Home » » Khidmah Manaqib ditujukan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW, untuk “Ketahanan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Kejayaan Agama dan Negara serta untuk Peradaban Dunia

Khidmah Manaqib ditujukan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW, untuk “Ketahanan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Kejayaan Agama dan Negara serta untuk Peradaban Dunia

Sudah jauh hari, Guru Mursyid kami Sayyid Abah Aos qs, mendawuhkan kepada kami para murid, agar di setiap Khidmah Manaqib ditujukan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW, untuk “Ketahanan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Kejayaan Agama dan Negara serta untuk Peradaban Dunia”.
Bersyukurlah kami para Murid yang selalu dicontohkan dan diajarkan agar : “Jangan benci kepada Ulama yang sezaman”.
Yang selalu didoakan agar “tidak timbul keretakan dalam lingkungan kita sekalian”.
Yang dilatih untuk menjadi Muta’allimul Ghoib, dan bukan sekedar menjadi Muta’allimus Syahadah semata.
Yang sedetikpun dan sebaitpun tidak pernah mendengar dari lisan suci beliau terlontar kalimat-kalimat cacian, terlebih hujatan-hujatan kepada siapapun yang berbeda pandangan dan pemikiran dengannya.
Yang senantiasa di Uswatun Hasanah-kan dengan sikap penuh ketawadhu’an. Yang tidak punya kesempatan memandang keburukan orang lain, apalagi mencari-cari kesalahan orang lain, karena habis untuk memandang diri sebagai manusia yang kotor dan penuh kesalahan. Maka kalimat Thoyyibah “Laa ilaaha illalloh” selalu dihujamkan keseluruh lapisan Lathifah, dan Ismu Dzat menjadi detakan jantungnya. Seperti Baginda Rosululloh yang selalu menjalankan hal itu, berdzikir, beribadah dengan sangat banyak, beristighfar hingga menangis-menangis, meskipun tidak akan mungkin Alloh memasukkan Beliau ke dalam api neraka.
Menulis kalimat-kalimat penuh amarah saja tidak pernah, apalagi menyuruh orang lain men-share-nya. Sebab tidak terbayang bagaimana pertanggungjawaban ruhiyyahnya nanti, andai kalimat yang ditulis adalah kalimat penuh amarah dan fitnah, dan kemudian memerintahkan orang lain untuk menshare, hingga kemudian tersebarlah kalimat-kalimatnya tadi..
Bersyukurlah kami, syukur yang tidak akan pernah terhenti, karena telah ditemani melintasi keadaan penuh fitnah dan kebencian ini bersama beliau.
Karena begitu simpelnya ternyata cara beragama dan menjalaninya itu. Yakni Ijtima’ – Istima’ – Ittiba’ (Kumpul – Dengar – Ikut). Kumpulnya dengan Si A, maka yang selalu didengar dan dilihatnya adalah ucapan dan tindakan Si A. Lalu ikutlah dia dengan perkataan dan tindakan Si A. Begitu seterusnya.
Maka agama mewanti-wanti kita agar serius untuk memilih kepada siapa dia berkumpul dan bershuhbah. Sabda Baginda SAW pun jelas “ Anta ma’a man ahbabtah” (kamu bersama dengan orang yang kamu cintai). Bersama di dunia dulu, baru di akhirat. Bersama amaliyyahnya, akhlaqnya, dan bukan hanya Kebersamaan fisik semata.
اللهم اجمع بيننا وبين جميع أهل السلسلة القادرية النقشبندية معهد سرياليا، باجتماعنا مع شيخنا ومرب روحنا السيد محمد عبد الغوث سيف الله المسلول القادري النقشبندي الكامل الموفق المتقي رضي الله عنه وقدس سره، آمين.
(Radio Dalam, 10 November 2016)

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts