Home » » SEKOLAH MENULIS KPLJ

SEKOLAH MENULIS KPLJ



Logo KPLJ. (Dok. Pribadi)


SEKOLAH MENULIS KPLJ
Oleh:
IDRIS APANDI

Komunitas Pegiat Literasi Jabar (KPLJ) yang berdiri tanggal 29 Oktober 2016 dilatarbelakangi adanya sekelompok guru dan tenaga kependidikan yang memiliki hobi dan minat ingin belajar menulis. Umurnya bisa dikatakan masih baru seumur jagung, tapi alhamdulillah mendapatkan respon yang cukup tinggi dari para guru dan tenaga kependidikan di Jawa Barat.
Walau masih ada yang “malu-malu”, kurang percaya diri, tereliminasi, atau mengeliminasi diri dari grup, tetapi secara umum anggota grup WA KPLJ sangat aktif memosting karya dan berdiskusi tentang dunia literasi dan pendidikan, diselingi dengan canda dan kelakar segar agar tidak terlalu monoton.
Ratusan chat muncul setiap hari. walau Grup KPLJ tidak memokuskan diri pada menulis puisi, tetapi puisi menjadi tulisan paling pavorit di grup ini. Belasan puisi hadir setiap hari. Mungkin karena para anggota penyukanya puisi dan berjiwa pujangga. Oleh karena itu, tidak heran dalam tiga bulan sejak berdiri, KPLJ telah berhasil menerbitkan buku antologi puisi karya para anggotanya yang diluncurkan pada tanggal 19 Februari 2017. Cerita-cerita bersambung dan artikel sesekali mewarnai grup ini.
Buku BERPUISI BANGUN BUDAYA LITERASI karya anggota KPLJ. (Foto : Dokpri)

KPLJ sejak awal didirikan memang mendorong para anggota untuk menulis. sesederhana apapun sebuah tulisan diberikan apresiasi, minimal apresiasi untuk kemauan dan keberaniaannya menulis disaat banyak yang masih kurang percaya diri bahkan minder untuk menulis. Satu jempol sebagai bentuk apresiasi terhadap sebuah karya menjadi sebuah energi yang super untuk terus berkarya, walau Saya akui, kadang Saya sendiri kewalahan memberikan apresiasi atau komentar terhadap setiap postingan ditengah “banjir” puisi di KPLJ.
Walau demikian, sang penulis jangan menulis hanya bertujuan untuk mendapatkan jempol alias pujian, tapi untuk mengasah dan meningkatkan kemampuan menulis. Para pembaca pun diharapkan bukan hanya sekedar memberikan jempol, tetapi juga memberikan komentar, ulasan, atau saran sebagai umpan balik (feed back) terhadap tulisannya. Dari umpan balik tersebut, diharapkan ada diskusi yang konstruktif untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam menulis.
Dari umpan balik dan diskusi di grup, maka KPLJ menjadi sebuah “sekolah” menulis bagi para anggotanya. Anggota KPLJ diharapkan bermental pembelajar. Suatu saat bisa jadi “guru”, dan suatu saat bisa jadi “siswa”. Tidak ada yang menggurui atau merasa paling tahu. Warga KPLJ bersifat egaliter. KPLJ memang belum membuka sesi khusus untuk diskusi online tentang menulis, tetapi dari diskusi-diskusi yang telah dilakukan, sebenarnya telah terjadi interaksi dan transaksi ilmu dan pengalaman antarsesama anggotanya. Mungkin jika diperlukan, bisa juga dibuat semacam sesi diskusi khusus tentang menulis jenis karya tulis tertentu.
Ketika seminar atau pelatihan-pelatihan menulis terbatas oleh waktu, dan kadang-kadang kurang fokus, dan “hanya” mengejar sertifikat, Saya kira di Grup WA KPLJ diskusi bisa berlangsung kapan saja, dan dimana saja, tidak terbatas ruang dan waktu, meski tidak bersertifikat, yang penting ilmunya, karena urusan keterampilan menulis bukan hanya cukup dijejali dengan setumpuk teori, tetapi harus dibarengi dengan praktek.
KPLJ sebagai “sekolah menulis” Saya kira bukan ungkapan yang berlebihan karena pada dasarnya di grup ini banyak sekali ilmu yang bisa didapatkan. Para anggota memiliki latar belakang yang beragam dan memiliki minat serta kompetensi yang beragam pula. “Kurikulum” pendidikannya justru muncul pada saat diskusi terhadap sebuah postingan. Jadi sangat cair, tergantung situasi, kondisi, dan kebutuhan pada saat itu.
Beragamnya latar belakang dan kompetensi SDM anggota KPLJ menjadi kentungan bahkan keunggulan tersendiri yang bisa terus dioptimalkan sekaligus diberdayakan, karena bisa saling mengisi dan saling melengkapi.
Grup WA KPLJ merupakan sebuah “sekolah virtual” bagi para anggota dalam meningkatkan kemampuan para anggotanya dalam menulis. Dalam prakteknya, KPLJ ingin menjadi sebuah “sekolah” yang aman, nyaman, dan ramah bagi para “peserta didiknya” sehingga tercipta iklim yang kondusif dalam menciptakan suasana pembelajaran yang efektif, menantang, dan menyenangkan.
Sebagai sekolah yang “ramah”, maka sangat dihindari sikap bully karena hal tersebut dapat melanggar “undang-undang” sekaligus bisa berdampak terhadap para “peserta didik” yang menjadi minder, tertekan, dan akhirnya ingin drop out dari “sekolah menulis” KPLJ. Mari belajar dan maju bersama di sekolah menulis KPLJ.

Penulis, Ketua Komunitas Pegiat Literasi Jabar (KPLJ).

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts