Home » » NAPAK TILAS Garis Van Mook yang dipisahkan oleh Sungai Citanduy.

NAPAK TILAS Garis Van Mook yang dipisahkan oleh Sungai Citanduy.

NAPAK TILAS
Garis Van Mook yang dipisahkan oleh Sungai Citanduy.


dan keterampilan khusus untuk perempuan.  "Seperti jahit-men- jahit,"   kata  Dudung,  85 tahun, bekas tentara  Darul  Islam yang kini  tinggal  di Kampung Pada- karya,  Sariwangi,  Tasikmalaya.
Mendapat  ajaran  agama, para anggota menggebu. "Kami ber- juang menegakkan Islam,"  kata Kemal. Tapi Operasi  Pagar  Be- tis pelan-pelan  melemahkan mereka. Pasokan logistik ter- henti,  ruang gerak  menyempit. Satu per satu anggota menyerah. Kartosoewirjo akhirnya meng- instruksikan turun gunung. "Kembalilah  bertani di kam- pung," kata Kemal menirukan sang Imam.                                
Misteri Ki Dongkol dan Ki Rompang
EDDA pusaka  itu selalu menyertai ke mana  pun Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pergi.  Jika tak terselip di pinggangpria kelahiran Cepu, Jawa Tengah, 7 Januari  1907tersebut, Bajuri, pemban-
tunya, selalu setia membawa. Di mana ada Kartosoewir- jo, di situ ada Bajuri dan di situ pula ada keris Ki Dongkol dan pedang Ki Rompang. Keduapusaka itu baru terpisah dari  si empunya saat  Kartosoewirjo ditangkap pada  3
Juni 1962.
Saat ditangkap, pemimpin Darul  Islam ini menyerah-
kan kembali keris dan pedang itu kepada keluarga yang
memang seharusnya memegangsecara turun-temurun. Kedua  pusaka  tersebut  didapat Kartosoewirjo sekitar
1936dari seorangtokoh Garut bernama  Eyang Sinunuk. Eyang melihat  sosok Kartosoewirjo sebagai pribadi  pe- nuh kredibilitas. "Kedua pusaka  itu diserahkan kepada Ibrahim Adji. Kebetulan Eyang Sinunuk adalah  leluhur Pangdam SiliwangiIbrahim Adji," kata SardjonoKarto- soewirjo, salah satu putra Kartosoewirjo.
Peran  keris Ki Dongkol dan pedang  Ki Rompang se- lama  perjuangan Kartosoewirjo memimpin pemberon- takan DI/TII sangat diakui. Kartosoewirjo dikenal seba- gai orang yang fanatik terhadap Islam tapi kental dengan unsur Jawa tradisional. Sebagaimana orang Jawa, ia pun gemar melakukan tapa dengan cara pati  geni (tidak ma- kan, tidak tidur, dan tidak minum)selama 40hari di gua Walet, di sekitar  GunungKidul.
Syahdan, kedua pusaka  itu menjadi salah satu senjata
andalan Kartosoewirjo menanamkan pengaruhnya di daerah pegunungan Jawa Barat. Banyak anggota masya-
rakat yang percaya bahwa  orang  yang memiliki kedua pusaka  itu adalah  seorang Ratu Adil Kawedal atau Ratu Adil yang "baru muncul",

Dalam buku  Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo ka- rangan  Pinardi  H.Z.A.,   salah  satu bekas  panglima ke- lompok Kartosoewirjo mengatakan terdapat keperca- yaan mistis dalam masyarakat Jawa Barat bahwa orang yang dapat menyatukan kedua pusaka itu akan memiliki kemenangan dalam  perjuangan. Ia  mengatakan kedua

0 comments:

Post a Comment