Home » , » Sahabatku

Sahabatku

Sahabatku

Oleh : Aniva
Setiap orang mengatakan bahwa persahabatan itu indah. Ya, kebanyakan dari mereka memang berpikir demikian. Tapi, di sisi lain, Nita beranggapan lain. Hal yang justru berbanding terbalik dengan ungkapan ‘Persahabatan itu indah’, gadis itu justru menganggap persahabatan itulah hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Jika ada yang bertanya mengapa ia beranggapan seperti itu, jawabannya adalah, Nita pernah jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, dan pada akhirnya, ia dijauhi. Dan itu adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidup seorang Nita.
Nita Amalia, adalah seorang gadis manis berambut sebahu dan berwajah bulat. Ia tinggal di sebuah perumahan sederhana yang terletak di pinggiran kota kecil tempat ia tinggal. Nita Amalia lebih sering dipanggil Nita oleh keluarga maupun teman-temannya. Nita memiliki seorang sahabat, dan mereka sudah bersahabat sejak kecil. Bahkan rumah mereka juga berdekatan. Nama sahabat Nita adalah Fauzan. Laki-laki pendiam, namun baik hati. Nita sangat menyayangi Fauzan sebagai sahabatnya, begitupun dengan Fauzan yang menyayangi Nita. Bahkan Fauzan sendiri sudah menganggap Nita seperi adik kandungnya.
Setiap hari, Nita dan Fauzan selalu berangkat ke sekolah bersama-sama. setelah pulang sekolah, mereka biasa berkumpul untuk mengerjakan tugas bersama, atau paling tidak ya, bermain. Sekilas, mungkin mereka terlihat akur jika sedang bersama. Tapi, terkadang juga sering saling mengejek dan menjahili satu sama lain. Bahkan mereka juga punya julukan masing-masing. Nita biasa memanggil Fauzan dengan sebutan ‘ikan paus’. Julukan itu diambil dari nama Fauzan, yaitu ‘Fauz’, yang diplesetkan menjadi ‘paus’ oleh Nita. Karena merasa tidak terima, Fauzan juga memanggil Nita dengan sebutan ‘fussy’ yang artinya cerewet. Memang, Nita kalau sudah berbicara, pasti tidak mau berhenti. Kira-kira, seperti itulah kisah mereka. Namun itu semua hanyalah sebagian kecil dari kisah persahabatan mereka. Dan dari semua itu, tak ada yang begitu tahu keindahan persahabatan mereka di masa kecil. Kecuali Tuhan dan mereka sendiri.
Sampai suatu hari, Nita merasakan ada hal aneh pada dirinya. Semuanya diawali ketika ia berada di bangku SMA. Saat itu, Nita dan Fauzan berada di dalam satu kelas yang sama. Tempat duduk Fauzan yang berada di belakang Nita, membuat Nita hampir setiap hari berinteraksi dengan Fauzan. Nita merasa, ia tak bisa lepas dari Fauzan. Setiap Fauzan tidak berada di bangkunya, mata Nita pasti selalu mecari keberadaan fauzan. Terus menerus seperti itu, setiap ia dekat dengan Fauzan, ia selalu merasakan hal lain. Hal yang lebih dari sekedar persahabatan. Hal yang lebih dari perasaannya kepada Fauzan, saat ia masih kanak-kanak dulu. Dan Nita sendiri juga bingung ketika merasakannya. Bahkan, ia sendiri juga tak pernah berpikir akan merasakan ini semua. Semuanya, semua rasa itu datang begitu saja menghampirinya. Rasa itu datang tanpa ia tahu, dan akhirnya terus bercokol di hatinya. Tak peduli jika Fauzan itu sahabatnya. Sahabat terbaiknya. Sampai ia sadar, bahwa ia begitu menyayangi Fauzan lebih dari seorang sahabat. Lebih dari itu, ia mencintai Fauzan.
Sejak Nita merasa kalau ia memiliki rasa yang lebih terhadap Fauzan, Nita berusaha untuk terus menutupi perasaannya dari semua orang, termasuk teman-temannya. Sayangnya, salah satu sahabat dekat Nita yang lain bernama Desi, menyadari gelagat aneh Nita yang selalu memandang Fauzan dengan tatapan lain. Desi adalah teman kepercayaan Nita, dimana dia adalah tempat bagi Nita untuk curhat dan menuangkan segala masalah.
“Tapi, apa Fauzan juga menyukaiku? Selama ini Fauzan selalu menganggapku hanya sebagai sahabatnya. Lebih dari itu, dia hanya menganggapku sebagai adiknya. Dan bagaimana jika ia nanti menjauhiku, kalau dia tahu aku menyukainya lebih dari sahabat?” kata Nita gelisah, ketika Desi menyarankan dirinya untuk menyampaikan perasaannya kepada Fauzan. Karena yang Desi tahu, Fauzan yang ia kenal adalah sosok yang baik hati.
“Kenapa kau beranggapan seperti itu? Tak ada salahnya ‘kan mencoba dulu. Lagipula, kita juga belum tahu hasilnya. Namun, kau juga harus berani mengambil resiko, jika seandainya Fauzan menolakmu.” Kata Desi. Nita terdiam sesaat. Kata-kata yang di ucapkan Desi memang ada benarnya. Tapi, entah kenapa di dalam benaknya, Nita masih ragu untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Desi.
“Apa aku harus melakukannya? Aku takut, Des.. Aku takut jika Fauzan nanti berubah karena perasaanku ini.”
“Kenapa kamu harus takut? Setiap orang juga punya hak untuk menyukai orang lain. Termasuk juga dirimu, Nita. Lakukanlah apa yang harus kamu lakukan. Jangan memendam perasaanmu terlalu lama. Asal kau tau saja ya, memendam perasaan lama-lama nggak baik lho, buat kesehatanmu.” Kata Desi sedikit bercanda.
“Ya, terima kasih banyak, Desi. Akan aku usahakan.” Kata Nita sambil tersenyum.
Sampai beberapa hari ini, semenjak Nita curhat dengan Desi, hubungan persahabatan Fauzan dan Nita tetap seperti biasanya. Saat itu, Nita belum menyampaikan perasaannya kepada Fauzan. Namun, Fauzan yang tergolong anak jenius, menyadari ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Nita. Sikap Nita padanya akhir-akhir ini, membuat Fauzan sadar, dan akhirnya sedikit demi sedikit menjauhi Nita. Sikap Fauzan yang semakin menjauhinya, membuat Nita heran dan bimbang secara bersamaan. Akhirnya, Nita memutuskan untuk mengutarakan perasaanya kepada Fauzan. Saat itu Nita berpikir untuk mengatakannya, supaya beban di hatinya terangkat.
Beban di hati Nita memang telah terangkat. Dan ia juga sedikit lega setelah mengatakannya kepada Fauzan. Namun di keesokan harinya, semuanya berubah. Fauzan, yang notabennya adalah sahabat dekatnya, menghilang begitu saja bagai ditelan bumi. Dia, Fauzan, yang selalu bersama Nita, berbagi tawa dan kesedihan dengan Nita, kini telah berubah. Fauzan memang masih duduk di belakang Nita. Tapi sekalipun, ia tak pernah mau melihat ke arah Nita lagi. Fauzan, yang dulu Nita kenal adalah sosok yang ramah dan baik hati, kini sudah berubah seperti manusia es. Bahkan, Nita juga tak tahu, apakah Fauzan masih menganggapnya ada atau tidak.
Semenjak kejadian itu, Nita begitu menyesali semua hal yang ia lakukan. Nita berpikir, seandainya saja ia tidak mencintai Fauzan, pastinya sampai saat ini ia tetap bisa dekat dengan Fauzan, meskipun hanya sebagai sahabatnya. Rasanya, ia ingin kembali ke masa kanak-kanak dulu. Dimana, saat itu ia tak pernah tahu tentang cinta seperti sekarang. Yang ada hanya persahabatan. Cinta membuat mereka terpecah. Cinta juga, yang membuat mereka saling menjauhi dan mendiamkan. Di depan teman-temannya, mungkin Nita akan bersikap ceria seperti biasa. Namun itu semua dilakukan Nita, semata-mata hanya untuk menutupi kesedihannya saja.
“Sudahlah, Nita. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja.” Kata Desi, mencoba menghibur Nita.
Memang, tak ada yang tahu tentang keadaan Nita yang sebenarnya. Semuanya mengira, hubungan Nita dan Fauzan sebagai sahabat masih baik-baik saja. Hanya Desi yang tahu keadaan Nita yang sebenarnya. Sebenarnya, Desi juga ikut sedih akan hal yang dialami oleh Nita. Namun apa daya? Semuanya sudah terjadi.
“Aku yakin, suatu saat nanti, Fauzan pasti akan menjadi sahabatmu kembali. Tidak peduli berapa lama kau akan menunggu, yang namanya sahabat, pasti akan tetap menjadi sahabat untuk selamanya. Percayalah!” Hibur Desi.
Nita tersenyum mendengar kata-kata Mia. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Mia. Sahabatnya yang satu ini, memang tahu segala hal yang tentang dirinya. Tak peduli berapa lama waktu bagi Nita untuk kembali menjadi sahabat Fauzan, cepat maupun lambat, Fauzan pasti akan menjadi sahabatnya kembali. Karena Nita tahu, Tuhan itu Maha adil. Buktinya saja, ia masih memiliki banyak sahabat baik yang mau menerimanya. Salah satunya Desi.
“Dan jangan hanya memikirkan masa lalumu. Kau juga memiliki masa depan, Nita!”
Ya, Nita juga sadar akan hal itu. Hidup itu tak selamanya harus melihat ke belakang, dan hanya terpaku pada masa lalu. Seburuk apapun hal yang dialami oleh Nita, dia akan berusaha untuk bangkit kembali. Karena baginya, hidup itu seperti mengendarai sebuah sepeda. Jika ingin tetapa seimbang dan tak terjatuh, maka ia harus tetap bergerak, walaupun itu perlahan. Dari kejadian ini, Nita belajar banyak hal kecil yang berharga. Mulai dari persahabatan, perasaan, hingga makna dari kehidupan.
TAMAT.
Terima Kasih CCTR

0 comments:

Post a Comment