Home » , » KPLJ SEBAGAI AGEN PERUBAHAN

KPLJ SEBAGAI AGEN PERUBAHAN


KPLJ SEBAGAI AGEN PERUBAHAN
KPLJ harus menjadi agen perubahan. (Gambar : s3.amazonaws.com)
Oleh:
IDRIS APANDI

Komunitas Pegiat Literasi Jabar (KPLJ) sejak didirikan memiliki visi sebagai organisasi yang keberadaanya memberikan manfaat, minimal oleh anggotanya dan umumnya oleh masyarakat dalam membangun dan membumikan budaya literasi. Jika merujuk kepada salah satu hadits Rasulullah Saw., yaitu “sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.” Artinya, setinggi apapun ilmu dan gelar kependidikan yang dimiliki oleh seseorang, jika hanya dimanfaatkan untuk diri sendiri, tidak akan meninggalkan jejak kebaikan bagi orang lain. Dia hanya ingin menjadi orang baik bagi dirinya sendiri, dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitar.
Pun demikian dengan para anggota KPLJ, selain secara individu dia terus meningkatkan kualitasnya, dia pun dengan segala kelebihan dan kelemahan yang dimilikinya tetap berbagi ilmu dan pengalaman baik terhadap sesama anggota maupun dengan pihak lain, menyebarkan semangat berliterasi kepada sesama.
Dalam sebuah kesempatan, Saya mendapatkan keluhan dari salah seorang anggota KPLJ terhadap rendahnya atau bahkan tidak adanya respon dari rekan-rekan sejawatnya terhadap ajakannya bergabung di KPLJ. Saya katakan, tidak masalah, Mungkin mereka belum tahu atau kenal dengan KPLJ. Sudah kenal, tapi belum cinta, sudah cinta, tapi masih malu mengutarakan perasaannya.
Saya melihat ini sebuah proses. Kalau belum suka jangan dipaksa. Nanti juga kalau sudah cinta tidak akan beranjak pergi. Cinta membuat suatu yang berat menjadi ringan, membuat sesuatu yang susah diakali supaya mudah. Ibaratnya, kalau cinta sudah melekat, gula jawa rasa cokelat.
KPLJ tidak ingin besar sendiri, tapi mampu menjadi agen perubahan bagi masyarakat, utamanya dalam menggerakkan budaya literasi yang masih rendah. Hakikat sukses bagi KPLJ adalah apabila semakin banyak anggota yang berani “unjuk gigi” memperlihatkan karyanya, dan semakin banyak warga-warga baru yang ingin belajar meningkatkan kemampuannya dalam menulis.
Menulis adalah mengikat makna. Menulis adalah mengukir sejarah. Menulis adalah meningkatkan kualitas peradaban, dan menulis adalah sebuah warisan yang tidak bernilai bagi keluarga dan manusia pada umumnya. Banyak penulis yang telah tiada, tapi karyanya terus dibaca, mengubah pola pikir, dan mengubah dunia.
KPLJ selama keberadaannya berharap menancapkan jejak di hati para anggotanya pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Satu-satu demi karya bermunculan. Satu demi buku diterbitkan. Walau kata orang buku yang diterbitkan oleh sendiri, kurang bergengsi dibandingkan dengan buku yang diterbitkan oleh penerbit mayor. Apapun bentuk penilaian orang lain, minimal sudah berusaha untuk berkarya untuk meraih asa menjadi seorang penulis.
Ketika KPLJ ingin menjadi sebuah agen perubahan, maka tentunya para anggotanya harus harus mampu mengubah pola pikirnya terlebih dahulu, bermental pembelajar, terbuka, siap menerima ide-ide baru, tidak besar kepala ketika dipuji, dan bijak dalam menerima kritik.
Ketika mental-mentalnya sudah terbentuk secara matang, maka para anggota akan menjadi para agen perubahan yang kokoh, walau tidak dapat dipungkiri bahwa mempertahankan semangat dan ritme menulis bukan hal yang mudah. Ada kalanya seorang penulis hebat pun mengalami masa-masa jenuh, kualitas dan kuantitas tulisannya menurun. Hal tersebut manusiawi, perlu sejenak beristirahat, memulihkan kondisi fisik dan psikis. Ketika sudah pulih, aktivitas menulis kembali dilanjutkan.
Selain itu, Para anggota KPLJ akan dapat menjalankan perannya sebagai agen perubahan dengan baik jika telah menghasilkan karya-karya, sehingga lebih percaya diri dalam melakukannya. Oleh karena itu, Saya tidak bosan-bosannya mengajak kepada semua anggota KPLJ untuk terus berkarya sesederhana apapun, yang penting berkarya.
KPLJ dalam menjalankan perannya tentunya tidak dapat sendirian. Perlu merangkul dan bersinergi dengan berbagai pihak terkait. KPLJ tidak punya kekuasaan dan kewenangan, hanya punya idealisme. KPLJ lahir dari akar rumput yang peduli dan cinta terhadap dunia literasi. KPLJ ingin menjadi bagian dari penyampai pesan ilahiah yaitu, iqro, yang artinya bacalah, dan dalam konteks yang lebih luas dimaknai dengan belajar. Bukankah manusia diwajibkan untuk belajar semenjak dilahirkan sampai masuk ke liang lahat.
Kepada keluarga besar KPLJ, mari kita rapatkan barisan, satukan kekuatan, saling menguatkan, dan saling melengkapi untuk menjadi agen-agen perubahan. Menjadi sosok yang bermanfaat bagi sesama dan lingkungan.

Penulis, Ketua Komunitas Pegiat Literasi (KPLJ).

0 comments:

Post a Comment