Home » » Menggenapi Bahasa dan Sastra Daerah

Menggenapi Bahasa dan Sastra Daerah

MENGGENAPI FAKTA MATI SURI BAHASA DAN SASTRA DAERAH

Bahasa dan sastra daerah adalah pengejawantahan dari tumbuh-kembangnya ragam budaya daerah, merupakan kekayaan budaya yang sangat mendukung dalam perkembangan budaya nasional. Melengkapi kekayaan budaya nasional. Dan saling menggenapi budaya yang satu dengan budaya lainnya dalam berbagai unsur budaya.
Menarik, ketika membaca tulisan Suyanto dalam ‘Menghidupi Sastra Etnik’, di Kompas minggu 26 Oktober 2015 lalu. Sehingga pikiran dan tangan saya berchemistry untuk meluangkan waktu supaya daya nalar saya berlangsung runut dan tidak rumit. Untuk itulah ucapan terima kasih saya kepada Suyanto. Karena secara tidak langsung telah memotivasi saya untuk giat berpikir dan menyikapi keadaan untuk mengkonkritkannya dalam bentuk tulisan, tentang beberapa fakta yang lambat laun akan menggerus kehidupan menjadi kematian sebuah bahasa dan sastra daerah.
Beliau mengungkapkan keadaan yang akan dihadapi oleh sastra etnik. Dan menggenapi tema yang tak banyak orang hirau. Perkembangan yang seperti dua sisi mata uang, dimana bahasa dan sastra yang diungkapkan dalam kebiasaan masyarakatnya, saling berdampingan. Serta saling memperkaya perbendaharaan kata masing-masing. Tulisan itu seperti oase di padang pasir, seperti hujan lebat menyapu kemarau yang panjang selama ini. Lebih jauh diungkapkan Suyanto, jika pemilik bahasa lokal sudah mulai malu menggunakan bahasanya sendiri dan lebih menyukai bahasa Indonesia atau bahkan lebih bergengsi menggenggam bahasa asing, maka tunggulah saatnya kematian bahasa dan sastra etnik itu. Dengan kata lain, jika masyarakat pengguna bahasa daerah sudah tidak mau lagi menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan kesehariannya, matisuri bahasa daerah itu sudahlah tiba.  Maka kematian bahasa dan sastra daerah itupun hanyalah tinggal menunggu waktu.
Semoga saja tulisan saya ini, turut menggenapi fakta yang beliau kemukakan tentang Sastra Etnik. Hanya saja, contoh-contoh yang akan saya kemukakan, dilatarbelakangi oleh bahasa daerah Sunda. Tak apalah, saya pikir. Sebab sastra daerah pun adalah hasil metamorphosis dari sebuah bahasa daerah.

Transformasi Bahasa Ibu
Dalam hidup keseharian, seringkali terpaparkan secara kasat mata di hadapan saya, keluarga muda yang beretnik sama, tapi lebih sering mentransformasikan kebiasaan yang menasional kepada anak-anaknya. Artinya, bahasa keseharian yang coba ditransformasikan dan dipakai menjadi bahasa pengantar dalam kehidupan sehari-hari mereka adalah bahasa Indonesia. Dengan begitu, anak sebagai generasi penerus, tidak lagi mengenal bahasa ibu-nya sendiri, bahkan tidak refleks berbahasa daerah (red. Sunda). 
Perhatikan sekelumit kejadian berikut. Seorang keponakan mencoba menggunakan istilah pancakaki (sebutan dalam silsilah keluarga) dengan memakai kata ‘emang’ untuk memanggil saya. Tapi, ibunya melarang. Eh, tidak sopan memanggil ‘emang’, panggil saja ‘om’ kata ibunya. Kemudian, karena aturan ibu muda yang katanya ibu modern dan dinamis itu, menjadikan anak-anaknya terbiasa dengan diksi ‘om’. Padahal dalam silsilah Sunda, terasa lebih mengenakan didengar kata ‘emang’ daripada mendengar kata ‘om’. Walaupun secara makna antara ‘emang’ dan ‘om’, sama saja artinya adalah paman.
Hal tersebut terjadi karena ada pemahaman sepihak yang tidak benar bahwa kata ‘emang’ telah mengalami penurunan level, sementara kata ‘om’ telah terjadi peningkatan level. Secara sosiokultural pun, kata ‘emang’ lebih banyak digunakan untuk seorang penarik becak, pedagang, tukang kebun, dll. Padahal justru, kata ‘emang’ yang lebih nyunda (red. memiliki nilai kesundaan). Itu merupakan salah satu kesalahan berpikir yang harus mendapat sorotan untuk mendapatkan pembenahan. Contoh lainnya, kata ‘bibi’, lebih nyunda daripada kata ‘tante’. Akan tetapi, lagi-lagi pengguna bahasa daerah itu sendiri yang senantiasa memberlakukan kata tersebut menjadi menurun secara makna. Kata ‘bibi’, dianggap oleh keluarga muda etnik Sunda, lebih banyak dipakai untuk menyebut seorang asisten rumah tangga. Sehingga muncullah anggapan bahwa kata ‘tante’ cenderung memiliki level yang lebih tinggi daripada kata ‘bibi’. Padahal tidak demikian adanya, tapi inilah salah satu fakta.
Harus ada kesepahaman bersama dalam keluarga untuk tetap dan patuh pada budaya leluhur. Dan lebih mengedepankan bahasa daerah. Jika dua orang yang terikat dalam sebuah pernikahan etnik yang berbeda. Mau tak mau, suka tidak suka. Keluarga tersebut minimal bisa mempertahankan nilai-nilai bahasa etnik dari daerah tempat asal pasangannya.

Peran Pemerintah
Bahasa termasuk sastra etnik, akan bertahan atau bahkan mengalami kemajuan apabila pemerintah ikut berperan serta menumbuhkembangkan bahasa dan sastra etnik tersebut. Pemerintah bisa menunjuk Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, untuk mempertahankan pilar-pilar budaya lokal.
Pendidikan adalah menjadi salah satu bagian yang bisa menjadikan bahasa dan sastra daerah bertumbuh-kembang. Bahasa dan sastra daerah, harus mendapat porsi yang sama untuk menjadi mata pelajaran (mapel) dalam sebuah satuan pendidikan (red. sekolah). Oleh sebab itu pemerintah harus mendudukan bahasa dan sastra daerah setara dengan bahasa Indonesia maupun bahasa asing yang selama ini diajarkan di sekolah. Apabila pemerintah salah mengambil sebuah keputusan, apalagi berhubungan dengan terobosan dalam pendidikan, lambat laun justru akan mengikis keberadaan bahasa dan sastra daerah itu sendiri.
Sebagai contoh, ketika seorang pengawas Diknas kota, mengeluarkan keputusan bahwa bahasa dan sastra daerah di tingkat satuan pendidikan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) harus disatukan dengan mapel Seni Budaya. Agak membingungkan jika dilakukan dalam pengajaran. Memang bahasa dan sastra sebagaimana kita ketahui adalah bagian dari sebuah budaya. Terlahir dari sebuah kreatifitas manusia dalam berkomunikasi. Akan tetapi hal itu telah memposisikan bahasa dan sastra etnik kedalam posisi yang tidak unik. Guru yang berkompetensi bahasa dan sastra etnik, mau tidak mau harus mampu mengajarkan seni kepada anak didiknya. Hal ini, akan memicu perubahan, ‘incompeten’ bisa menjadi uncompeten. 
Bidang ilmu yang bersebelahan itu ibarat dua sisi mata uang akan tetapi memiliki enas-enas pengajaran yang berbeda. Transformasi bahasa dan sastra etnik kepada siswa akan menjadi sulit, karena semakin sempitnya ruang dalam pengajaran bahasa dan sastra etnik itu di sekolah. 
Pada akhirnya guru akan terjebak untuk memberi pengajaran seni secara umum dengan meninggalkan unsur etnik yang menjadi bidang kompetensinya. Seharusnya, bahasa serta sastra etnik itu diberi keleluasan ruang dan dihargai keberadaannya. Dengan demikian para guru bisa memposisikan diri sebagai guru bahasa dan sastra daerah. Dan sekaligus mentransformasikan kearifan budaya lokal secara terus menerus dan berkesinambungan. Sehingga bahasa dan sastra daerah akan memperoleh arah dan alur untuk tetap bertumbuh-kembang menjadi budaya lokal yang unik.
Akhirul kalam, semoga dengan mengajak setiap anggota masyarakat untuk mengenal budaya sendiri, secara informal. Serta keiikutsertaan pemerintah untuk berperan aktif dalam menumbuh-kembangkan bahasa dan sastra etnik secara formal. Akan menjadikan bahasa dan sastra etnik tetap terpelihara hidupnya dan terhindar dari keadaan mati suri di kemudian hari. Bahasa serta sastra daerah tidak akan padam dimakan jaman. Sehingga ada transformasi budaya kepada generasi yang lebih muda untuk mengenal jatidirinya sebagai bagian dari sebuah etnik, yang akan memperkaya keberagaman yang bernama budaya etnik asli Indonesia. 

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts