Home » » Tips Mendidik Anak : Terima Anak vs Melarang

Tips Mendidik Anak : Terima Anak vs Melarang




Berkomunikasi dengan anak maupun murid di sekolah susah-susah gampang. Apalagi untuk kami yang mengajar di sekolah yang tidak memperbolehkan 3M (Marah, Menyuruh, dan Melarang). Guru maupun orang tua harus pandai memilih kalimat agar anak mau mengikuti maksud mereka. Salah-salah menggunakan kata atau kalimat, akan menciptakan komunikasi yang tidak baik. Ujung-ujungnya terjadi kerenggangan diantara hubungan orang tua atau guru dan anak.
Berkomunikasi yang Baik dengan Anak
Ketika ingin melarang anak melakukan sesuatu, alih-alih mencegahnya, memberikan informasi kenapa itu tidak boleh dilakukan serta apa yang harus dilakukan, akan memberikan dampak yang lebih baik ketimbang melarang secara langsung. Sebagai contoh dalam sebuah kasus ketika melihat  anak kelas rendah (kelas 1-3) yang seharusnya tetap berada di lantai bawah tiba-tiba naik ke atas (Bangunan level 2). Nah, respon mana yang guru tunjukkan?
Pertama, dari bawah tangga guru berteriak “Tidak ada yang ke ataas! Teman-teman tidak ada yang ke atas. Semua anak kelas 1 ada di bawah!”. 
Atau respon kedua, Guru mendekati anak lalu bertanya “Mau ke atas? Ada perlu apa?” 
Biarkan anak menjawab sehingga guru mendapatkan informasi. Misal “Mau ambil sapu…,” Kata anak. 
Dan guru berbicara lagi “Oh, naik ke atas untuk ambil sapu. Di bawah juga ada sapu. Kita bisa gunakan sapu yang ada di bawah.”
Jujur, kalau jadi murid saya akan memilih respon kedua. Kenapa? Karena di respon yang kedua ini, anak merasa diterima. Diterima bahwa dia ke atas untuk mengambil sapu. 
Komunikasi yang Berterima
Salah satu kunci komunikasi yang baik adalah komunikasi yang berterima. Jika sudah merasa diterima, anak pun akan mudah menerima informasi yang kita berikan. Disinilah muncul pola komunikasi yang baik antara guru dan anak. Efeknya komunikasi yang baik akan membuat hubungan antara guru dan anak menjadi hangat.
Menerima anak membuat dia merasa dihargai sehingga dia belajar memiliki perasaan yang baik tentang dirinya. Dia akan merasa nyaman dan merasa disayangi. Anak-anak yang sudaj merasa nyaman dengan kehadiran kita akan mudah berbagi perasaan.
Khawatir dan Takut Tidur Sendiri
Contoh kasus lain adalah Echa, gadis kecil berusia 7 tahun yang baru duduk di kelas 1 SD. Echa baru saja mendapatkan kamar barunya setelah sebelumnya tidur bersama orang tuanya. Namun ketika akan tidur, Echa berkata kepada mamanya :
“Aku mau sama mama aja. Aku takut tidur sendirian.”
Ketika mama merespon dengan kalimat seperti :
Ya ampun Echa. Kamu kan sudah besar. Sudah SD. Tidak ada yang perlu ditakuti.”
Respon seperti ini membuat Echa merasa tidak diterima. Bahkan di dalam pikirannya, Mama tidak sayang padanya.
Akan jadi lain kalau responnya seperti ini :
“Oh.. mama tahu Echa takut. Makanya mama akan nyalakan lampunya dan membiarkan pintunya terbuka. Kalau ada apa-apa, Echa bisa datang kepada mama.”
Respon kedua ini adalah contoh komunikasi berterima.
Selamat mencoba….

0 comments:

Post a Comment