Home » » SYARAT untuk menjadi Ketua Ko­ misi Pemberantasan Korupsi memang berat, setidaknya

SYARAT untuk menjadi Ketua Ko­ misi Pemberantasan Korupsi memang berat, setidaknya

SYARAT untuk  menjadi   Ketua   Ko­ misi  Pemberantasan   Korupsi   memang berat,   setidaknya   


berdasarkan    krite­ ria yang  disusun   Indonesia   Corruption Watch.  Koordinator  Divisi  Hukum  dan Monitoring   Peradilan     ICW  Febri   Di-
Menteri  Hukum dan HAM Patrialis Akbar bersama panitia seleksi pemimpin KPK.

ansyah menunjuk sebelas syarat versi lembaganya.  Di antaranya, memiliki integritas,    independen,    mampu    be­ kerja   dalam   tekanan    balik   koruptor, berani    mengambil     risiko,   punya    se­ mangat  penindakan,  dan bebas dari konftik   kepentingan.   Ada  satu  syarat lagi.   "Pimpinan    KPK   bukan   berasal dari  polisi,  jaksa,   atau  pengacara  yang
.....................................................................................................................................
Tujuhyang
Lolos

Tujuh orang telah dipilih  oleh panitia
seleksi  untuk menglkutl  babak selanjutnya.  Dari tujuh  ini,  akan diperas hlngga tlnggal dua untuk dikirim ke Presiden. FOTO­FOTO:
TEMPO/ACRI   IRIANTO,  ARNOLD
SIMANJUNTAK,   BISMO AGUNG, OARSALAW.
COM. BALEBANJAR.COM ANTARA/SAPTONO


Busyro  Muqoddas

Lahir: Yogyakarta, 17 Juli 1952
Pekerjaan: Ketua Komisi Yudisial Kekayaan: Rp 1.342.588.754   dan US$1.60:1.   (per 10 Mei 2007)

Jabatannya kini Ketua Komisi Yudisial. Sebelum menduduki  jabatan ketua lembaga "penjaga martabat hakim"
ini, Busyro adalah pengacara sekaligus dosen Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. sebagal pengacara ia pernah menjadi pembela tersangka kasus pengeboman Candi  Borobudur. Tahun lalu ia mendapat penghargaan BungHatta Anti Corruption Award.
Busyro,  menurut laporan Komisi Pemberantasan Korupsi, memiliki kekayaan Rp 1,3  miliar per Mei  2007.


Bambang Widjojanto

Lahir: Jakarta,  18Oktober1959
Pekerjaan: Pengacara
Kekayaan: Tak tercatat di  KPK

Pria yang kini tampil dengan berewok lebat  ini adalah bekas Ketua Dewan Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Bambangjuga dikenal sebagai aktivis antikorupsi. Bersama sejumlah rekannya,
ia ikut mendirikan   Indonesia Corruption  Watch. Sehari-hari, selain  tetap berprofesi pengacara, ia mengajar mata kuliah ilmu pidana di beberapa  perguruan tinggi di Jakarta.




Lahir: Palembang,  17 April 1956
Pekerjaan: Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hukum dan Ketatanegaraan Kekayaan: Rp 2.225.714.789

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini sudah menelurkan sekitar 40 judul  buku, sebagian besar tentang  hukum tata negara. Setelah mundur dari Hakim Konstitusi,  alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini menerima tawaran Presiden  Susilo BambangYudhoyono sebagal anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bi dang Hukum dan Ketatanegaraan.

230  I      TEMPO 22  .AGUSTUS 2010
Daging

P rokan   yang   menahan     haus   selama    12  jam,    alat
UASA:   perut yang  harus   dibiarkan  lapar,  tenggo­

kelamin   yang  tak  tersentuh   syahwat.    Demikian­
lah  yang  jasrnani  dikendalikan:   daging   harus   di­
tuntun  oleh roh.  Kalau  tidak:   dosa.
Maka  dari  waktu   ke waktu,   seraya   menolak  yang  jas­ mani,   kita   dianjurkan   hanya   menerima    yang   "rohani". Sejak   pukul   4 dini   hari,   masjid   dan  surau   penuh   suara orang  menyebut   Tuhan,   menganjurkan   ibadat,  meneguh­ kan   iman,    menjalankan      syariat  ....           Kita   dilengkapi  de­ ngan   banyak   penangkal:   kita  harus   bisa  menolak   gado­ gado,  soto,  video  porno.
Tapi  bisakah    daging   diasingkan?  Bisakah    tubuh   dili­ hat  terpisah?   Tampaknya  ada  yang  luput   dilihat   di sini. Justru  pada bulan Ramadan, yang jasmani  diam­diam menyiapkan    resistansi.
Mari datang  ke pusat­pusat  perbelanjaan    mewah  dan angkringan   sederhana    di  kaki   lima.   Kita   akan   melihat
semarak   pelbagai   penganan    lezat  yang  tak  lazim  sehari­
hari.   Ramadan   telah   jadi   sebuah    paradoks: ketika  orang  diharuskan  menahan nafsu, kreativitas menyiapkan hidangan justru me­ ningkat;   omzet   perdagangan   makanan   naik
.   sampai    60  persen.    Orang   ramai    berbelanja untuk   membuat   meriah   meja  berbuka    puasa dan  sahur  mereka.
Ramadan    agaknya  telah   jadi  sebuah   perio­ de  ketika   orang   berusaha    memperoleh    kom­ pensasi   istimewa.   Tampaknya    kuat  anggapan
bahwa   pengekangan    atas   tubuh   kita   selama
30  hari   itu  adalah    sebuah   deprivasi,   sebuah
perenggutan     dari    hidup    yang   normal,    dan kita,  yang  merasa   harus   menanggungkan   itu,  ~ menginginkan   imbalan  yang  memuaskan.           tO
Di  atas  semua   itu,  setidaknya  di  Indonesia,
orang­orang   yang   menganggap   puasa   sebagai   deprivasi
yang  berat  akan  bersikap  seakan­akan  anak  manja  atau.si korban  yang  dendam:  mereka  minta  diperlakukan  dengan kelas  tersendiri.    "Hormatilah   orang  yang  berpuasa !    » seru pengumuman  di mana­mana.  Maksudnya:   "jangan  rneng­ goda  atau  merayu   orang  yang  berpuasa  untuk  batal"
Barangkali    berpuasa   telah    berubah:     menahan     haus dan   lapar   tidak   lagi   ditandai     tekad   melawan  godaan, tapi  sikap  ketakutan   akan  godaan.   Pada  bulan  ini  orang­
orang   yang   mengatakan   bahwa  niat   mereka    berpuasa adalah   untuk   Allah   (dengan   kata   lain:   ikhlas)   ternyata juga   orang­orang   yang   merasa   berhak   mengklaim   pro­ teksi  dari  kekuatan  di luar  diri  mereka:   Negara.
Maka   rumah­rumah    hiburan    malam   pun   diharuskan tutup   sepanjang   bulan.  Bahkan   panti  pijat  yang  biasanya

dipergunakan   keluarga  (termasuk  anak­anak)   tak  boleh buka.  Tak  urung,  para  juru  pijat,  umumnya ibu­ibu   yang bekerja untuk menambah nafkah  keluarga, berkurang pendapatan.   Di  Bekasi,   para   pemilik    dan  buruh    indus­ tri   entertainment kecil   atau   menengah    mengeluh    (ya, mereka   akhirnya  berani   mengeluh)  bahwa   setiap   tahun nafkah    mereka    putus   selama   30   hari.   Padahal    mereka juga harus ikut mengumpulkan  pendapatan  lebih untuk bersenang­senang   pada  hari  Lebaran.

0 comments:

Post a Comment