Home » » KHUSUS KARTOSOEWIRJO Kecewa, Lalu Gerilya

KHUSUS KARTOSOEWIRJO Kecewa, Lalu Gerilya

KHUSUS KARTOSOEWIRJO
Kecewa, Lalu Gerilya


Kartosoewirjo   memproklamasikan   Negara Islam Indonesia karena kecewa terhadap  hasil perundingan  Renville yang ia nilai meruglkan  umat muslim.  la pun "hijrah"  ke hutan-hutan  di Garut dan Tasikmalaya.
Operasi Pagar Betis melumpuhkan  perlawanannya.
Menulllpang Momentum Renville

Kecewa terhadap perjanjian dengan Belanda,  Kartosoewirjo memproklamasikan     Negara Islam.  Merasa penguasa de facto di Jawa Barat.

bruari   1948.
Konferensi     dihadiri     160 per-
wakilan    organisasi   Islam.   Kar-
to hadir   sebagai  wakil  pengurus besar   Masyumi   Jawa  Barat.   Sa- lah   satu   keputusan   konferensi itu  adalah   semua   organisasi    Is-
lam-   termasuk    Masyumi-me- lebur  menjadi   Majelis  Islam  Pu- sat,  dan  menunjuk   Kartosoewir- jo sebagai  imam.
Pada   Konferensi    itu  pula  ter-
cetus   ide  pembentukan    Negara Islam     Indonesia.      Salah     satu pengusulnya,   Komandan Terito- rial   Sabilillah,    Kasman,   rneru- juk pada  dua kekuatan  besar  du- nia  saat   itu.   "Kalau    mengikuti Rusia,  kita  akan  digempur   Ame- rika.    Begitu    pula    sebaliknya," kata  Kasman.   "Karena    itu,  kita harus   mendirikan   negara   baru, yaitu   negara    Islam,   untuk    me- nyelamatkan   negeri  ini."
Namun konferensi belum mengambil keputusan tentang negara Islam. Peserta  hanya menyepakati perlunya gerakan perlawanan sementara, berupa pembentukan   Tentara   Islam  In-
EDUA tokoh pejuang Islam Jawa Barat itu bertemu   dengan  hati penuh      kuciwa     pada awal   1948.  Raden   Oni
Syahroni    adalah   Panglima  Las- kar Sabilillah, sedangkan Ka- lipaksi    alias   Sekarmadji   Mari- djan Kartosoewirjo  dikenal  se- bagai  pendiri   dan  pemimpin  In-
stitut Suffah-yang  murid-mu- ridnya   menjadi   tenaga   inti  Las- kar  Sabilillah  dan Hizbullah.
Mereka membicarakan  isi Per- janjian   Renville,  17Januari1948,
yang mengharuskan  tentara  dan laskar   bersenjata  mundur   ke be- lakang    garis   Van   Mook.   Kan- tong-kantong  wilayah   berisi  pa-
sukan   bersenjata  di dalam   garis itu   harus    dikosongkan.   Ketika itu  santer   terdengar   Divisi  Sili- wangi  yang menjadi  kebanggaan rakyat    Jawa   Barat   akan   hijrah ke Yogyakarta.
Pengalaman   Perjanjian   Ling- garjati   yang  tak  dipatuhi   Belan-
da mengingatkan   mereka   untuk tak  mudah   percaya   kepada   tak- tik penjajah.  Cornelis van Dijk, dalam  bukunya,  Darul Islam, menulis   bahwa   para  pejuang   Is-

44  I     iftBMP-0> 22 AGUSTUS   2010

lam kecewa terhadap Perjanjian Renville   itu.  Mereka  mengang- gap Republik dan Tentara   Nasio- nal Indonesia tak hanya menun- jukkan  sikap kompromistis ter- hadap Belanda, tapi juga mem- biarkan  rakyat Jawa Barat tak terlindungi.
Mudah    ditebak     hasil    perte- muan   kedua   tokoh   itu:   Sabilil- lah-laskar      yang    awalnya   di- bentuk    oleh  Partai    Masyumi- dan Hizbullah   menolak perintah pengosongan.     Anggota  Hizbul- lah   dan   Sabilillah   yang   hijrah akan   dilucuti   senjatanya.    Bebe- rapa   literatur     menulis,     tentara resmi  yang  tidak   hengkang  juga diwajibkan    menyerahkan    sen- jata.   Aksi   kelompok  Hizbullah dan  Sabilillah  ini  memicu   kete- gangan.     Kelompok   bersenjata yang menolak dilucuti   kerap  me- lawan.
Oni dan Karto  juga  sepakat   se- gera menggelar  konferensi pe- mimpin   umat  Islam  se-Jawa   Ba-
rat. Menurut Pinardi, dalam bu- kunya,  Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, konferensi  itu digelar   di Desa  Pamedusan,   Ci- sayong,   Tasikmalaya,     pada   Fe-

Divisi  Siliwangi tiba di  Stasiun Yogyakarta,
1948.
Hijrah dari
JawaBarat
akibat
Perjanjian
Renville.

donesia,    dan   menunjuk     Raden Oni sebagai   pemimpin.  Pasukan Tentara    Islam   ini  memilih    ber- markas   di lereng   Gunung   Cupu, di  daerah    Gunung   Mandalada- tar, Jawa  Barat.
Mengenai   pembentukan     TI!
ini,  Al-Chaidar    tl.alam bukunya, Pemikiran Pnlitik  Proklamator Negara  Islam   Indonesia  S.M. Kartosoewirjo,  mencatat   bebe- rapa  hari  setelah   konferensi  ada pertemuan  lain  untuk  mewujud- kan  bentuk   konkret   TI!.  Akhir- nya,  para  pejuang   Islam  itu tidak hanya   membentuk  TI!,  tapi  jugs sejumlah  korps   khusus,   sepert Barisan     Rakyat    Islam,    Pahla wan  Darul   Islam  (Padi),  dan  Pa sukan   Gestapu.  Ada  pula   pem bentukan   korps   polisi  dan  pol:
si rahasia   Mahdiyin.
Untuk   mematangkan   rencar pendirian    NII,   Karto    melaki kan  serangkaian  pertemuan  dr konferensi  lanjutan.   Dua  bul: setelah   konferensi  pertama,  m reka   menggelar   Konferensi   ( peundeuy,   Bantarujeg,    Cireb: Konferensi   itu   meminta   pen rintah    Indonesia     membatals sejumlah     perundingan    dent

MOMENTUM  RENVILLE

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts