Home » , , , » MEMBANGUN JIWA WIRAUSAHA MELALUI GERAKAN LITERASI

MEMBANGUN JIWA WIRAUSAHA MELALUI GERAKAN LITERASI

Membangun Jiwa Wirausaha melalui gerakan literasi. (Ilustrasi : http://4.bp.blogspot.com/)

MEMBANGUN JIWA WIRAUSAHA MELALUI GERAKAN LITERASI
Oleh:
IDRIS APANDI
(Widyaiswara LPMP Jawa Barat, Ketua Komunitas Pegiat Literasi Jabar, KPLJ)
Tulisan ini terinspirasi ketika Saya mengisi pelatihan menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI) bagi guru-guru di TK, SD, dan SMP Santa Ursula Bandung beberapa waktu yang lalu. Pada saat istirahat, Saya berdiskusi dengan bu Sonya, koordinator Gerakan Literasi di sekolah tersebut. Kami saling berbagi pengalaman dan pendapat tentang implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS).
Bu Sonya memaparkan tentang perkembangan GLS di sekolahnya. Mulai dari sosialisasi GLS, pembentukan Tim GLS, hingga program yang akan dilaksanakan. Ada hal menarik dari program GLS di SMP Santa Ursula Bandung, yaitu membangun jiwa kewirausahaan (entrepreuneurship) melalui budaya literasi.
Adapun langkah yang dilakukan adalah dengan pembudayaan membaca buku dikalangan siswa yang berkaitan dengan sebuah produk, lalu melakukan kunjungan lapangan ke tempat budidaya atau tempat produksinya, lalu para siswa diberikan kesempatan untuk mengumpulkan informasi melalui observasi, wawancara, atau studi dokumentasi.
Bu Sonya menyampaikan, langkah-langkah yang dilakukan untuk membangun jiwa wirausaha kepada siswa melalui budaya literasi antara lain, diminta untuk membaca tentang seluk beluk kopi dari berbagai sumber, lalu mencatat dan menalarnya. Setelah itu, rencananya para siswa diajak mengunjungi sebuah tempat penanaman dan pengolahan kopidi wilayah Lembang KBB. Di tempat tersebut, siswa diberikan waktu dan kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi tentang kopi melalui obervasi, wawancara, atau studi dokumentasi.
Mengajak siswa ke tempat penanaman atau pengolahan kopi bukan berarti menggiring mereka untuk jadi petani, pengusaha, atau pedagang kopi, tetapi untuk mengetahui seluk beluk mengenai kopi dan mengambil pelajaran kewirausahaan dari kegiatan menanam dan mengolah kopi, seperti kecermatan, ketelitian, kerja keras, sungguh-sungguh, kreativitas, dan inovasi.
Hal yang Saya uraian di atas hanya salah satu contoh saja. Pesan utama dari tulisan ini hanya bagaimana menumbuhkan jiwa kewirausahaan melalui literasi. Jiwa kewirausahaan semakin mendesak untuk ditanamkan disaat lapangan kerja semakin sempit, sedangkan angkatan kerja semakin bertambah. Oleh karena itu, diperlukan antisipasi agar pengangguran tidak semakin bertambah.
Sekian puluh tahun yang akan datang diramalkan lapangan kerja akan banyak yang hilang, digantikan lapangan kerja yang baru, tetapi jenisnya belum dapat diprediksi. Walau demikian, modal yang perlu dimiliki oleh setiap orang adalah niat yang kuat, kerja keras, kreativitas, disertai berdoa kepada Tuhan YME.
Sebuah produk canggih hari ini, akan menjadi produk usang di masa depan dan kalah daru persaingan. Mungkin kita bisa mengambil pelajaran dan Yahoo dan Nokia, yang awalnya sebuah raksana teknologi, tetapi harus kolaps, dan mampu dikalahkan oleh para pesaingnya. Penyebab utamanya adalah karena kedua perusahaan tersebut, lambat dalam merespon perkembangan dan kebutuhan zaman.
Budaya literasi membuat seorang manusia melek informasi dan teknologi. Di abad informasi ini, ada slogan yang mengatakan bahwa siapa yang menguasai informasi, maka dia yang akan menguasai dunia. Oleh karena itu, informasi bukan hanya ditunggu tetapi harus dijemput. Literasi pada berbagai bidang akan melahirkan keberpahaman, kreativitas, dan inovasi baru yang akan bermanfaat dalam kehidupan. Bukan hanya memperbaharui atau meningkatkan kualitas produk lama, tetapi juga bisa menghasilkan produk baru.
Budaya literasi juga akan membuat seseorang tanggap terhadap peluang-peluang baru. Munculnya ekonomi kreatif dan usaha-usaha baru merupakan alternatif untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Dengan adanya internet, banyak usaha yang sudah dilakukan secara online.Walau demikian, usaha yang dilakukan secara online, dianggap sebagai ancaman bagi usaha-usaha konvensional karena yang sulit bersaing.
Terjadinya bentrokan antara pengusaha jasa angkutan online dengan pengemudi ojek, sopir-sopir taxi dan angkot kovensional adalah sebagai dampak persaingan antara kedua moda bisnis angkutan tersebut. Perkembangan teknologi memang tidak dapat dipungkiri akan menyebabkan berkurangnya kebutuhan tenaga manusia dan punahnya usaha-usaha konvensional dan sulit mengubah pola pikir dan strategi usahanya.

Berdasarkan kepada uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa budaya literasi bukan hanya sekedar kegiatan membaca atau menulis saja, tetapi bisa menjadi dasar untuk membangun atau menumbuhkan jiwa kewirausahaan kepada setiap orang, utamanya kepada para siswa sebagai calon-calon pemimpin dan akan melanjutkan pembangunan bangsa dan bersaing di era global. 

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts