Home » » Siapa bilang muslimah tidak bisa bergaya dengan rok mini? Asal tahu memadu-

Siapa bilang muslimah tidak bisa bergaya dengan rok mini? Asal tahu memadu-

Siapa    bilang muslimah    tidak bisa bergaya  dengan rok mini? Asal tahu memadu-

.   padankannya   rok mini koleksi Anda bisa  berman-
faat  lagi
SO SOK


Sosok yang langka.    Mencintai   sampah  seperti mencintai   keluarga.   Toh  kegigihannya     tak sla-sta  ..

harus dikubur, Tapi dari contoh  yang ditunjukkan ayahnya,  tahulah  dia bahwa  sampah yang  dikubur  selama sekitar tiga 'bulan.  akan menjadi kompos yang  berguna  sebagai
pupuk  bagi tanaman.
ampah>   Anda  clan kebanyakan orang  tentu  mengucapkannya dengan  ekspresi jijik. Sampah
.       adalah  benda  tak berguna
yang  harus dihindari   clan dijauhkan. Tapi tidak bagi Harini  Bambang Wahono.   la  justru  mengakrabi sampah,  clan menjadikan sampah

panjang lebar  clan bersemangat.
Tak heran jika  bertandang   ke rumahnya,   kita  akan kesulitan   jika hanya  menyebut   nama   Harini.   Tapi begitu  diberi  embel-embel    "tukang sampah",   setiap  orang  di  kawasan  itu akan dengan  lancar   menunjukkan kemana  kita harus  menuju.


Tanah  clan kebun  yang  luas milik sang ayah  menjadi  tugas  Harini untuk mengelola danmerawattanaman. Almarhum Raden Tjitro  Diwiryo membagi kebunnya menjadi   lima bagian  sesuai jumlah  anak-anaknya.
Masing-masing mendapat  jatah   1    X
5 m2 untuk clirawat clan  dikelola.
Harini  mendapat bibit  pohon mangga.  Bibit  itu ditanam  clan disirarn   dengan  bekas air  cucian daging  clan  air beras.  Ia  selalu menunggu ibunya  masak,   agar
semua air bekas mencuci  daging  dan
Pejuan-                Sampah dar1 Cilandak


air  beras bisa  dipakai   untuk menyirarn pohon.   Hasilnya,    mangga itu tumbuh  subu   clan  lebih lebat
buahnya. "_Sa.  a~,  eran JM.~~ ternyata
pohon  mil.ik 5te)a:refilhSUBu~c:tan
ba"\X'ak:  buahnya dari   pada  poh'o~n.

sebagai   ladang  perjuangannya. Tak heran,  ia  lantas   dijuluki  Pahlawan Sampah. Jika   ingin   berdiskusi
tentang   sampah,   penanganan  clan pemanfaatannya,     datanglah   ke Harini.   Anda akan "tercerahkan" clan pulang  dengan  pemahaman baru tentang  dunia  sampah.
Kegigihannya   bergelut  di dunia
sampah,   membawanya   meraih  peng- hargaan   tertinggi   di bidang  konser- vasi  alam   clan  penghijauan dari
Depar-temen   Pertanian  clan
Kehutanan,    tahun  2000.  Setahun kemudian   ia meraih  penghargaan tertinggi  di bidang  lingkungan hidup.  Kalpataru
"Semua   itu  adalah  dampak dari
niat baik saya untuk  menjadikan Indonesia  menjadi   negara  yang bersih,   indah,   cantik   clan nyaman," ucap Harini.   Satu yang membahagia- kan dirinya,    kawasan  tempat tinggalnya  di  Banjar  Sari,  Cilandak Barat,  Jakarta  Se Iatan,  diusulkan sebagai   daerah  tujuan wisata oleh Suku Dinas Pariwisata  DK! Jakarta.
Jangan  coba-coba bicara  politik
a tau soal  sejenis  itu jika berjumpa Harini.   Pastilah   obrolan  itu  akan kering  clan  tak bakal  bertahan lama. Tetapi,   kalau   bicara soal sampah, lingkungan  hidup,  ataupun kesehatan,   Harinilah   akan bicara

Jualan Mangga
Harini    adalah    anak   pasangan
bangsawan   Raden  Ngabei  TjitrQ. Diwiryo-Sumarni.   Besar  dalarn     . lingkungan   keluarga                .· bangsawan   di   kawasan
Ganjarsari,    Solo,   Jateng, tak membuatnya   hidup 1 manja. Tegas clan di sip  :in merupakan "makanaqf Harini  setiap hari  dar(· sang  ayah,   seoran~
mantri   di zaman  "·~nda. Sejak sekolah  dasar'di Ho/and lnlander5¬ ffE'ff'ool (HIS)  dia terbiasa
hidup mandiri.
Pendidikan   lai11fl yang  dibiasakan ayahnya sejak ia  kecil, adalah  peduli  pada
lingkungan   hidup   "Saya dididik   untuk selalu  cinta
.SOSOK

kakak   clan   adik  saya,"   kenang    Harini.
Alangkah    senang   Harini   kala  itu, karena   pohon    mangganya     tumbuh subur   berbuah    lebat.   Tapi  dia juga bingung,      karena   buah   mangga    yang banyak    itu  tak  tahu  harus   ia kemanakan.    Suatu   hari,   ketika menemani     ibu  belanja    di  pasar,
Harini   melihat    penjual   mangga yang   jualannya     selalu    habis. Timbul   hasrat   Harini   untuk menawarkan      mangganya    pada pedagang   itu.   Ternyata
pedagang     itu   dengan    senang
hati   menerima     tawarannya,       clan memborong    mangga    Harini.
la   pun  melaporkan      kepada sang   ayah,    clan   berniat    menye- rahkan   uang   hasil    kebunnya.
Tapi  ayahnya    menolak.      "ltu
kan  pohon    kamu,   terserah    mau kamu   apakan    buahnya.   Sudah, arnbil    saja uangnya    untuk   kamu," ucap   Harini   menirukan     sang ayah
Kemampuan    mengolah tanah   clan  merawat    tanaman membuat    Harini   semakin mencintai     lingkungan.      Begitu cintanya    dia  kepada    lingkung- an,   sampai-sampai      dia  tak
segan-segan     berhenti     clan   turun
dari  mobil,   bila  melihat    ada pohon  yang   kekeringan.      la   pun menyiram     pohon    itu.   "Tak   harus banyak   air  untuk   menyiram
pohon.     Meski   hanya   satu  tetes
pohon    itu   tak  lagi   kehausan,"    ujar  ibu empat   anak   ini.
Begitu  lulus  Sekolah  Guru  Atas (SCA),    Harini    langsung    mendapat peluang    mengajar.    Namun    karena suaminya,    Bambang    Wahono, adalah   seorang    tentara    yang   selalu
berpindah-pindah         tugas,    ia pun  rela meninggalkan      dunia   pendidikan
yang   telah   digelutinya     selama    dua tahun,    untuk   mengikuti    sang  suami. "Ketika     zaman   perang,   saya   selalu   di baris   belakang,     dapur   umum.
Sementara     Mas   Bambang    di  garis depan,"     tuturnya.
Toh,   berpindah-pindah       tempat tinggal   tak  membuatnya    lupa   mem- perhatikan     lingkungan.     Di  mana   pun dia   berada,    selalu   meluangkan      waktu untuk   merawat  lingkungan     sekitar.


0 comments:

Post a Comment