LITERASI DAN KEBUDAYAAN


LITERASI DAN KEBUDAYAAN
Oleh:
IDRIS APANDI
(Widyaiswara LPMP Jawa Barat, Ketua Komunitas Pegiat Literasi Jabar/KPLJ)

Sejak munculnya peradaban manusia, budaya baca tulis sebenarnya sudah ada. Membaca dan menulis adalah cara manusia berkomunikasi, tentunya disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan zamannya. Bukti peradaban manusia juga tercatat pada prasasti, tulisan-tulisan di dinding gua, kitab, atau lembaran-lembaran kulit binatang. Dan hanya profesi tertentu seperti arkeolog atau ahli sejarah yang bisa membacanya.
Peradaban manusia yang terus berkembang juga berpengaruh terhadap budaya baca dan tulis. Oleh karena itu, manusia memiliki budaya dan bahasa masing-masing. Indonesia juga merupakan negara yang majemuk memiliki ribuan suku bangsa dan bahasa. Walau demikian, bangsa Indonesia memiliki bahasa pemersatu, yaitu bahasa Indonesia.
Di kalangan umat Islam pun, literasi sebenarnya bukan barang baru. Wahyu pertama yang disampaikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca, iqra!!! Supaya manusia menjadi manusia yang melek ilmu pengetahuan dan berbudaya. Membaca bukan hanya dalam konteks membaca firman-firman Allah secara tekstual sebagaimana yang tercantum pada Al Quran, tetapi juga membaca ayat-ayat- kontekstual, seperti tanda-tanda atau fenomena alam, dan perilaku manusa dalam kehidupan sehari-hari.
Ayat-ayat tekstual yang tercantum dalam Al Quran perlu diaktualisasikan. Misalnya, perintah Allah untuk menyantuni fakir miskin dan anak yatim diaktualisasikan dengan dengan menyantuni dan melindunginya. Perintah untuk jadi pemimpin yang amanah diaktualisasikan dengan tidak korupsi. Larangan berbuat kerusakan di muka bumi diaktualisasikan dengan membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon, menjaga dan memelihara alam dan lingkungan.
Literasi adalah sebuah cermin kebudayaan. Dengan kata lain, manusia yang melek literasi bisa dikatakan sebagai manusia berbudaya. Selain itu, literasi juga bisa dijadikan sebagai sarana menyebarluaskan budaya. Literasi jangan hanya diidentikkan dengan baca dan tulis, tetapi  juga literasi budaya. Generasi muda harus mengenal dan melestarikan budaya daerah sendiri dalam rangka memperkuat dan melestarikan budaya nasional. Di sekolah-sekolah, para siswa jangan hanya diberikan pendidikan yang berorientasi kurikulum formal tetapi juga kurikulum pendidikan berbasis budaya daerah.
Siswa diperkenalkan dengan lingkungan tempat hidupnya, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Anak laki-laki di desa diperkenalkan bidang pertanian dan peternakan supaya kelak dia bisa mandiri berusaha, sedangkan anak perempuannya diberikan keterampilan menyulam, menjahit, dan memasak supaya nantinya bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Walaupun bekerja atau menjadi wanita karier, dia tetap tidak lupa terhadap kodratnya sebagai perempuan. Ini juga bisa disebut sebagai literasi, yaitu memberikan pendidikan kepada anak laki-laki dan perempuan sesuai dengan kodratnya masing-masing agar dia melek terhadap hak dan kewajibannya baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari anggota masyarakat.
Hal ini menjadi dasar dan bekal bagi mereka untuk menjadi makhluk yang berbudaya. Walau demikian, jangan terlalu terlena dengan kegiatan literasi, karena program yang saat ini sedang ramai digalakkan di sekolah ini hanya salah satu jalan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kadang-kadang kegiatan ini penuh dengan acara seremonial dan simbolik, tapi dalam perkembangannya terseok-seok.
Membentuk literasi sebagai sebuah budaya bukan hal yang mudah. Masyarakat Indonesia masih dominan dengan budaya lisan. Orang bisa betah ngobrol atau bicara berjam-jam, tetapi belum tentu kuat kalau disuruh untuk menulis. Seorang guru mengajar dari pagi sampai sore. Tidak kehabisan kata-kata, tetapi belum tentu lancar ketika diminta menuliskan refleksi setelah selesai pembelajaran, atau mengalami kesulitan ketika diminta untuk menuliskan karya tulis ilmiah.
Membangun budaya literasi perlu kesungguhan semua pihak, utamanya harus dimulai dari keluarga. Orang tua perlu memberikan contoh untuk rajin membaca sekaligus membimbing anak-anaknya membaca, menyediakan buku-buku bacaan bagi anak-anaknya, menyempatkan waktu dalam sehari untuk membaca. Begitupun di sekolah dan masyarakat. Di sekolah pembudayaan literasi harus dimulai dari guru dan di masyarakat perlu ada penciptakaan kondisi yang mendukung kegiatan literasi seperti munculnya Taman Bacaan Masyarakat (TBM).

Aktivitas literasi akan melahirkan manusia yang berbudaya. Budaya membaca, budaya menulis, budaya mengemukakan pendapat secara santun, dan membangun budaya berpikir secara konstruktif, serta budaya-budaya lainnya untuk membangun masyarakat yang beradab. 

0 comments:

Post a Comment