan TVRI Jabar dan Banten. Penampilan Saya di radio dan TV menjadi iklan gratis bagi Saya di saat banyak orang yang ingin diliput oleh media. Saya pun beruntung beberapa kali terlibat pada kegiatan-kegiatan Kemdikbud, bisa berkunjung ke beberapa provinsi di Indonesia. Itu semua karena berkah menulis.
Berkah menulis, Saya pun memiliki kenangan yang sangat berkesan dan mungkin sulit untuk kembali terulang. Antara lain, pernah ditelepon secara langsung oleh Mendikbud Anies Baswedan tanggal 30 Desember 2015 yang isinya mengapresiasi tulisan Saya tentang membangun integritas di Kemdikbud, diundang oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Juli 2016, dan tulisan Saya tentang Tiga Agenda Implementasi Kurikulum 2013 mendapat apresiasi dari Dirjen Dikdasmen Hamid Muhammad. Saya pun mengucapkan terima kasih kepada pimpinan dan semua rekan yang memberikan apresiasi dan memotivasi Saya untuk terus berkarya.
Dari menulis, Saya mengambil pelajaran bahwa sebuah pekerjaan harus dilakukan secara total dan profesional. Bukan hanya sekedar mengejar honor atau penghasilan. Bagi tenaga profesional, uang tidak melulu harus dicari, tapi akan datang sendiri mana kala dia layak untuk mendapatkannya. Hal tersebut lahir dari kepercayaan pengguna jasa terhadap kualitas atau kompetensi sang tenaga profesional.
Kepercayaan bagi seorang penulis tidak lahir begitu saja, tetapi melalui proses panjang seiring dengan kualitas dan kuantitas tulisan yang dihasilkan. Proses menuju kesuksesan diwarnai dengan berbagai tantangan, mulai dari ketidakpercayaan diri sendiri, kegagalan, kritik, sindiran, dan sinisme pihak-pihak yang kurang mendukung sampai akhirnya hal-hal tersebut dijawab melalui karya nyata.
Kepercayaan biasanya diiringi dengan popularitas. Kepercayaan dan popularitas harus dikelola dengan baik karena bisa menyebabkan seseorang menjadi takabur atau besar kepala. Dan Saya pun menyadarinya. Oleh karena itu, Saya menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk semakin rendah hati, berilmu padi, disertai peningkatan kualitas diri. Saya harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Isi tulisan harus semakin berkualitas, karena ada tanggung jawab intelektual dan moral dari tulisan yang Saya buat.
Menulis harus diawali dengan niat baik. Tidak semata-mata bertujuan mencari popularitas atau penghasilan, tetapi ketika seseorang sudah banyak menulis dan tulisannya tersebut dinilai berkualitas, mampu memotivasi, dan menginspirasi para pembacanya, maka popularitas akan datang dengan sendirinya. Akan memiliki penggemar, akan banyak yang antri minta difoto bareng, dan akan antri yang meminta tanda tangannya.
Berkaitan dengan tupoksi Widyaiswara, pasal 1 ayat (2) Permeneg PAN dan RB Nomor 22 tahun 2014 menyebutkan bahwa “Widyaiswara adalah PNS yang jabatan yang mempunyai ruang lingkup tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melakukan kegiatan mendidik, mengajar, dan/atau melatih Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang selanjutnya disingkat Dikjartih PNS, dan melakukan evaluasi dan pengembangan Pendidikan dan Pelatihan yang selanjutnya disingkat Diklat pada Lembaga Diklat Pemerintah.
Ayat (3) menyebutkan bahwa Widyaiswara adalah PNS yang diangkat sebagai pejabat fungsional oleh pejabat yang berwenang dengan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk Dikjartih PNS, dan melakukan Evaluasi dan Pengembangan Diklat pada Lembaga Diklat Pemerintah.
Sama halnya dengan guru dan dosen, widyaiswara adalah tenaga fungsional yang bergerak pada ranah akademik, hanya bedanya pada subjek yang  diberikan pelatihan saja. Guru mengajar siswa, dosen mengajar mahasiswa, sedangkan Widyaiswara mengajar, mendidik, dan melatih Aparatur Sipil Negara (ASN)/PNS, termasuk di dalamnya pendidik tenaga kependidikan yang berstatus ASN.
Sebagai kalangan akademisi, maka widyaiswara sudah selayaknya akrab dengan dunia membaca dan menulis. Widyaiswara harus banyak membaca untuk menambah pengetahuan pada bidangnya, dan harus menulis bahan ajar, atau karya tulis lain sebagai bentuk pengembangan profesinya. Saya yakin pengurus ikatan Widyaiswara pun menyarankan demikian, tetapi nyatanya, banyak widyaiswara yang mengalami kesulitan menulis, atau tidak sempat dengan alasan kesibukan, sehingga ada yang lama tidak dapat naik pangkat karena belum memenuhi angka kredit dari unsur pengembangan profesi.
Menjadi widyaiswara yang sekaligus penulis bagi Saya merupakan sebuah anugerah karena tidak setiap widyaiswara mampu melakukannya. Dengan menulis, minimal Saya tidak mengalami kesulitan pada unsur pengembangan profesi, bahkan telah melampaui dari AK yang disyaratkan naik pangkat.
Walau demikian, bukan berarti Saya tanpa kelemahan. Dan kelemahan Saya adalah mengadministrasikan surat-surat atau kelengkapan pada unsur utama, yaitu pendidikan, pengajaran, dan pelatihan, dimana seorang widyaiswara tidak dapat naik pangkat jika unsur utamanya belum terpenuhi, walau unsur penunjangnya sudah lebih dari cukup. Walau urusan administrasi bagi Saya terkadang menjadi hal yang membosankan, tetapi harus dilaksanakan sebagai bentuk akuntabilitas dalam melaksanakan pekerjaan dan untuk menunjang pengembangan karir Saya.
Berkaitan dengan kegiatan menulis, kadang Saya merasa “iri” kepada kalangan guru yang gegap gempita dengan biaya sendiri melaksanakan pelatihan menulis dan menerbitkan buku, sedangkan di kalangan Widyaiswara, kegiatan menulis karya ilmiah hampir tidak terdengar. Di Kemdikbud, memang suka ada pelatihan menulis KTI bagi widyaiswara, tapi kesempatannya terbatas. Biasanya diprioritaskan bagi widyaiswara yang mau naik pangkat atau naik jenjang.
Jumlah penulis buku yang berasal dari kalangan widyaiswara juga memang tidak sebanyak kalangan dosen dan guru. Hal ini mungkin juga dipengaruhi oleh jumlah widyaiswara yang tidak sebanyak guru dan dosen. Secara pribadi, Saya mengalami kesulitan berdiskusi dengan sesama widyaiswara yang memiliki hobi yang sama, yaitu menulis. Oleh karena itu, Saya teman-teman diskusi Saya dalam hal menulis kebanyakan dari kalangan guru. Mungkin saya kekurangan informasi tentang widyaiswara penulis.
Saya yakin pada dasarnya setiap widyaiswara menyadari pentingnya menulis, dan kalau kemampuannya terus diasah, Saya yakin bisa menulis. Tinggal tergantung kepada niatnya. Apakah menulis hanya sebatas untuk memenuhi angka kredit untuk dapat naik pangkat atau menulis untuk tujuan yang lebih luas dan lebih mulia?
Saya kira, sebagai kalangan terdidik dan kalangan akademisi, widyaiswara punya kemampuan pada bidang masing-masing. Oleh karena itu, perannya sangat diperlukan sebagai penerang, pencerah, dan penuntun bagi para peserta diklat dan bagi masyarakat secara umum. Apalagi di lingkungan dunia pendidikan, kadang widyaiswara diposisikan sebagai orang yang dianggap serba tahu dan dijadikan sebagai sumber informasi. Semoga kegiatan menulis di kalangan widyaiswara makin meningkat di masa depan dalam rangka ikut meningkatkan kualitas bangsa.

Penulis, Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat.

0 comments:

Post a Comment