Home » » Pengukuran untuk pembayaran dan penempatan tulangan dibuat dalam perencanaan berat

Pengukuran untuk pembayaran dan penempatan tulangan dibuat dalam perencanaan berat

Pengukuran dan Pembayaran

Pengukuran untuk pembayaran dan penempatan tulangan dibuat dalam perencanaan berat

jadi/terpasang sesuai dengan gambar atau atas petunjuk Direksi. Satuan berat jadi, kecuali
ditentukan lain selama pelaksanaan, maka standard berat besi adalah sebagai berikut :

Diameter (mm) 10 12/13 16 19 22 25
Berat Besi Polos (kg/m) 0.617 0.888 1.580 2.23 2.98 3.85
Berat Besi Ulir (kg/m) 0.624 0.995 1.582 2.25 3.04 3.98                   

Besi stagger, besi penstabil plastic cone, kawat pengikat, paku atau bahan lainnya yang
digunakan untuk menyambung pada pelaksanaan pembesian yang merupakan bagian dari
metode pelaksanaan tidak diukur untuk dibayar, sesuai dengan gambar atau petunjuk dari
Direksi.

Volume untuk dasar mata pembayaran dalam pekerjaan ini adalah unit price dalam Kilogram
(Kg) yang akan dimasukkan dalam mata pembayaran pembesian atau tulangan berdasar
kemajuan pekerjaan yang dicapai dilapangan dengan pengesahan dari Direksi Pekerjaan.

Rehabilitasi dan Optimalisasi Saluran Induk Tarum Timur dan Sistem Bangunan Bagi Bugis di Kabupaten Subang – Jawa Barat
44
Spesifikasi Teknis  

Mata pembayaran dalam pekerjaan ini adalah unit price dalam Kilogram (Kg) berdasar
kemajuan pekerjaan yang telah dicapai dilapangan dengan pengesahan dari Direksi
Pekerjaan.



D.3 Bekisting dan  Finishing
D.3.1 Bekisting
Bekisting harus dibuat untuk tetap kaku selama pengecoran dan pengerasan dari beton dan
untuk memperoleh bentuk permukaan yang diperlukan. Penyedia Jasa harus menyerahkan
rencana dan penjelasan tentang-acuan dan harus membuat contoh-contoh acuan untuk
mendapat pengesahan Direksi. Bekisting harus dipasang dengan sempurna, sesuai dengan
bentuk-bentuk dan ukuran yang benar dari pekerjaan beton, yang ditunjukkan dalam
gambar. Cara pendukungan yang akan menghasilkan lubang-lubang atau tali-tali kawat yang
membentang pada seluruh lebar dari permukaan beton tidak dibenarkan. Acuan penutup
harus dibuat pada permukaan beton, dimana kemiringannya lebih curam dari 1 : 3.

Bekisting untuk permukaan beton harus sedemikian rupa untuk mencegah hilangnya bahanbahan
dari
beton
dan
bisa
menghasilkan
permukaan
beton
yang
padat.

Jika
dibutuhkan
oleh

Direksi

acuan untuk permukaan beton yang kelihatan harus sedemikian rupa sehingga
menghasilkan permukaan yang halus tanpa adanya garis atau kelihatan terputus. Tiap kali
sebelum pembetonan dimulai, acuan harus diperiksa dengan teliti dan dibersihkan.

Pembetonan hanya boleh dimulai apabila Direksi sudah memeriksa dan memberi persetujuan
acuan yang telah dipasang. Untuk pembetonan di cuaca panas atau kering, Penyedia Jasa
harus membuat rencana acuan dan membukanya, sehingga permukaan-permukaan beton
dapat terlihat untuk dimulai perawatan sesegera mungkin.

Bekisting hanya boleh dibuka dengan ijin Direksi dibawah pengawasan seorang mandor yang
berwewenang. Harus diberi perhatian yang besar pada waktu pembukaan acuan untuk
menghindari kegoncangan atau pembalikan tegangan beton. Dalam hal mana Direksi
berpendapat bahwa usul Penyedia Jasa untuk membuka acuan belum pada waktunya baik
berdasarkan perhitungan cuaca atau dengan alasan lainnya, maka Direksi dapat
memerintahkan Penyedia Jasa untuk menunda pembukaan Bekisting dan Penyedia Jasa tidak
boleh menuntut kerugian atas penundaan tersebut, penggunaan bahan seperti plastic cone,
besi stut dan besi siku sudah termasuk dalam mata item pembayaran pekerjaan ini.

D.3.2 .Pekerjaan Perancah.

Rehabilitasi dan Optimalisasi Saluran Induk Tarum Timur dan Sistem Bangunan Bagi Bugis di Kabupaten Subang – Jawa Barat
45
Spesifikasi Teknis  

Setiap pekerjaan perancah dapat dipasang kayu yang kokoh dan mudah disesuaikan. Tiang
kerja berdiri memiliki sambungan hanya satu sendi yang tidak didukung ke samping.

Bambu dapat juga digunakan untuk tiang kerja, dipertimbangkan untuk stabilitas terutama
terhadap berat beton sendiri dan beban lainnya yang timbul selama pengecoran sebagai
akibat dari getaran vibrator, berat pekerja dll.

D.3.3  Toleransi.
Pemasangan acuan dan perancah harus dipasang sedemikian rupa, sehingga memenuhi
batas-batas toleransi pergeseran acuan/perancah yang diijinkan seperti tercantum berikut
atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi.

Bagian / Partisi Toleransi
Arah vertikal (Jembatan, Talang, dll) 1.0 cm per 50.0 m bentang
Arah sisi utk pek. Saluran/Lining 0.50 ~ 1.0 cm per 40.0 m bentang dinding
Arah sisi (Dinding Penahan bagian
depan/ belakang)
0.50 ~ 2.0 cm per 30.0 m bentang dinding

Apabila terjadi kondisi, dimana setelah pelaksanaan pengecoran untuk bagian exposed
mengakibatkan pergeseran lebih dari batas toleransi atau yang diperintahkan oleh Direksi,
maka segala biaya perbaikan akan menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa.
Untuk beton dengan semen Portland biasa, waktu paling sedikit untuk pembukaan acuan
harus menurut daftar dibawah ini :
 Muka sisi balok, lantai dan dinding   3 hari
 Bagian bawah    21 hari
Mata pembayaran dalam pekerjaan ini adalah unit price dalam meter persegi (m
) yang
dimasukkan kedalam mata pembayaran pekerjaan bekisting (form work) berdasarkan
kemajuan pekerjaan yang telah dicapai dilapangan dengan pengesahan dari Direksi
Pekerjaan.

D.3.4 Pekerjaan Permukaan.
Untuk penyelesaian permukaan beton dibedakan dua jenis, sebagai berikut :
a. Penyelesaian Kasar.
Penyelesaian kasar didefinisikan sebagai penyelesaian permukaan beton kasar
menggaruk/cakar. Plesteran permukaan beton dengan penyelesaian kasar harus teratur
bebas dari benjolan tapi masih agak kasar.
Rehabilitasi dan Optimalisasi Saluran Induk Tarum Timur dan Sistem Bangunan Bagi Bugis di Kabupaten Subang – Jawa Barat
2
46
Spesifikasi Teknis  


Permukaan beton dan didefinisikan tanpa bekisting untuk penyelesaian kasar harus
digaruk datar dengan lis tetapi dengan kualitas yang sama seperti yang dimaksud
permukaan beton dan dengan penyelesaian yang kasar.
b. Penyelesaian Halus.
Penyelesaian halus adalah penyelesaian yang dihasilkan oleh penggunaan papan kayu
datar, kayu lapis atau pelat baja untuk bekisting. Beton permukaan halus, harus bebas
dari kayu bekas; kontur dan kesalahan pemotongan. Bekisting memiliki pola teratur,
permukaan beton dengan penyelesaian halus digaruk dan kemudian digosok halus
dengan kayu atau baja polisher sampai halus dan dengan kualitas yang sama sebagai
referensi.
Kecuali ditentukan lain penyelesaian halus harus dituntut untuk permukaan beton tetap
terlihat. Permukaan beton ekspos, harus digosok halus dengan baja sampai halus.
Permukaan beton lain yang kelihatan kasar harus digosok dengan plester kayu sampai
halus.
Pekerjaan akan dilakukan setelah menggosok beton cukup keras untuk mencegah
terjadinya air pada permukaan halus.
Setelah pengangkatan bekisting, permukaan beton tidak boleh diperbaiki kecuali izin dari
Direksi 
Kecuali ditunjukkan pada gambar, sudut yang tajam dibuat tumpul dengan ukuran 2 cm x
2 cm.

D.4 Mutu Beton
D.4.1 Proporsi Campuran.
Proporsi campuran beton harus ditentukan untuk mendapatkan beton yang memiliki
kemudahan pelaksanaan, kepadatan, kedap air, daya tahan, kekerasan dan kekuatan yang
diperlukan tanpa menambahkan jumlah semen.

Rencana kekuatan karakteristik beton berdasarkan NI-2 atau seperti yang diarahkan oleh
Direksi. Pedoman pelaksanaan untuk porsi campuran disetujui oleh Direksi, tidak akan
membiarkan Penyedia Jasa dari tanggung jawabnya kepada kontrak.

Mutu beton harus memenuhi persyaratan dalam Standar Indonesia SK SNI - T15 -1991 - 03.
Direksi berhak untuk mengubah/memodifikasi proporsi campuran dari waktu ke waktu
selama pekerjaan konstruksi.
Sebagai pedoman awal, proporsi campuran akan digunakan untuk beberapa variasi kelas
beton yaitu sebagai berikut :
Rehabilitasi dan Optimalisasi Saluran Induk Tarum Timur dan Sistem Bangunan Bagi Bugis di Kabupaten Subang – Jawa Barat
47
Spesifikasi Teknis  


- Beton K.100 1 Pc : 3 Pasir : 5 Kerikil
- Beton K.125 1 Pc : 3 Pasir : 5 Kerikil
- Beton K.175 1 Pc : 2 Pasir : 3 Kerikil
- Beton K.225 1 Pc : 1,5 Pasir : 2,5 Kerikil.
Jika dipandang perlu, Direksi berhak untuk mengubah/memperbaiki rasio campuran beton
selama pekerjaan berlangsung tanpa ada tambahan pembayaran dalam rangka mencapai
mutu kelas/ kelas ditentukan pada gambar Desain. Penyedia Jasa tidak diperbolehkan untuk
mengubah rasio beton atau sumber material berpindah dari tempat lain tanpa persetujuan
terlebih dahulu dari Direksi Pekerjaan.

D.4.2 Kandungan Air dan Slump Beton.
a. Konsistensi
Kandungan air dalam beton harus dikontrol setiap saat. Adonan kekentalan beton diukur
dengan slump beton, harus sesuai dengan batasan sebagai berikut, (dalam centimeter).
Type Beton
Target /
Batas Slump
Batas
Kelengahan
Batas
Penolakan

1. Struktur, terbuka
2. Slab, (tebalnya kurang dari 30
cm.
3. Struktur dan Slab besar
   (Ukuran agregat maksimum 40
mm.)


b. Batas Target Slump

8
8
6

5
5
5
Slump beton pada titik penempatan praktis harus rendah dan umumnya kurang dari batas
target slump.
c. Toleransi
Toleransi diberikan hanya 5 (lima) inchi untuk setiap jenis struktur menurut tabel di atas.
Adonan akan ditolak jika nilai slump beton lebih besar dari ketentuan di atas dan beton
harus dibuang.
D.4.3 Standar Pengujian.
Penyedia Jasa harus mengambil sampel untuk pengujian silinder beton dari pekerjaan
pengecoran beton, dan kemudian dilakukan sebagai keperluan dan dikirim ke laboratorium
yang disetujui untuk dilakukan pengujian sesuai perintah.

Rehabilitasi dan Optimalisasi Saluran Induk Tarum Timur dan Sistem Bangunan Bagi Bugis di Kabupaten Subang – Jawa Barat

13
13
11
48
Spesifikasi Teknis  

Selama pengecoran, Penyedia jasa harus selalu melakukan slump test pada saat mulai
pengecoran. Tes harus dilakukan berdasarkan T-15-1991-1903 SKSNI atau standar lainnya
yang setara atau lebih tinggi, kecuali dinyatakan khusus.

Kecuali jika disetujui oleh Direksi, jenis pengujian dan referensi yang digunakan harus
mengikuti ketentuan dalam tabel berikut ini :

Uji Beton Nomor Petunjuk

- Sampling of concrete
- Compressive strength.
- Slump
- Air content
- Unit weight
- Unit weight
- Surface moisture
- Organic impurities
- Sodium sulfate soundness
- Grading of aggregate
- Los Angeles abrasion
- Unit weight
- Specific gravity and absorption
ASTM C 172 (JIS A 1115 – 75)
ASTM C 39, C.192 (JIS A 1108 – 76 A.1132-76)
ASTM C 143 (JIS A 1101 – 75)
ASTM C 231 (JIS A 1118 – 75)
ASTM C 138 (JIS A 1116 – 75)
ASTM C 117 (JIS A 1103 – 64)
JIS A. 1111 - 76
ASTM C 40 (JIS A 1105 – 76)
ASTM C 88 (JIS A 1122 – 76)
ASTM C 136 (JIS A 1102 – 76)
ASTM C 131, C.535 (JIS A 1121 – 76)
ASTM C 29 (JIS A 1104 – 76)
ASTM C 127, C.128 (JIS A 1109 – 76, A 1110 -76)

Penyedia Jasa tidak dapat mengusulkan biaya tambahan yang disebabkan oleh penambahan
sampel atau pengujian beton basah pada setiap lokasi atas perintah Direksi. Tidak ada
pembayaran terpisah untuk sampel material yang digunakan untuk pengujian.

D.5 Pelaksanaan Beton
D.5.1 Pencampuran Material Beton.
Penyedia Jasa harus hati-hati mencampur material dari setiap kelas beton dengan
perbandingan berdasar pada ukuran volume. Air harus ditambahkan ke material kasar, pasir
dan semen dalam batching mixer, jumlahnya harus sesuai dengan jumlah terkecil yang
diperlukan untuk memperoleh pemadatan penuh. Takaran air akan menunjukkan jumlah air
yang diperlukan dan direncanakan secara otomatis berhenti ketika jumlah air yang telah
mengalir ke dalam mixer. Dan kemudian, jika kelas beton K-125 diperbolehkan oleh tenaga
manusia, maka semen, agregat kasar dan pasir harus dicampur di lantai kayu tertutup.
Material yang akan diaduk setidaknya dua kali dalam kondisi kering dan setidaknya tiga kali
Rehabilitasi dan Optimalisasi Saluran Induk Tarum Timur dan Sistem Bangunan Bagi Bugis di Kabupaten Subang – Jawa Barat
49

Spesifikasi Teknis   

0 comments:

Post a Comment