Home » , » KPLJ, KETIKA MENERBITKAN BUKU MENJADI MUDAH

KPLJ, KETIKA MENERBITKAN BUKU MENJADI MUDAH

Logo KPLJ (Dok. Pribadi)


KPLJ, KETIKA MENERBITKAN BUKU MENJADI MUDAH
Oleh:
IDRIS APANDI

Beberapa hari ini Saya dihubungi (baca =dijapri) oleh beberapa orang anggota Komunitas Pegiat Literasi Jabar (KPLJ). Mereka menyampaikan keinginannya untuk menerbitkan buku secara mandiri setelah beberapa kali mereka menulis buku secara “keroyokan”. Dari pembicaraannya, Saya menangkap semangat yang sangat luar biasa dalam hati mereka untuk menulis, berkarya, menyebarkan gagasan, mengukir sejarah, meninggalkan jejak pemikiran mereka ketika suatu saat mereka telah tiada.
Saya yang kebetulan diamanahi menjadi Ketua KPLJ merasa sangat senang dan mendukung sepenuhnya rencana tersebut. KPLJ adalah “rumah” yang terbuka bagi para peminat menulis, sarana untuk belajar, berdiskusi, saling berbagi informasi, pengetahuan, dan pengalaman dari para anggotanya.
Setelah didirikan tanggal 29 Oktober 2016, KPLJ terus menebar “virus” literasi khususnya kepada para anggota, dan umumnya kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan menulis, seminar, dan menerbitkan buku. Di KPLJ, Saya mencium aroma semangat literasi yang luar biasa dari para anggotanya.
Dulu, mungkin menerbitkan buku dianggap hanya sebuah hayalan dan sebuah kemustahilan, karena memang sulit untuk mampu menembus penerbit. Dalam menerbitkan buku, sebuah penerbit mayor bukan melihat kualitas dari tulisannya, melainkan mempertimbangkan apakah buku tersebut akan laku atau tidak. Penerbit mayor berpikir untung dan rugi, oleh karena itu, wajar mereka mempertimbangkan menerima atau tidak sebuah naskah.
Saat ini, mitos tersebut ingin diubah oleh KPLJ. Menerbitkan buku yang tadinya sulit menjadi mudah. KPLJ bekerja sama dengan penerbit menerbitkan buku secara mandiri (self publishing), kalau istilah Saya adalah “keroyokan.” Dan hal tersebut telah dibuktikan dengan terbitnya buku “Berpuisi, Bangun Budaya Literasi (Sebuah Antologi)” yang terbit pada bukan Februari 2017.
Label penerbit mayor maupun self publishing hanya soal istilah saja, sedangkan produknya pada dasarnya sama saja, yaitu sama-sama buku, sama-sama ber-ISBN pula. Bedanya hanya dalam pendanaan saja. Penebit mayor mendanai sendiri buku yang akan dijual, sedangkan buku yang di terbitkan secara self publishing, biaya ditanggung sendiri oleh penulisnya.
Beberapa orang anggota KPLJ tersebut saat ini tengah berjuang, berjibaku, dan berpacu dengan waktu menyusun naskah buku. Jumlah buku yang dicetak mungkin tidak banyak. Tujuan utama mereka adalah mereka ingin mendokumentasikan karya-karya mereka dan mendapatkan kepuasan batin. Adapun kalau ada yang berminat dan dijual, itu hanya jadi bonus saja.
KPLJ di tengah usianya yang masih seumur jagung, terus memotivasi para anggotanya untuk menulis. Seperti yang selalu Saya sampaikan, menulislah dengan  merdeka, dan nikmati prosesnya, sehingga suatu saat kita akan menemukan karakter diri sendiri dalam menulis.
Untuk para anggota penulis pemula, jangan khawatir tulisannya tidak berkualitas, karena faktanya memang banyak demikian. Tidak perlu pungkiri. Walau demikian, justru hal tersebut adalah bagian dari proses. Bukan jadi sarana untuk minder atau jadi sasaran bully, tetapi jadi sarana untuk saling menguatkan dan saling memotivasi. Seperti apapun kualitas sebuah tulisan, kalau sudah diterbitkan menjadi buku, akan terasa nikmat bangga karena punya karya sendiri. Yang penting tulisannya tidak provokatif dan menyebarkan isu SARA.
Untuk buku-buku fiksi, sang penulis bisa bermajinasi dengan bebas, menggunakan bahasa tetapi untuk buku-buku non fiksi, seperti buku teks atau buku pelajaran, sang penulis harus mengacu kepada berbagai referensi. Tidak dapat mengarang secara bebas. Sisi keilmiahannya harus terlihat. Menulislah sesuai dengan passion masing-masing, jangan melawan hati nurani, karena hal tersebut akan menjadi beban.
Saya optimis bahwa dari “rahim” KPLJ akan lahir penulis-penulis baru yang produkitf dan memiliki semangat yang tinggi untuk terus berkarya. Setiap hari, belasan bahkan puluhan puisi dihasilkan. Jika terus dikumpulkan dan dikompilasi, maka seseorang bisa menerbitkan antologi puisi secara mandiri. KPLJ memberikan kebebasan kepada para anggotanya untuk menulis, tentunya dengan terus meningkatkan kualitasnya secara berkelanjutan. KPLJ juga tidak mau dicap sebagai organisasi yang asal menerbitkan buku. Ayo terus menulis saudara-saudaraku. Targetkan dalam satu tahun minimal mampu menerbitkan satu buah buku, dan rasakan apa yang terjadi.

Penulis, Ketua Komunitas Pegiat Literasi Jabar (KPLJ).

0 comments:

Post a Comment