Home » , , , , » Tertawa dan Bahagia, Mau Kapan?

Tertawa dan Bahagia, Mau Kapan?

Tertawa dan Bahagia, Mau Kapan?

Pangersa Abah: Sekarang!
Kebahagiaan itu sekarang, di sini begini sekarang. Kemarin sudah lewat, besok lusa belum tentu. Waktu yang sudah pasti itu ya sekarang, bukan kemarin atau esok, apalagi lusa. Demikian Pangersa Abah berpesan untuk kita, murid-muridnya yang sudah ikut sensus...
Pesan spiritual itu merupakan cermin ajaran yang sudah jadi amalan agar kita selalu berada dalam keadaan 'husnul bidayah' (slalu baik, dengan melakukan yang bajik, sedari awal). Berharap 'husnul khotimah' itu juga tidak salah, namun terdengar seperti congkak, seperti akan tahu kapan berakhir sang waktu. Ciri orang bermental 'khusnul khotimah' (berharap kelak baik di ujung waktu, berbuat kebajikan itu nanti saja) antara lain selalu menunda untuk memohon ampun, berhenti melakukan kesalahan, dan menantikan berbuat kebajikan.
Sementara, ciri orang yang di maqom 'khusnul bidayah', dawuh Pangersa Abah, selalu rendah hati dengan menyadari waktu kemarin sudah lewat, esok apalagi lusa belum (tentu masih hidup). Saking rendah hatinya bahkan menyadari, satu jam mendatang, satu menit mendatang bahkan satu detik mendatang, belum tentu (masih punya umur). Oleh karena itu, murid-murid Pangersa Guru Agung diberi ajaran yang menetap jadi amalan dzikir per detik, per detak jantung, Dzikir Kalimah Agung dari Yang Maha Agung warisan Nabi Agung Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam: Dzikir Hati, Dzikir Diri, Dzikir Khofi. Dzikir dengan nama DiriNya.
Ingin hidup bahagia? Kapan ingin hidup bahagia? Jawabannya, kembali, sekarang!
Pangersa Abah slalu memberi teladan kepada kita agar selalu bahagia apapun keadaan hidup yang kita jalani. Sepahit apapun realita kehidupan di depan mata: ...dagang bangkrut, suami kawin lagi, isteri selingkuh, hutang numpuk, mau lebaran ga punya duit, kerjaan belum pasti, anak mau sekolah biaya tidak ada, orang tua sakit keras, dipecat dari perusahaan, masih pengangguran....dan lain sebagainya, kita harus tetap bahagia. Kita berbahagia sekarang, sekali lagi, karena kita tidak punya pilihan waktu, kecuali ya sekarang...
Semua keadaan diterima dengan hati yang ceria. Pangersa menyampaikan 'kullun min 'indillah', semuanya dari Alloh, segalanya Alloh, terima dan kembalikan kepada kekuatan serta kuasa Alloh. Jalaliyah dan jamaliyahnya Alloh kita terima dengan sikap mental sama: ridho dan bahagia. Oleh karena itu sering kita dengar doa' dari Pangersa untuk kita semua: Semoga Alloh berkahi semuanya, segalanya. Amin.
Juga Abah Sepuh berdoa untuk kita: 
Semoga ada dalam kebahagiaan, dikaruniai Alloh Subhanahu wata'ala kebahagiaan yang kekal dan abadi... Amin
Di bawah ini adalah foto yang melukiskan dimensi paling manusia dari Guru Agung kita Hadrotul Walid Maulana Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Al Qodiri Annaqsyabandi QS yang sedang tertawa lebar. Foto ini diambil seusai Pangersa menyempurnakan syareat seorang murid setia dan khidmat, mas Edy Ahmad Beji, melangsungkan akad nikah di mesjid Baitu Sirri.
Ini bukan kali pertama Pangersa menyempurnakan kebahagian murid-muridnya melalui pintu pernikahan. Sudah ratusan murid-muridnya yang sudah dinikahkan bahkan dimulai dicarikan, dipadupadankan, didandani, dibantu administrasi perkawinannya, sampai Nafakah pertama sang pengantin dari Pangersa Abah. Subhanalloh. Ini sekaligus tanda ke-kamilwamukammil-an Guru Agung Abah Aos.
Bersyukur Alloh telah utus dan kita dipertemukan denganpenerus dan pewaris ajaran yang dibaqo'kan menjadi amalan Kanjeng Maulana wa Nabiyana Muhammad shollalohu 'alaihi wasallam, semoga kita terbawa dan diaku oleh beliau sebagai murid-muridnya yang setia, pecinta, dan membuatnya bangga. Bibarokah seluruh Ahli Silsilah Tqn Ma'had Suryalaya khusus Pangersa Abah Alfatihah.
Salam husnul khidmah 38,
Abah Jagat [Pembantu Khusus Abah Aos]

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts