Home » » pusaka itu tak pernah terlepas dari badan Kartosoewir- jo.

pusaka itu tak pernah terlepas dari badan Kartosoewir- jo.

pusaka  itu tak pernah  terlepas dari badan Kartosoewir- jo.  "Hanya kadang-kadang saja dititipkan kepada  orang kepercayaannyayang bernama Raspati," katanya.
Alhasil,  kedua  pusaka   tersebut menjadi  daya  tarik
mistis tersendiri kaum Islam tradisional. Tingginya ke-
percayaan itu terlihat  saat dipamerkannyakedua pusaka tersebut di pameran UsahaPemulihan Keamanan yang diselenggarakan KodamVI Siliwangipada pekan indus- tri di Bandung, Agustus-September 1962. Hampir semua pengunjung yang datang ke pameran itu hanya ingin me- lihat bentuk keris Ki Dongkoldan pedang Ki Rompang.
Namun  keampuhan kedua  pusaka  itu  dibantah oleh Sardjono.Menurut dia, padakedua pusaka itu sama seka- li tak ada unsur gaib. "Senjata biasa saja, bahkanyang sa-
tunya rompang, makanyajadi sebutan," katanya. Ia juga menampik jika disebutkan kedua pusaka  tersebut sela- lu terselip  di pinggang Kartosoewirjo. "Masak Imam ke mana-mana selalu bawa-bawa barang, yang bawa pem- bantunya, namanyaBajuri.Kadang-kadang saja diselip- kan di pinggang," katanya.
Sardjono mengakui banyak  orang yang  selalu berta-
nya-tanya akan  keampuhan kedua  pusaka  itu.  Bahkan
pernah  sekali waktu  salah satu pengawal Kartosoewir- jo,  Kadar  Sulihat, menanyakan kepada  Kartosoewirjo soalkedua pusaka yang selalu dibawanya itu. Denganlu- gas Kartosoewirjo menjawab,"Pusaka ini menjadipeng- ingat. Dulu  orang berjuang hanya  dengan  pisau, seka- rang dengan senjata modern. Harus lebih berani."          •
~~·
Tiga BerpayungKecewa

Kartosoewirjo,  Daud Beureueh,  dan Kahar Muzakkar bersatu karena kecewa terhadap kebijakan pemerintah pusat.
Tapi gagal membangun sebuah kekuatan bersama.

dan Tanah  Karo.  Dia dikenal   se- bagai ulama karismatis. Majalah Indonesia Merdeka, dalam ter- bitannya pada  1 Oktober  1953, menulis bagaimana Beureueh mampu "menyihir" orang lewat ceramahnya  berjam-jam  yang biasa  dilakukannya  di masjid.
Abu-demikian       Daud     Beu-
reueh  biasa  dipanggil-mendiri-
AFI'AR 300-an   tokoh Aceh  itu  membuat gempar   Tanah   Ren- cong.   Itulah    nama- nama   yang  dinilai   me-
lawan  pemerintah  pusat.   Opera- si penangkapan  pun  terjadi.  Ber- dasarkan   "daftar  hitam"itu,   Jak- sa Tinggi  Sunarjo   memburu  me- reka dan menjebloskan mereka kepenjara.
Daftar   nama  itu  diperoleh   pe- merintah    dari     Mustafa     pada
1953. Mustafa adalah utusan Kartosoewirjo-pemimpin  Ne- gara  Islam  Indonesia.  Dia di- tangkap   di Jakarta   sepulang mengunjungi Daud Beureueh di Aceh. Aparat menemukan pula dokumen pengangkatan  Daud Beureueh   sebagai   Gubernur  Mi- liter  Daer ah Istimewa   Aceh yang ditandatangani   Kartosoewirjo.
Dua  kali  Mustafa   Rasjid   atau
Abdul    Fatah     setidaknya    ber- temu    dengan    Daud    Beureueh. Pertemuan   itu  juga   disaksikan Hasan   Saleh,  salah  satu  pemim- pin militer   Aceh.  "Seru  juga  say a berdebat    dengannya,     disaksi- kan   Teungku    Daud   Beureueh," kata  Hasan   dalam  bukunya,  Me- ngapa  Aceh  Bergolak.   "Rupanya ia  lebih   banyak   menguasai   bi-

54  I     TEMPO22  AGUSTUS  2010

dang  politik   daripada  agama." Penangkapan    beberapa    tokoh
Aceh   menjadi    pemicu    gerakan
Aceh   melawan    pusat.    Pada   21
September    1953   meletus   perang antara    masyarakat    Aceh   pim- pinan  Beureueh   dan  pemerintah pusat.  Ini ironis.  Sebab,  pada  Mei di tahun   yang  sama,  di hadapan peserta    Kongres  Ulama   di  Me- dan,  Beureueh  menyatakan   ke- putusannya    mengadakan    kerja sama    erat   dengan    pemerintah untuk    menegakkan    amar   mak- ruf nahi  munkar.   Membela   yang benar,  menjauhi   yang  salah.
Perasaan   tidak   puas   dan   ke- kecewaan     rakyat     Aceh   terha- dap  pemerintah   pusat   sebenar- nya  sudah   bergejolak    pascake- merdekaan.    Persatuan    Ulama- ulama     Seluruh     Aceh,    organi- sasi bentukan  Beureueh,   menun- tut  otonomi   dengan   menjadikan Aceh  provinsi.    Tuntutan   itu  ti- dak dipenuhi.  Pemerintah  Repu- blik Indonesia Serikat   pada  1950, yang  membagi   wilayah  Indone- sia menjadi   10 provinsi,   menjadi- kan  Aceh  kabupaten  dan  bagian dari  Provinsi  Sumatera   Utara.
Saat   perjuangan    kemerdeka- an, Beureueh   menjabat   gubernur militer   wilayah    Aceh,   Langkat,

Brigade  Mobil memullhkan keamanan di Aceh,  1954.

Daud Beureueh. Meno/ak sistem rotasi  imam.

kanPersatuan   Ulama-ulama  Se- luruh   Aceh  pada   1939.  Van Dijk, dalam bukunya,   Darul  Islam  Se- buah    Pemberontakan,       menye- but  watak  organisasi    Persatuan Ulama    mirip    Muhammadiyah. Organisasi   ini   juga   bertujuan memurnikan   ajaran  Islam  sesuai denganAl-Quran  dan ha dis. Per- satuan    Ulama     menggembleng rakyat   untuk    melawan   Hindia Belanda.
Daud       Beureueh        memiliki
mimpi   Aceh  menjadi   negara   Is- lam yang besar dan jaya. "Kami mendambakan     masa    kekuasa- an  Sutan   Iskandar    Muda  ketika Aceh menjadi  negara  Islam,"kata
Beureueh,   seperti  dikutip  Boyd R. Compton  dalam  bukunya,  Keme- lut Demokrasi   Liberal.
Pascapembagian     kekuasaan  di masa  kemerdekaan    pada   akhir- nya   membuat    hubungan   pusat dan  daerah   tegang.  Tidak  hanys
Aceh   yang   tak   puas,   hal   yang sama   muncul   juga   di  sejumla}
daerah.     Di   Sulawesi     Selatan Kahar     Muzakkar      alias    Abdu Qahhar   Mudzakkar  mengangka senjata     melakukan     perlawar an  terhadap  pusat.   Kahar   sebe lumnya adalah   pemimpin    Kes: tuan    Gerilya    Sulawesi    Selatc
DAUD BEUREUEH DAN KAHAR MUZAKKAR

dengan pangkat  terakhir  letnan kolonel. Kahar marah kepada pusatkarena,  antaralain,  tuntut- an agar anak buahnya diterima menjadi tentara nasional  tanpa proses  seleksi  ditolak.
Pada    Agustus      1951,     Kahar mendapat   tawaran   dari   Karto- soewirjo  melalui   utusan   Bucha- ri,  Wakil  Ketua   Gerakan    Pemu- da  Islam  Indonesia,   dan  Abdul- lah  Riau   Soshby.   Kahar    mene- rima  tawaran  dan  pada  7  Agus- tus   1953 ia  pun  memproklama- sikan    penggabungan    gerakan- nya  dengan   Negara   Islam  Indo- nesia.  Iamenjadi  panglima  Divi- si Hasanuddin  Negara   Islam  In- donesia.    Adapun    Syamsul    Ba- chri  ditunjuk    sebagai   Gubernur Militer  Sulawesi Selatan.
Kartosoewirjo        merencana-
kan  Negara  Islam  Indonesia ber- bentuk    kesatuan   dengan    rotasi tiga  imam:  Kartosoewirjo,     Daud Beureueh,   dan Kahar  Muzakkar. Kahar     adalah     imam    pertama pengganti   Kartosoewirjo.    Ber- dasarkan   faktor  usia,  semestinya Beureueh     yang   menjadi    imam pengganti   pertama.   Rotasi   mo- del ini ditolak  Beureueh.
Menurut dia, sistem imam tak memberikan    rencana     yang   je- las mengenai pembagian  kekua- saan  atau  struktur    negara.   Pra- tes Beureueh terhadap  Karto- soewirjo sebenarnya  tak  semata perihal imam ini. Dia kerap mengkritik kebijakan Negara Is- lam  Indonesia    Jawa   Barat.   Da- lam  pidato   Majelis   Syura   pada
1960,     misalnya,    Beureueh     me- nyebut  sistem  militer   Negara   Is- lam Indonesia sebagai  sistem  bo- brok.   Beureueh    menunjuk  Kar- tosoewirjo   telah  menghilangkan Dewan   Imamah    atau  pemimpin yang  dikuasai   para  ulama.
Katosoewirjo  membentuk  De-
wan  ini  pada   Agustus    1948 de- ngan  melibatkan   sejumlah    ula-
:na besar,  seperti   Sanusi   Parta- vidjaja,   Kiai   Haji   Gozali   Tusi, lan  R. Oni Mandalatar.    Pemim-
iin  atau  imam  dipegang  Karto-
oewirjo sebagai panglima ter- inggi, Pascaagresimiliter   Agus- is   1949,   Kartosoewirjo    meng- mti   Dewan    Imamah    menjadi
omandemen  Tertinggi.

Lalu   Negara   Islam   Indonesia in dibagimenjadilima   wilayah: (a di  Jawa   serta   dua  lainnya Sulawesi    Selatan    dan   Aceh. ap  wilayah    dijabat    panglima

0 comments:

Post a Comment