Home » , , , » MANUSIA LITERAT, WUJUD MANUSIA BERKARAKTER

MANUSIA LITERAT, WUJUD MANUSIA BERKARAKTER


MANUSIA LITERAT, WUJUD MANUSIA BERKARAKTER
Oleh:
IDRIS APANDI
(Widyaiswara LPMP Jabar, Ketua Komunitas Pegiat Literasi Jabar/KPLJ)

Ketika mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Islam, Saya masih ingat guru membacakan ayat pertama QS Al ‘Alaq, yaitu Iqra yang artinya bacalah. Beliau menyampaikan bahwa QS Al ‘Alaq adalah wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhamad SAW. Tujuannya adalah umat Islam mau membaca dan belajar agar menjadi manusia yang berilmu, pengetahuan, terampil, dan memberi manfaat bagi sesama.
Islam mengajarkan bahwa mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimat. Wajib mencari ilmu sejak dilahirkan sampai raga masuk ke liang lahat. Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Intinya, manusia yang berilmu adalah manusia yang dimuliakan baik di hadapan Allah maupun dihadapan sesama manusia. Tentunya bukan hanya ilmu, tetapi juga harus disertai dengan akhlak yang mulia.
Manusia yang berilmu bisa dikatakan sebagai manusia yang literat. Ilmu yang didapatkannya adalah hasil dari membaca, observasi, diskusi dengan orang yang menurutnya bisa dijadikan sebagai sumber informasi. Orang yang literat haus akan informasi dan pengetahuan terbaru. Bisa menjadikan setiap situasi dan kondisi sebagai sumber belajar, dan setiap orang dimintai pendapat, tanggapan, atau jawaban sebagai gurunya. Dengan demikian, manusia literat adalah manusia yang bermental pembelajar.
Manusia yang literat adalah hasil dari aktivitasnya dalam bidang literasi. Literasi bukan hanya diartikan sebagai aktivitas membaca dan tulis saja, tetapi juga mencakup keberpahamannya pada bidang-bidang tertentu, mampu memilih dan memilah informasi, berbudaya, serta mampu berkomunikasi dengan baik.
Dengan kata lain, manusia yang literat memiliki ketenangan dan kebijaksanaan dalam menyikapi sebuah informasi, tidak mudah terpengaruh, dan tidak reaktif terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya (HOAX) mengingat saat ini begitu banyak beredar di media sosial.
Di era medsos, saat ini, manusia yang literat adalah manusia yang antara jari tangan dan otaknya nyambung alias tidak asal membuat status, komentar, atau debat kusir disertai dengan emosi, tetapi pernyataan-pertanyataanya jelas, argumentatif, dan berbobot.
Dalam konteks pendidikan karakter, menurut Saya, manusia literat adalah manusia yang berkarakter, karena literasi juga pada hakikatnya bagian dari pendidikan karakter, yaitu karakter pembelajar, karakter ingin tahu, dan karakter berbagi ilmu pengetahuan. Hanya saat ini seolah dipisahkan antara literasi dengan pendidikan karakter. Mungkin supaya lebih fokus dan lebih spesifik.
Kedalaman ilmunya menjadikannya ibarat samudera yang dalam. Ibarat cahaya yang menerangi dalam kegelapan, mampu menjadi penjelas bagi yang kurang jelas, mampu memberikan jawaban yang bagi yang bertanya. Intinya, manusia yang literat mampu menjadi bagian dari solusi dari permasalahan yang terjadi di lingkungannya.
Manusia literat adalah sosok yang diperlukan dalam membangun bangsa. Negara-negara maju seperti Jepang, Korea, Finlandia, dan Amerika menjadikan pembangunan sumber daya manusia sebagai modal utama pembangunan bangsa. Manusia-manusia literat memiliki daya kreatif, inovatif, kompetitif, sekaligus mampu mengembangkan sikap kolaboratif.
Untuk mewujudkan sosok manusia yang literat, perlu proses yang tidak instan. Butuh waktu dan kesungguhan. Mau banyak meluangkan waktu dan tenaga untuk belajar. Berani menghadapi tantangan dan mengalahkan kemalasan. Buku menjadi sahabat sejatinya, dan membaca menjadi hobinya.
Budaya literasi Indonesia yang masih rendah. Sebuah survei yang dilakukan Central Connecticut State University di New Britain yang bekerja sama dengan sejumlah peneliti sosial menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara terkait minat baca. Survei dilakukan sejak 2003 hingga 2014. Indonesia hanya unggul dari Bostwana yang puas di posisi 61. Sedangkan Thailand berada satu tingkat di atas Indonesia, di posisi 59. (Media Indonesia, 30/08/2016).
Data statistik UNESCO pada 2012 juga menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, dari 1.000 penduduk, hanya satu warga yang tertarik untuk membaca. Menurut indeks pembangunan pendidikan UNESCO ini, Indonesia berada di nomor 69 dari 127 negara.

Berdasarkan kepada hal tersebut di atas, maka perlu adanya langkah-langkah konkrit untuk meningkatkan kualitas literasi Indonesia untuk mewujudkan sosok-sosok manusia pembangunan yang literat sekaligus berkarakter. 

0 comments:

Post a Comment