Home » » MENYOAL RELEVANSI SUFISME DALAM ISLAM MODERN ; TQNPPS MENJAWABNYA.

MENYOAL RELEVANSI SUFISME DALAM ISLAM MODERN ; TQNPPS MENJAWABNYA.

MENYOAL RELEVANSI SUFISME DALAM ISLAM MODERN ; TQNPPS MENJAWABNYA.

Kemaren sore mendapat tugas presentasi matakuliah Metodologi Studi Islam oleh Prof Dr. Amin Abdullah, MA. Seorang pemikir Islam Indonesia sekelas Azumardi Azra, Alwi syihab dan Esposito pada kelas Internasional.
Presentasi yang saya bawakan pemikiran Omid Safi, seorang tokoh muslim progresif asal Amerika keturunan Iran, buah pikirannya adalah tentang pluralisme, kesetaraan gender dan keadilan. Saya fokuskan bahasan pada sisi Omid Safi yang lain yang jarang diteliti dan disentuh; yakni konsep Omid Safi tentang sufisme yang menghasilkan orang-orang humanis. Perdebatan mulai sengit bersama sahabat-sahabat saya di ruang kelas ketika saya katakan bahwa Sufisme sangat relevan dalam Islam Modern saat ini. Sahabat-sahabat bilang bahwa tasawuf dengan ordo tarekat itu tradisional, klasik, tekstual dan hal transendental yang tidak usah diperdebatkan karena sifatnya personal & mengabaikan keshalehan sosial.
Sayapun mengiyakan argumentasi tersebut, bahwa tarekat & tasawuf demikian. Karena mungkin mereka melihat tasawuf pada masa klasik & pertengahan. Pelan-pelan saya fahamkan dan mulai berbicara dengan data, bahwa asumsi tersebut mungkin benar ketika melihatnya ordo tarekat di masa lalu, Tetapi yuk kita simak tasawuf yang dikembangkan pada abad modern saat ini oleh Abah Sepuh & Abah Anom di Tasikmalaya, Abah Anom seorang sufisme mendapat penghargaan dari PBB didukung penuh oleh pemerintah RI dengan program-program rehabilitasi, mendirikan pusat pendidikan bahkan Kampusnya (IAILM) saat ini menjadi terbaik se Jawabarat. Kita lihat murid Abah Anom di Kabupaten Ciamis sebagai pelanjut pengembang Sufisme TQNPPS yaitu Abah Aos, hampir sama yang dilakukan gurunya bahkan saat ini sudah masuk area tasawuf peradaban dunia. Sangat kontekstual & mendukung kesholehan sosial tidak melulu urusan Habluminalloh.
(Hanya sharing catatan kecil kenapa Akademisi tidak menyukai tasawuf & ritual tarekat, rupannya buku2 bacaan tasawuf klasik membuat impressi pada pemikiran mereka sehingga menjauh bahkan mengharamkan tasawuf bersama tarekatnya. Teman-teman yuk kita jawab mereka dengan pemikiran ilmiah tentang tasawuf hari ini & masa kini. Selamat mengamankan, mengamalkan dan melestarikan TQNPPS serta selamat Jihad Akademik. Allahu Akbar !!)

0 comments:

Post a Comment