Home » » Semua karena Hujan

Semua karena Hujan

Semua karena Hujan

Oleh : Imey Fitria
.
Di sebuah kampus, ada seorang lelaki yang bertubuh jangkung, berwajah tampan, hidung mancung, tetapi terkenal dengan sifat yang terlalu dingin dan terkesan sombong kepada semua wanita yang mencoba mendekatinya. Ia bernama Tama.
Pada suatu ketika, ada seorang cewek yang wajahnya lumayan cantik dan bertubuh mungil menghampiri Tama.
"Hei Tama, kenalin nama gue Difa."
Sembari mengulurkan tangan kepada Tama.
"Ya." Ia menjawab, namun tak membalas uluran tangan Difa.
Difa pun tetap berusaha untuk mengajak Tama yang sedang asyik mendengarkan musik mengobrol, walaupun masih dengan nada yang tidak bersahabat.
"Lu kenapa sih suka banget dengerin musik? Gak budek tu telinga?." Tanya Difa.
"Gak."
"Kenapa lu menyendiri disini?"
"Gue suka sendiri."
"Apakah lu pernah jatuh cinta?"
"Pernah. Emang napa?"
"Ya gak apa-apa, heran aja ama cowok kayak lu yang dingin banget."
"Oh."
"Kok gitu banget jawabnya? Agak ramah dikit gak bisa?"
"Suka-suka gue dong! Kalo lu gak suka, ya jauh-jauh aja dari gue."
"Ya udah deh kalo mau lu itu, gue pergi dulu yaa.. Bye..."
Tanpa jawaban dari Tama, Difa pun langsung pergi.
Selepas Difa pergi, Tama pun mencerna kata-kata Difa bahwa Tama adalah cowok yang dingin dan gak ramah. Ia pun bergumam dalam hati, "Apa gue ini sikapnya dingin dan gak ada ramahnya sama sekali ya?" Ia terus memikirkan itu sampai di dalam kelas dan dosen sedang menjelaskan juga ia masih saja berpikir tentang hal itu. Hingga dosen yang bernama Bu Heni sadar bahwa ada mahasiswanya yang tidak memperhatikan ia mengajar.
"Tama!" Ia tidak menoleh sedikitpun.
"Tama!!" Masih saja tidak ada hirauan. Dan Bu Heni mengeraskan suara dan menggebrak meja Tama.
"Tama!!!! Kamu dengarin ibu menjelaskan tidak??"
Dengan terkejut, Tama menjawabnya dengan terbata-bata. "I-i-iya bu, saya de-dengar."
"Coba jelaskan kembali apa yang ibu sampaikan tadi!"
"Emm, apa ya? Saya lupa bu.."
"Apa?? Lupa!! Baru saja, tapi kamu udah lupa!! Itu hanya alasan yang konyol!! Sudahlah, sebagai hukuman kamu harus mengerjakan tugas dari halaman 90-110 dan dikumpul besok pagi!!"
"Ta-tapi bu, pasti gak sempet lah bu."
"Gak ada tapi-tapian,, pokoknya besok pagi di meja ibu sudah ada!!"
"Iya bu, saya akan mengerjakannya." Jawab Tama dengan pasrah.
***
Waktu istirahat, Trian, sang sohib Tama menanyakan mengapa saat pelajaran tadi ia melamun.
"Bro, kenapa tadi lu melamun pas Bu Heni ngajar?"
"Gini Trian, tadi ada cewek, namanya Difa, dia bilang kalo gue itu orangnya dingin dan gak ramah, apa emang gitu?"
"Yaelah Tam, lu baru sadar kalo lu itu dingin dan terkesan cuek? Kan udah dari dulu banyak cewek yang bilangin lu begitu."
"Tapi kenapa ya Yan, pas Difa yang ngomong, gue langsung kepikiran kayak gini?"
"Mungkin lu ada perasaan kali ama dia."
"Tapi gak mungkin, kan gue baru kenal."
"Bisa aja kali, kan love in first sight itu bukan mitos."
"Gak tau deh. Gue capek! Gue balik duluan ya.."
"Lho? Kan mata kuliah Pak Diro masih ada."
"Gapapa deh, gue mau bolos, abis bu Heni ngasih tugas banyak banget, jadi gue mau ngerjain. Gue duluan ya bro."
"Yo'i."
Sesampainya di rumah, Tama langsung mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh Bu Heni agar cepat selesai dan ia cepat istirahat. Setelah memakan waktu beberapa jam, akhirnya iapun selesai juga, dan ia langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur karena kelelahan dan tertidur pulas.
***
Pagipun tiba, sinar matahari terik dan memasuki celah ventilasi di kamar Tama, dan iapun terbangun lalu bersiap-siap pergi ke kampus untuk mengumpulkan tugas Bu Heni.
Setelah selesai mengumpulkan tugas, ia bertemu kembali dengan Difa.
"Pagi Tama, kok dari ruang dosen, abis ngapain?"
"Ngumpul tugas."
"Kok jawabnya cuek gitu?"
"Gapapa. Gue mau ke kelas dulu."
"Iya, Tama ganteng.." Dengan senyum yang merekah.
Tama yang mendengar kalimat dari mulut Difa itu terkejut karena ia tak menyangka kalau Difa bakalan terang-terangan memujinya.
Sesampainya di kelas, Tama tersenyum-senyum sendiri mengingat perkataan dari Difa dan tak sadar ia berkata, "Kalo diliat-liat Difa itu cantik yaa.." Trian yang mendengar perkataan Tama lalu mulai melakukan kejahilan yaitu mengagetkan Tama.
"Dar!!"
"Ah lu dateng-dateng ngagetin!"
"Ya sorry, abis pagi-pagi gini udah ngelamun muji-muji Difa ya gue isengin lu. Haha.."
"Apa? Lu tau darimana kalo gue lagi muji si Difa?"
"Gimana gue gak tau, lu kan mujinya gak dalem hati, tapi pake mulut, jadi kedengeran."
"Aduh! Malu gue."
"Santai aja bro, gue kan sohib lu."
"Iya juga sih."
"Tapi gue harus gimana ngadepin Difa?
"Gampang kok! Lu cuma harus lebih ramah ama Difa."
"Gitu? Tapi gue gengsi, nanti ketahuan lagi kalo gue naksir dia."
"Ya udah deh terserah lu aja, kan lu yang jalanin, gue kan cuma nyaranin.
Tak lama kemudian mata kuliah pun dimulai, Tama sudah bisa serius mendengarkan apa yang dijelaskan sang dosen.
***
Mata kuliah hari itu sudah selesai, dan untuk kedua kalinya Tama bertemu lagi dengan Difa.
"Eh Tama, ketemu lagi!"
"Iya."
"Jangan cuek-cuek napa kalo jawab."
"Serah gue lah!"
"Ya udah deh, gue balik duluan ya.."
"Yo."
Difa pun langsung berbalik badan dan tak lupa untuk melambaikan tangan serta mengeluarkan senyum manisnya. Tak disangka, Tama pun membalas dengan senyum. Hal itu membuat Difa makin bersikeras untuk menghangatkan sikap dingin Tama.
***
Hampir setiap hari Tama selalu ditemui oleh Difa, dan pada hari ini Tama sangat kaget dengan apa yang dikatakan Difa.
"Tama, gue udah gak tahan dengan semua ini, selama ini gue itu suka ama lu. Maaf kalo gue jadi cewek yang lancang karena udah berani ngungkapin duluan perasaan gue ke lu. Gue nunggu jawaban lu nanti malam jam 7 di taman deket kampus." Setelah mengatakan itu, Difa pergi entah kemana dan Tama terdiam dengan apa yang ia dengar.
***
Malam pun tiba, Tama masih ragu apakah dia akan pergi menemui Difa atau tidak.
Di lain tempat, Difa telah menunggu sosok Tama, tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan Tama. Tak lama kemudian, hujan turun tetapi Difa tidak beranjak untuk berteduh hingga akhirnya ia kedinginan, dan akhirnya pingsan.
Tama, ia makin ragu untuk datang karena di luar sedang hujan, dan ia berpikiran bahwa pasti Difa sudah pulang karena hujan. Tetapi, hati Tama cemas, kalau-kalau Difa tetap menunggunya, akhirnya Tama berjalan ke taman dengan ditemani rintikan hujan. Tak disangka, Tama menemukan Difa terbaring di tengah-tengah hujan dan ia mengatakan "Maafkan aku Difa, karena menungguku kamu rela hujan-hujanan seperti ini dan tidak sadarkan diri." Tama pun langsung membawanya ke rumah sakit. Harap-harap cemas ia menunggu dokter datang, dan akhirnya dokter dan tama langsung memburu dokter dengan pertanyaan, "Dok, bagaimana keadaan Difa?"
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya karena suhu yang terlalu dingin membuat darah Difa membeku dan berhenti mengalami sirkulasi. Dan maaf saya harus segera pergi." Dokter meninggalkan Tama, dan tanpa aba-aba, Tama langsung masuk ke ruangan Difa.
"Difa, maafin aku, aku tau aku salah, karena aku membiarkanmu menunggu lama di bawah rintikan hujan." Tama lalu memegang tangan Difa dan mulai mengeluarkan cairan hangat dari matanya.
"Sebenarnya aku juga suka sama kamu, dan sekarang aku sudah yakin kalau kamulah yang mampu menaklukan hatiku yang dingin ini. Aku salut sama kamu yang selalu mencoba aku buat menjawab semua pertanyaanmu dengan ramah. Dan kenapa disaat aku sudah merasakan perasaan ini, kamu harus pergi tinggalin aku, aku menyesal telah berbuat seperti ini yang menyebabkan kejadian fatal begini. Aku menyesal Difa, Aku sayang sama kamu."
Difa yang memang berencana mengerjai Tama dengan menyuruh dokter berbohong itupun berhasil dan dikagetkannya si Tama.
"Dorr!! Akhirnya aku tau kalau perasaanku terbalaskan."
Tama yang kaget pun hanya membelalakkan matanya tak percaya.
"Maaf, aku harus berbohong Tam, karena aku ingin tau perasaanmu kepadaku."
Tanpa ba-bi-bu Tama pun langsung memeluk erat tubuh Difa.
"Difa, maafin aku ya, dan aku sayaaaaang....banget­ sama kamu, hanya kamu yang senekat ini berjuang demi aku."
"Maafin aku juga ya Tama, karena aku sudah berbohong kepadamu dan membuat kamu menangis. Aku juga sayang sama kamu."
"Udahlah, lupain aja! Yang penting sekarang kita udah bersama dan aku janji akan selalu bersamamu selamanya."
"Makasih ya Tama."
"Iya, sama-sama Difa."
Mereka pun akhirnya telah bersama dan menjalani hari-hari dengan gembira serta Tama pun berubah menjadi seseorang yang menyenangkan bagi siapa saja, tetapi hatinya hanya terpaut pada satu wanita, yaitu Difa. Dan semua itu berkat keberanian Difa dan hujan yang mempersatukan.
.
Thanks buat fp CTCR yang mau menerima karyaku dan mempostingnya.
Bila ceritanya gak menarik dan gak menghibur maafkan yaa..
.
Ms Nii

0 comments:

Post a Comment