Home » » Diskusi umum Institut Pancasila Menata kembali hidup berpancasila sebagai ideologi yang berbasis alam dan kabudayaan

Diskusi umum Institut Pancasila Menata kembali hidup berpancasila sebagai ideologi yang berbasis alam dan kabudayaan


Diskusi umum Institut Pancasila ." Menata kembali hidup berpancasila sebagai ideologi yang berbasis alam dan kabudayaan" 11 januari 2016.Kegiatan ini Ide cemerlang Bupati Purwakarta H.Dedi Mulyadi


PURWAKARTA,TRIBUNJABAR.CO.ID - Sejumlah tokoh nasional hadir di Aula Janaka di KomplekS Pendopo Pemkab Purwakarta, dalam diskusi umum Institut Pancasila, Menata Kembali Hidup ber-Pancasila Sebagai Ideologi yang Berbasis Alam dan Kebudayaan, Rabu (11/1).
Diantaranya, budayawan Sudjiwo Tedjo, Rohaniawan Romo Benny Susetyo, Cendekiawan muslim Yudi Latif, Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UIN) Bandung, Asep Saeful Muhtadi, hingga pengajar di Sesko AD Bandung, Kolonel Czi Burlin Sjafei.
Kesempatan itu sekaligus pendirian Institut Pancasila oleh Pemkab Purwakarta, yang akan dipimpin oleh Asep Saeful Muhtadi. Institut Pancasila sendiri didirikan disamping program guru mengajar Pancasila pada pelajar, seperti yang sudah berjalan.
"Guru ajar Pancasila sudah disiapkan. Sekarang luncurkan Institut Pancasila, bekerja sama dengan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) sebagai syarat untuk kenaikan jabatan, yang tidak ikut tidak lulus. Nanti turun lagi ke eselon, kepala desa, camat, hingga RT RW," kata Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.
Dalam sambutannya, Dedi menyinggung soal sejumlah kearifan lokal di Indonesia yang berbasis alam. "Pertanian berbasis organik, membawa makanan untuk dikirim ke tetangga, menjaga sungai tidak tercemar, menjaga hutan agar tidak ditebang hingga membangun rumah tanpa merusak lingkungan adalah kearifan lokal. Dan kearifan lokal adalah basis dari Pancasila," kata Dedi.
Hal senada dikatakan Romo Beni, menurutnya, Pancasila tidak bisa dilepaskan dari penggalian Soekarno atas semua kearifan lokal yang ada di Indonesia. "Sehingga, Pancasila ini jadi dasar bagi bangsa Indonesia untuk tetap mengakomodir dan menghargai keberagaman di Indonesia yang terdiri dari beragam kearifan lokal,"katanya.
Sementara itu, Yudi Latif mengatakan Pancasila tidak cukup hanya jadi hafalan, tidak cukup sebagai pengetahuan, namun juga harus jadi laku hidup.
"Yang kemudian dikembangkan untuk kasih sayang bagi sesama manusia, menghargai setiap perbedaan yang ada di Indonesia," kata Yudi. Ia juga menyebut sejumlah komunitas adat dan penganut keyakinan yang tersebar di setiap wilayah Indonesia, yang masih hidup.
"Karena Pancasila sebagai filsafat dasar negara Indonesia yang mengakomodir semua kepentingan bangsa," kata Yudi
Sudjiwo Tedjo sendiri sempat membacakan puisi berjudul Mari Jangan Menghafal Pancasila






0 comments:

Post a Comment

Popular Posts