Home » » berarti tanpa istirahat (sibuk). Pada pertengahan abad ke-16, di pulau ini terdapat

berarti tanpa istirahat (sibuk). Pada pertengahan abad ke-16, di pulau ini terdapat

berarti    tanpa    istirahat   (sibuk). Pada  pertengahan   abad  ke-16, di pulau   ini  terdapat    galangan  ka- pal  yang  lumayan   besar.   Ia  me- layani   ratusan    kapal,   terutama milik    kongsi    dagang    Belanda (VOC) Saat  itu,  Onrust   dikuasai Pangeran   Jayakarta,    kemudian dipinjamkan  untuk  jangka   wak-
tu tertentu   kepada  voe.
Pulau   ini  dilengkapi  gudang-
gudang  untuk  menyimpan muat- an kapal  yang  sedang  diperbaiki. Belakangan,   pada  awal  abad  ke-
20, pemerintah    kolonial  Belanda
membangun  tak  kurang    dari  35 barak   haji  bagi  penduduk  yang hendak     berangkat    ke   Mekah. Pulau   ini  lantas   menjadi   tempat karantina   jemaah   yang  kembali
sebelum  pulang  ke rumah.
Ketika   itu,  Onrust   masih  selu-
as sekitar   12 hektare   dan  penuh
dengan    pepohonan   besar.    Ka- yunya  banyak  digunakan   untuk pembuatan   kapal.   Sebuah   ben- teng  segi  lima  sempat   dibangun Belanda    di  sini   sebagai    perta- hanan   menghadapi  Inggris.   Juga
sebuah penjara. Westerling, per- wira   Belanda    yang   dikenal  ka- rena  pembunuhan   puluhan    ribu

Kubu ran yang diyakini sebagai  makam Kartosoewirjo
di Pulau Onrust,
Kepulauan
Seri bu.

ga di pulau  yang hampir  tidak berpenghuni   ini. Hanya   ada  dua warung  mi instan dan sebuah bangunan  semipermanen   dari kayu   di  sisi  timur,   yang  ditem- pati para nelayan yang sedang beristirahat. Sebuah tugu hitam berbentuk   batu   besar   menyam- but   setiap    orang   yang   datang. Di permukaannya   tertulis  ring- kasan  sejarah  pulau.
Sardjono    berjalan      perlahan
menapaki    konblok.     Seseorang yang  baru  saja kelar  memancing memberitahukan     arah    menuju makam.     "Di    depan    bangunan itu,    lalu   belok   kiri,"    katanya. "Butuh    waktu   sekitar    20   menit untuk  mencapai makarn."

Melewati   pemakaman   Belan- da,  Sardjono sempat  berhenti  se- bentar.   Di bawah   pohon  besar  di tengah   makam,   ia lalu  mengelu- arkan  baju koko  dan melepaskan baju   hangatnya.    Setelah    bersa- lin,   ia  kembali    berjalan    meng ikuti  petunjuk  arah  tadi.

0 comments:

Post a Comment