Home » » November 14

November 14

November 14

Oleh : Agung Derajat
.
Rasa sayang yang terukir, tak bisa ku ungkap. Cinta yang tumbuh perlahan, hanya dapat kurasakan. Sebuah ungkapan yang ku simpan selama ini kepada seseorang. Ungkapan yang pertama dan penuh perasaan yang telah ku buat tapi aku tidak mampu mengungkapkannya. Banyak hal yang datang secara tiba-tiba saat ungkapan itu ingin ku ungkapkan, membuatku urung untuk mengungkapkannya.
"Kenapa senja selalu membawa kenangan indah itu. aku selalu teringat tentang kebersamaan, tentang waktu yang pernah kita habiskan berdua, saat senja mulai tiada, wid." Batinku yang asik pandangi senja tuk kesekian kalinya, yang mulai di rangkul gelap..
"Heh!" Suara dan tepakan, wida. membuyarkan lamunanku. Tanpa jawaban, aku hanya menengok kebelakang, dan memberi sedikit senyuman.
"Kamu kenapa?" Tanya wida.
"Engga, wid." Jawabku, sembari mengalihkan pertanyaan wida. "Selamat ya, atas kelancaran acara hari ini. Tadi, kamu bagus banget, wid. Sampai aku terpukau melihatmu."
"Haha ah kamu bisa aja, ki. Eh ngomong-ngomong makasih, ya. Kamu udah nyempetin waktu buat nonton konser aku, sama maaf bikin nunggu lama" sambil tersenyum kecil, yang amat manis terlihat. "Senyum yang begitu memukau hati, aku terhanyut dalam senyum manismu itu, wid. Senyuman yang memberiku rasa yang berbeda." Batinku, aku kembali hanyut dalam lamunan, sembari menatap mata yang memberi ketenangan.
"Heh!" Wida mengoyahkan badanku "lah bengong lagi, kamu kenapa sih" sembari sedikit kesal, karna ucapannya tadi tak ku lanjut dengan jawaban.
"Jam segini masih ada angkot gak?" Ucapku yang menghiraukan.
"Emang kamu kesini pake apa?" Tanya dia.
"Aku ngangkot, wid. Motorku lagi di pake sama sodara"
"Oh gitu, ya udah aku anter ya sampe bunderan" ujarnya.
"Iya ayo, wid." Ajakku yang padahal masih ingin menatap mata yang memberi pacaran cahaya yang indah, yang membuat ketenangan. Dan bulu mata yang lentik nan lebat, yang aku sukai darinya.
Kami berjalan, menelusuri trotoar. Di depan deretan toko-toko, yang hampir tutup. Senda gurau, menambah kehangatan perjalanan kami, malam itu. Tiba-tiba dia mengandengku. Tanpa sadar, aku hanya mengikuti naluriku. Dia mengulurkan tangannya, mencoba meraih tanganku, dan aku pun menyambut tangannya. Kamipun bergandengan, hingga ke bunderan.
"Tuh angkot" lalu meneruskan ucapannya "tapi tunggu yang kosong aja, itu penuh." Ujar dia.
"Oh iya santai aja, wid" jawabku sembari menujuk bangku di bunderan itu, untuk sekedar duduk santai menunggu angkot.
Ketika kami sedang asik bercanda dan bercerita, tiba-tiba angkot itu sudah berada di depan, tempat kita duduk. Oh ternyata, ada penumpang di sebrang sana. Segera wida menyuruhku pulang, karna takut kemalaman. Aku pun pamit pulang kepadanya, lalu bergegas menaiki angkot itu. Sesekali aku menengok kebelakang, melihat ia yang masih berdiri menatap angkot yang mulai berjalan.
Di sepanjang perjalanan pulang, aku masih merasa kehangatan, tadi. Aku semakin yakin, dengan perasaan ini. Tanya jawab antara hati dan pikiran, dan lamunanku membuat perjalanan tak terasa. Aku turun, lalu berjalan sekitar 100 meter menuju rumah. Sesampainya aku langsung menganti pakaianku, dan berbaring di kamar. Kamar adalah tempat dimana aku menuangkan semua unek-unek. Aku selalu berbicara dengan batinku, aku selalu bertanya tentang apa yang sedang aku rasakan, sekarang. Besok, harapku kami kembali hangat dan bernostalgia tentang malam ini.
Aku bangun terlalu pagi, pagi ini. Segera ku cek ponselku. Ternyata, ada pesan dari wida "selamat pagi ariski." Aku tersenyum di pagi itu, dengan muka kusut dan berminyak. Segera aku balas pesan singkatnya "selamat pagi juga, wida." Aku langsung bergegas ke kamar mandi. Setelah rapi dan agak sedikit wangi, aku menanti balasan darinya yang sedikit-sedikit mengecek ponsel. Tapi setelah beberapa jam ia menjawab, lalu aku balas dan setelah berapa jam membalas lagi. Aku sedikit kesal, mungkin karna aku telah menyimpan rasa untuknya, dan harapku hari ini bisa di habiskan untuk bernostalgia, tapi nyatanya tidak.Aku mencoba menelponnya setelah balasanku tak ia balas. Namun sama halnya, ia tak menjawab telponku.
Kala senja mulai nampak, ia baru membalasnya. Aku yang sudah terlanjur kesal, hanya membalas singkat. Setelah beberapa menit ia mengirim pesan. "Ki, kamu marah ya karna gak aku balas? Maaf, tadi siang aku tidur. Atau tepatnya aku ketiduran." Aku tak menghiraukannya, karna yang aku harap hari ini akan hangat seperti kemarin. Lalu wida membuat sebait kata-kata yang sedikit menyakitkan. Yang entah tertuju kepada siapa, tapi aku merasa. Aku berpikir, mungkin sebagian itu untukku. Aku tersadar, bahwa memang mungkin di hidupnya, bukan hanya aku yang penting. Aku merasa tak di hargai atas waktu yang kemarin susah payah aku sempatkan untuknya. Sakit? Pasti. Memang sebenarnya ini kesalah pahaman, tapi aku sudah terlanjur tersadar. Aku mencoba menunda semua keinginan dan rencana, atau keseriusanku untuknya. Aku hanya merenung, dan meyakinkan perasaan yang sudah terlanjur ada, untuknya.
Aku tersadar dari angan yang terlalu jauh. Aku sempat mengikatkan seutas benang padamu, namun engkau memutusnya. Aku yang sudah terlanjur yakin, kembali patah. Aku seperti hewan yang tak mampu berkata-kata. Menyesal? Iya, karna terlalu cepat aku meletakan hati ini, untuknya.
Setelah beberapa minggu, aku berpikir dan mencoba meyakinkan perasaan yang ada, untuknya. Ternyata semakin hari, semakin bertumbuh. Dan ini bukan perasaan yang semu.
"Ya rabb, mungkin terlalu cepat jika aku berpikir ke arah sana. Namun, yakinkanlah hati ini. Istiqomahkan lah aku. Semoga ia, yang selama ini aku cari." Seruku dalam hati.
Sendiri, ku pandangi langit malam ini dengan semilir angin malam menerpa tubuhku, sampai merasuk hingga ke sumsum. Hanya, kerlip bintang dan senyum rembulan yang setia menemaniku, menatap bayang semu tentangmu, wid.
"Ariski....." teriak wanita, yang entah bersumber dari mana. "Mengapa aku berada disini? Tempat asing tak berpenghuni. Siapa kau yang berani memanggilku? Siapa?" Tanyaku dalam mimpi. Lalu ketelusuri, selangkah demi selangkah kakiku berpijak di tempat itu. Ada sepercik cahaya yang menuntun langkahku untuk mendekatinya, namun sebelum aku sempat mendekatinya. Ternyata, banyak sekali ribuan pasang mata. Yang sama halnya, ingin mendekati pancaran cahaya itu. Aku mencoba melangkah mundur, namun seperti ada yang menahanku. Ketika aku berusaha melawannya, tiba-tiba.. aku di kagetkan dengan seorang perempuan yang berada tepat, di sumber cahaya itu. Mungkinkah ia, yang memanggilku tadi? Ataukah cahaya itu darinya? Ketika aku sibuk bertanya-tanya. Pancaran cahaya di sekujur tubuhnya semakin menyilaukanku; aaaaa...
"Ariski, bangun!" Panggil ibu. Ternyata ini hanya mimpi, dan seberkas sinarmu membuat ku terbangun dari mimpi itu. "Apa maksud semua ini?" Tanyaku sembari masih berdiam, dan memikirkan semua itu di atas kasur kamar.
"Aku tahu, bukan hanya aku di hatimu, dan untuk menggapaimu, itu sulit." Seruku dalam hati, yang mencoba mengartikan mimpi tadi.
Aku mencoba untuk tepiskan rasa ini, dengan mencoba untuk dustai hati, tapi aku tak mampu. Semakin aku melupakanmu, semakin aku rindukanmu. Kini, aku yakin akan rasa ini. Yakin ini bukan semu. Yakin akan hati yang bertabur cinta. Aku harap kau mengerti, lalu sadar.
Hari ini, aku putuskan untuk menemui wida. keyakinan ini, yang akan menuntunku menumuinya.
"Wid, nanti sore aku jemput kamu ya?" Ujarku dalam telpon. Yang padahal kami sudah lama tak berkomunikasi, setelah kejadian itu.
"Iya.." jawab dia gugup.
Aku segera merapikan pakaian, dan mengeluarkan motor dari garasi.
Hari ini, tepatnya tanggal 14 november. Adalah hari dimana aku akan mengutarakan semua perasaan yang telah lama aku simpan, dan pendam. Semoga hari ini, menjadi saksi cinta kita.
"Semoga ia menerimaku" batinku, sembari melajukan motor.
Setelah satu jam perjalanan menuju tempat kerja wida. aku sampai dan menunggu beberapa menit hingga akhirnya wida datang menghampiri. Tanpa senyum yang biasa ia lukiskan untukku. Tak apa. Aku tak terlalu menjadikan suatu masalah.
"Pulang kemana sekarang?" Tanyaku.
"Ke rumah kakak" jawab dia.
"Oke" segera aku lajukan motor ini..
Di sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti kami. "Tak seperti biasanya" ujarku dalam hati, sembari pandangi dia di spion.
Sampainya disana, wida pun langsung turun. "Terima kasih, ya." Lalu melangkahkan kakinya dan meninggalkanku.
"Tunggu, wid." Dengan serontak aku memanggilnya. Dia pun berhenti dan menengok ke arahku.
Aku langsung mangambil tangannya, dengan modus "Tumben gelang ini di pake."
"Kamu memberhentikan langkahku, hanya itu? Dasar aneh" ujar dia yang sedikit kesal.
"Bukan, bukan itu wid. Sebenarnya.." dengan tangan wida yang sedang aku genggam erat "aku sayang kamu, wid." Serontak membuat wida bengong, dan tak menyangka. Aku menyatakan sayang secara mendadak. Karna emang aku bukan tipe orang yang romantis, yang bisa membawakan bunga, atau menembangkan sebuah lagu.
"Maksud kamu?" Jawab dia penuh tanya.
"Iya, aku sayang kamu wid. Mau kan kamu jadi pedampingku?" "Hah?" Ujar wida yang memotong ucapanku.
"Jujur, selama ini aku sayang kamu wid. Tapi, aku di terpa dilema yang berkepanjangan. Sekarang, aku yakin atas semua perasaan yang ada, untukmu. Dan aku tak ragu lagi." mulutku berucap pelan, penuh arti. Seluruh tubuhku sangat gugup gemetaran.
Iya hanya memberi sedikit senyum, tanpa kata. Hanya menganguk, saja. Apa arti ini? Apakah ia menerimaku? Oh sungguh, ia menerimaku?
"Jadi?" Tanyaku pelan.
"Iya" jawab ia dengan senyuman yang masih menghiasi wajah cantiknya.
Sungguh aku tak percaya, dengan semua ini. Tapi ini memang nyata adanya. Dia menerimaku. Dan aku akan menjadi seseorang yang berarti untuknya. "Aku akan berusaha menjadi yang terbaik, untukmu wid." Jawabku riang.
Sekarang aku dan wida resmi mengikat cinta dalam sebuah status pacaran. Tepat, di tanggal 14 november. Semoga kita bisa bersama arungi bahtera ini, untuk bersama melangkah menyusuri, hingga nanti..
End
Terimakasih admin, semoga tetap berjalan, memperlihatkan hasil karya-karya yang tak seberapa ini. Dan memberi sepercik motivasi untuk belajar menulis bagi pembaca.
.
Ms Nii

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts