Home » » Memaknai Falsafah Sunda

Memaknai Falsafah Sunda

Metamorposis dari Masa Lalu
     Jaman baheula, seringkali orang Sunda memahami sebuah falsafah sebagai bahan renungan dan pedoman dalam mengarungi bahtera kehidupan. Ber-etika adalah hal yang sering ditradisikan dengan kuat. Sehingga dari kekuatan tradisi itulah kita, generasi mutakhir; melek teknologi yang paling akhir, bisa merasakan kearifan budaya lokal Sunda tersebut.
     Berawal dari Sebuah falsafah sejarah Galunggung:
HANA NGUNI HANA MANGKÉ TAN HANA NGUNI TAN HANA MANGKÉ AYA MA BEUHEULA AYA NU AYEUNA, HANTEU MA BEUHEULA HANTEU NU AYEUNA
     Pemahaman dari falsafah itu begini:
ADA DAHULU ADA SEKARANG, TAKADA DAHULU TAKAN ADA SEKARANG. ADA JAMAN DAHULU ADA  JAMAN SEKARANG, TIDAK ADA JAMAN DULU, MAKA TAKAN ADA JAMAN SEKARANG.
      Hal tersebut dititipkan oleh seorang raja Sunda bernama RAKÉYAN DARMASIKSA, yang hidup di tahun 1175-1297 M, bahwa kekinian tidak akan berdiri sendiri. Kekinian selalu berakar dari masa lalu. Pemahaman inilah yang  menjadi dasar bahwa kita sebagai pewaris dari masa lalu, seharusnya sudah mulai berpikir mengenai apa yang telah dan akan kita wariskan untuk anak cucu kita sebagai generasi yang akan datang.
     Berpikiran maju adalah berproses kreatif hari ini, sebagai tanaman Kita di masa depan. Bukan berpikir apa yang telah kita dapatkan. Bukan berpikir apa yang telah kita hasilkan. Tapi berpikirlah, kebaikan apa yang sudah kita semaikan untuk dipanen keturunan kita di masa yang akan datang. Toh, adanya hari ini karena kerja keras orang-orang tua di masa lalu. Dan orang tua kita pun, adalah pewaris dari orang tua mereka yang kreatif sebagai para pendahulu mereka.
     Alkisah ada seorang tua yang walaupun dengan tubuh Renta, Tapi berusaha menanam bibit buah korma. Digalinya tanah dengan sabar. Tak berapa lama, seorang pemuda menghampiri sambil tersenyum setengah mengejek, lalu bertanya pada orang tua tersebut. "Ke, kenapa kakek menanam bibit kurma itu? Bibit yang kakek tanam itu, toh tidak mungkin akan kakek panen, tidak mungkin akan kakek nikmati hasilnya nanti." Kemudian kakek itu menjawab sambil tersenyum pula ke arah pemuda itu. "Hei Anak muda, bukankah kurma, yang kau rasakan sekarang ini bukan hasil yang telah kau tanam? Bukankah kurma-kurna itu justru dari hasil kerja keras orang-orang tua dari generasi sebelum kamu? Kalau bibit kurma ini kakek tanam sekarang, kurma yang akan dipanen nanti mudah-mudahan akan dinikmati oleh generasi setelah kakek."
     Harus berpikir warisan apa yang akan kita beri untuk generasi setelah kita. Bukankah jaman sekarang ada karena jasa-jasa para pendahulu kita.
Bukankah buah-buahan yang kita makan sekarang pun, karena jasa orang tua para pendahulu kita. Semoga kita bisa mengambil makna dari apa yang tersurat dan yang tersirat. Aamiin.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts