Home » , » MEMBANGUN KEBIASAAN ANAK BERSEDEKAH

MEMBANGUN KEBIASAAN ANAK BERSEDEKAH


Kebiasaan sedekah perlu dibiasakan sejak dini.

MEMBANGUN KEBIASAAN ANAK BERSEDEKAH
Oleh:
IDRIS APANDI

Saat itu, menjelang shalat Jumat. Semua jamaah sudah berada dalam shafnya Jumat. Pada shaf paling depan, ada seorang anak yang bertanya kepada ayahnya yang berada di samping kanannya. “Abi, bawa uang berapa?” Tanya seorang anak kepada ayahnya yang berada di sampingnya. Ayahnya hanya menempelkan jarinya ke mulutnya tanda bahwa anak dilarang berbicara.
Lalu sang Ayah memperlihatkan uang yang telah dilipat untuk dimasukkan ke kotak amal yang biasa diedarkan. Dan kotak amal pun datang. Sang Ayah memasukkan uang, dan ternyata sang anak pun tidak mau kalah dengan ayahnya. Dia pun membawa uang untuk dimasukkan ke kotak amal. Sang Ayah melihatnya sambil tersenyum. Dalam hatinya, dia merasa bangga terhadap hal yang dilakukan oleh anaknya. Mau beramal dan mau peduli terhadap orang lain.
Selain mengisi kotak amal masjid, jika ada kotak amal di minimarket juga sang ayah melatih anaknya untuk beramal. Sang ayah tidak memasukkan uang secara langsung ke kotak amal, tetapi meminta sang anak untuk memasukkannya. Hal ini bertujuan agar anak terbiasa bersedekah.
Jika melancong ke sebuah tempat, orang tua memberikan pelajaran kepada sang anak untuk memperhatikan lingkungan sekitar. Di waktu maghrib, ada anak yang memulung sampah di saat anak-anak yang lain mengaji atau belajar di rumah. Ada yang hujan-hujanan menjadi ojek paying demi mengais rupiah. Ada yang mengamen, menjadi penjual asongan, dan sebagainya. Hal ini bertujuan agar sang anak bersyukur dan memiliki empati terhadap saudara-saudaranya yang bernasib kurang baik.
Melatih kepekaan dan kepedulian sosial sangat penting ditanamkan sejak dini. Membantu bukan hanya pada saat sedang berpunya, tetapi juga dalam keadaan sulit. Membantu adalah soal hati, dan soal perhatian, bukan soal punya atau tidak punya. Membantu bukan hanya dengan materi, tapi juga dengan doa.
Walau tidak dapat dipungkiri muncul kelas-kelas menengah baru seiring dengan meningkatnya penghasilan, tetapi kesenjangan sosial saat ini masih terjadi di masyarakat.  Bahkan semakin lebar. Yang kaya makin kaya, dan miskin makin miskin. Oleh karena itu, mentalitas untuk membantu perlu terus ditumbuhkan di kalangan masyarakat.
Membangun kebiasaan sedekah kepada anak tentunya disesuaikan dengan usia, tingkat perkembangan berpikir, dan lingkungannya. Misalnya di sekolah, madrasah, hingga lingkungan bermain. Belajar untuk memberikan bantuan-bantuan kecil kepada teman-temannya, menghadiri acara-acara bakti sosial atau amal, membawanya ke panti sosial, dan membiasakannya untuk memberikan bantuan secara langsung. Dalam konteks pembelajaran, hal tersebut akan memberikan pengalaman belajar kepada anak. Belajar melalui pengalaman atau praktek jauh lebih bermakna dibandingkan dengan hanya sebatas teori.
Al Quran dan hadits telah banyak menerangkan tentang keutamaan sedekah. Selain berpahala, diganti dengan balasan yang berlipat ganda, sedekah juga dapat menolak musibah. Hal ini perlu ditanamkan kepada anak-anak oleh orang tuanya melalui pengajaran dan keteladanan dari orang tuanya. Kalau perlu dibiasakan menyisihkan uang jajan untuk sedekah. Misalnya satu hari seribu rupiah.
Ketika sang anak rajin bersedekah, orang tua pun perlu memberikan pujian, apresiasi, dan motivasi agar anak terus bersemangat untuk bersedekah. Walau demikian, harus ditekankan bahwa sedekah adalah ibadah yang perlu dilakukan dengan ikhlas, jangan riya atau ingin dipuji orang lain, atau menjadi sombong, karena pahalanya akan hilang.
Ketika kebiasaan bersedekah telah ditanamkan sejak dini, maka diharapkan solidaritas dan kepedulian sosial akan semakin tumbuh dan berkembang. Akan muncul-muncul kader-kader baru pegiat sedekah. Umat Islam sebagai umat mayoritas di Indonesia adalah potensi sekaligus aset yang sangat luar biasa untuk mau membantu sesama. Walau tentunya membantu bisa kepada siapa saja. Tidak mengenal agama dan suku bangsa.
Sedekah disamping bentuk kesalehan individual, juga merupakan bentuk kesalehan sosial, karena manusia juga pada hakikatnya makhluk yang memiliki dua dimensi, baik sebagai seorang individu, maupun sebagai makhluk sosial. Secara pribadi yang dilakukannya secara ikhlas akan mendapatkan pahala dari Allah SWT, dan secara sosial akan membangun solidaritas, memperkuat silaturahmi, dan keluargaan. Walau tidak dipinta, untaian doa akan mengalir dari orang-orang yang telah dibantu. Kita tidak tahu bahwa kesehatan, keselamatan, dan kelancaran rezeki adalah berkat doa-doa dari mereka. Pintu-pintu langit diketuk melalui doa-doa tulus mereka.

Penulis, Praktisi dan Pemerhati Pendidikan.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts