Home » , , » ANAK MENGGUGAT IBU KANDUNG DAN KISAH SEEKOR KUCING BETINA

ANAK MENGGUGAT IBU KANDUNG DAN KISAH SEEKOR KUCING BETINA

Siti Rohayah, seorang ibu di Garut yang digugat anak kandungnya ke Pengadilan gara-gara urusan utang-piutang. (Foto : detik.com) 

ANAK MENGGUGAT IBU KANDUNG DAN KISAH SEEKOR KUCING BETINA
Oleh:
IDRIS APANDI
(Widyaiswara LPMP Jawa Barat, Ketua Komunitas Pegiat Literasi Jabar/KPLJ)

Saat ini media banyak memberitakan tentang sang anak yang menggugat ibu kandung di Garut sebesar 1,8 milyar gara-gara urusan utang piutang sebesar 20 juta. Banyak kalangan marah dan mencapnya sebagai anak durhaka alias malinkudang abad 21. Di jaman modern, kasus-kasus seperti itu sebenarnya bukan yang pertama. Ada anak kandung yang mengabaikan, membuang, menganiaya, bahkan tega membunuh orang tua kandungnya. Naudzubillah. Zaman sekarang memang dikatakan zaman edan atau akhir zaman karena cukup banyaknya anak yang durhaka kepada orang tua.
Sebuah pribahasa mengatakan “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.” Kasih ibu ibarat mata air yang tidak pernah kering, terus mengalir kepada anaknya sampai akhir hayat. “leutik ku leutikna, gede ku gedena. Angger kolot mah hariwang” itulah ungkapan yang sering muncul di masyarakat sunda yang menggambarkan kecemasan orang tua kepada anaknya. Sang anak waku kecil dipelihara, sudah remaja khawatir dengan pergaulannya, dan walau sudah berkeluarga pun orang tua khawatir takut anaknya tidak makan atau cucunya tidak terurus. Itulah luar biasanya seorang ibu. Satu ibu mampu mengurus sepuluh anak, tapi sepuluh anak belum tentu mampu mengurus satu ibu dengan berbagai alasan.
Di tengah keprihatinan berkaitan kasus anak menggugat ibu kandungnya, pagi ini, Saya mendapatkan pelajaran tidak terduga dari seekor kucing betina. Saya hendak mau mengambil buku yang Saya simpan di dus, dan Saya terkejut dan terhenyak ketika membuka kardus tersebut. Ada suara mendesis, ternyata ada seekor kucing betina dengan pandangan mata yang tajam, mulut menganga, terlihat taringnya tajam seperti siap menerkam. Didekatnya ada tiga anak kucing yang sedang menyusu padanya. 
Sang kucing betina tampak tidak bersahabat karena merasa terganggu oleh Saya. Sang kucing terus memandangi Saya hingga akhirnya Saya memutuskan menutup kardus karena khawatir menganggu sang kucing yang sedang menyusui bayi yang sedang disusuinya. Saya tidak jadi mengambil buku.
Dalam hati Saya bergumam, kucing atau hewan pada umumnya begitu sayang pada anaknya, apalagi manusia sebagai makluk yang berbudi dan berakal. Tetapi kenyataannya tidak demikian, ada bayi yang diaborsi, dibuang, atau dibunuh ibu kandungnya dengan berbagai alasan. Pun sebaliknya, ada anak yang tega menyakiti perasaan bahkan menghabisi nyawa orang tua kandung, dengan beragam alasan pula.
Cerita anak durhaka kepada orang tua sebenarnya sudah terjadi sejak zaman nabi Adam ketika Qabil tidak taat terhadap perintah Allah SWT melalui ayah kandungnya yaitu Nabi Adam AS untuk berkurban dengan hal yang baik. Dia malah berkurban dengan gandum yang jelek. Dia pun membunuh saudara kandungnya, yaitu Habil karena tidak terima dia menikahi saudara kembarnya, yaitu Iqlima.
Setelah itu, muncul kisah Kan’an, anak Nabi Nuh yang menolak ajakan ayahnya untuk beriman kepada Allah hingga dia pun celaka oleh kelakuannya sendiri. Dalam perkembangan berikutnya, ada kisah dari tanah Sumatera Barat, yaitu kisah Malinkundang yang dikutuk jadi batu, karena durhaka kepada sang ibu yang begitu sangat mencintainya.
Di abad modern ini, banyak sekali Malinkundang dengan cara dan gaya baru, walau pun mungkin tidak merasa berperilaku seperti seorang Malinkundang. Hal tersebut tentunya sangat memperihatinkan. Agama Islam memerintahkan agar setiap anak berbakti dan memuliakan orang tua, meminta doa restu untuk kesuksesannya. Dan tanpa diminta pun, sebenarnya orang tua tetap memanjatkan doa bagi anak-anaknya.
Dalam konteks pendidikan, fenomena anak durhaka kepada orang tuanya, dapat disebabkan oleh dua hal. Pertama, sang anak kurang mendapatkan pendidikan yang layak dan kasih sayang orang tua. Anak merasa diabaikan atau bahkan diacuhkan oleh orang tua, sehingga ada semacam perasaan ingin membalas perlakuan yang diterima tersebut. Kedua, anak mendapatkan pendidikan yang baik. Dia menjadi sosok yang cerdas secara intelektual, tetapi tidak memiliki akhlak yang baik. Akibatnya, dia menjadi sosok yang sombong, lupa diri, takabur, dan suka merendahkan orang lain, bahkan terhadap orang tuanya sendiri.

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah anak yang durhaka kepada orang tuanya adalah orang tua harus memberikan fondasi pendidikan agama yang kuat kepada anak-anaknya, membuka ruang komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, menyayanginya tidak dengan berlebihan, keinginan anak serba dituruti, menanamkan disiplin, dan sebagainya. Sang anak pun harus menanamkan dalam dirinya bahwa orang tua adalah keramat. Ridho Allah karena ridho dari kedua orang tua, begitupun murka Allah, karena murka kedua orang tua. 

0 comments:

Post a Comment