Home » » MENANAMKAN JIWA WIRAUSAHA KEPADA ANAK

MENANAMKAN JIWA WIRAUSAHA KEPADA ANAK





MENANAMKAN JIWA WIRAUSAHA KEPADA ANAK
Oleh:
IDRIS APANDI

Suatu hari, Saya dan istri Saya pulang dari suatu tempat. Kondisi hujan deras. Saya dan istri Saya berteduh di depan sebuah toko di daerah Batujajar. Sambil berteduh, pandangan Saya dan istri Saya tertuju kepada seorang anak, sebutlah namanya Andi yang dengan tangkas melayani pembeli di toko mainan yang berada disamping kami. Saya dengan seksama memperhatikan sikap dan cara berbicaranya kepada pembeli. Kami yang pada awalnya tidak ada niat membeli mainan, mendadak tertarik ingin masuk ke toko tersebut. 

Sekalian ada toko mainan, istri Saya ingin membelikan mainan untuk anak kami. Kondisi masih hujan. Ketika kami akan masuk ke toko, Andi mengingatkan kami dengan sopan agar kami melepaskan alas kaki agar lantai toko tidak kotor. Kami pun “menuruti” permohonannya. 

Disela-sela tawar menawar harga antara Andi dengan istri Saya, pandangan mata Saya terus tertuju padanya. Lalu Saya ikut “nimbrung” bertanya padanya. Andi yang masih kelas V SD dengan sigap, tanpa malu-malu dia menjawab setiap pertanyaan kami. Andi sejak kelas I membantu orang tuanya berjualan di toko orang tuanya. Kalau sekolah masuk pagi, maka dia membantu setelah pulang sekolah sampai sore, dan jika masuk sekolah siang, dia membantu dari pagi sampai dengan sebelum waktu duhur.

Dia sudah tahu daftar harga-harga yang dijual ditokonya, tawar menawar harga dengan pembeli oleh sendiri, tidak lagi bertanya kepada orang tuanya. Dia terlihat  sangat berbakat menjadi seorang pedagang yang ulung. Begitu lancar dan percaya diri berkomunikasi dengan pembeli. Dia mampu merayu merayu dan meyakinkan pembeli untuk membeli dagangannya. Ketika istri Saya membayar, dia sendiri yang menghitung dan memberikan uang kembalian.

Kisah Andi mengingatkan Saya kepada program yang dijalankan oleh Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. Kang Dedi menyelenggarakan program pendidikan vokasional, dimana siswa dalam satu bulan, diminta satu hari untuk ikut ke tempat kerja orang tuanya. Tujuannya untuk mengenal, belajar, sekaligus membantu pekerjaan orang tuanya. Lalu siswa menyusun laporan kegiatan dan diserahkan kepada gurunya. 

Dalam konteks kecakapan hidup (life skill), hal tersebut merupakan bagian dari pendidikan kecakapan hidup. Siswa bukan hanya diberikan sekumpulan teori yang kadang membuat jenuh, tetapi juga diberi kesempatan dari lapangan. Hal tersebut kadang jauh lebih bermakna dan terasa dibandungkan dengan hanya belajar di dalam ruang kelas yang kadang membosankan.

Jiwa wirausaha perlu ditanamkan sejak dini. Pengertian wirausaha di sini, bukan hanya mengarahkan anak untuk jadi pedagang atau pengusaha, tetapi menanamkan nilai-nilai wirausaha ke dalam diri anak, seperti kemandirian, kerja keras, sungguh-sungguh, kreativitas, inovasi, berani mengambil resiko, dan sebagainya. 

Era globalisasi dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dihadapkan pada tantangan dan persaingan yang semakin ketat. Oleh karena itu, anak-anak sebagai generasi masa depan harus benar-benar disiapkan kemampuan dan mentalnya dalam menghadapi kehidupan yang akan semakin dinamis dan kompetitif.

Menanamkan jiwa kewirausahaan kepada anak bukan hal yang mudah. Apalagi kalau anak-anak dibesarkan dalam keluarga yang serba ada, serba difasilitasi orang karena dengan alasan orang tua sangat sayang pada anaknya. Ada kalanya sang anak menjadi cengeng dan mudah menyerah karena tinggal minta kepada orang tua. Atau sebaliknya, dia menjadi tinggi hati karena merasa orang tuanya orang kaya. Melatih jiwa wirausaha bisa dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana seperti merapikan kamar tidur, mencuci seragam sekolah, dan mencuci gelas dan piring bekas dipakai olehnya.

Dalam menanamkan jiwa wirausaha, kita harus belajar kepada para beberapa milyarder yang mendidik anaknya dengan keras. Zhang Xi, konglomerat Asal Tiongkok, meminta anaknya untuk bekerja jika menginginkan uang tambahan. Bill Gates, pendiri Microsoft tidak ingin mewariskan kekayaan kepada anak-anaknya, dan lebih memilih untuk menyumbangkan hartanya untuk kegiatan sosial. Bill Gates khawatir jika dia mewariskan hartanya yang banyak kepada anak-anaknya akan membuat mereka kehilangan arah. Bill Gates dan Melinda, sang istri hanya membekali anak-anaknya dengan pendidikan yang tinggi, dan setelah itu, mereka diberikan kebebasan untuk menentukan masa depan masing-masing.

Melalui pendidikan kewirauasahaan yang diawali dari dalam keluarga, mari kita siapkan anak-anak kita menjadi manusia Indonesia yang memiliki pengetahuan, terampil, dan memiliki kecakapan hidup agar siap menyongsong masa depan yang penuh tantangan.

Penulis, Praktisi Pendidikan, Pegiat Literasi pada KPLJ.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts