Home » » Matamu dan perkara-perkara lain yang membuatku jatuh cinta.

Matamu dan perkara-perkara lain yang membuatku jatuh cinta.

Matamu dan perkara-perkara lain yang membuatku jatuh cinta.

Oleh: Ismy Ayu Wandirra
.
"Aku tak pernah main-main soal mengagumi. Temui aku, di pojok kafe meja nomor 15, sabtu malam minggu jam delapan"
Namanya yadi. Aku membacanya pada nametag yang terpasang disaku bajunya.
Dari sekian banyak petugas tiket kereta api di ini stasiun, boleh jadi yadi adalah petugas paling ramah dibandingkan yang lain. Kerap kali petugas tiket memasang wajah kaku dan ketus saat melayani calon penumpang.
Yadi memberikan service terbaik berupa senyuman, bukan hanya untukku, tetapi juga kepada pengantre sebelumku, pun sesudahku.
Lebih dari berkali-kali aku kedapatan mengantre pada loket dimana ia bertugas jaga melayani. Ia selalu hafal tujuanku, bahkan sebelum aku menjelaskan.
"Depok baru?" katanya setelah melihatku.
Aku mengangguk.
Dihari-hari berikutnya aku memutuskan untuk membalas senyumannya karena merasa tersanjung; dari sekian banyaknya calon penumpang, ia hafal tujuanku. Sementara itu, pada banyak pertemuan selanjutnya, ia mulai melemparkan macam-macam pertanyaan; siapa namaku, kerja dimana, atau pulang jam berapa setiap harinya?
Untuk ketiga hal itu aku hanya membalasnya dengan memamerkan barisan gigiku yang tidak rapih.
Dunia menjadi sempit sekali.
Orang-orang yang menempati bumi ini begitu banyak, milyaran. Dan aku harus bertemu lagi dengan mereka-mereka didalam sebuah alasan bernama rutinitas. Seperti halnya yadi, yang kujumpai pada suatu perjalanan.
Sampailah hari dimana ia mengajakku berkenalan lebih jauh.
"Aku ingin memandangmu lebih lama tanpa dibatasi sekat kaca sialan ini" ujarnya sebelum memberikanku uang kembalian sambil mengetuki sekat kaca diantara kami.
"Aku tak pernah main-main soal mengagumi. Temui aku, dipojok kafe meja nomor 15, sabtu malam minggu jam delapan. Bagaimana?" katanya menegaskan.
Aku hanya melemparkan senyuman. Barangkali ia tak pernah serius mengatakannya. Meskipun sampai harus keluar dari ruang kerjanya, meninggalkan antrean calon penumpang dan berteriak dibalik punggungku.
"Jangan lupa pojok kafe sabtu malam minggu jam delapan ya !!"
Setelah Tap-in tiket, aku memilih berlalu, dan melanjutkan langkah menuju peron enam. Sampai keretaku datang, aku mencoba mengintipnya dari balik kaca jendela. Ternyata pria itu masih berdiri ditempatnya menyaksikan perjalananku.
Kereta pun berlalu.
****
Barangkali mereka yang pergi akan kembali lagi. Entah kapan. Tetapi menunggu adalah pelajaran soal ketabahan yang tak terbilang.
Di Pojok kafe meja nomor 15 aku masih setia menantikannya, perempuan yang bahkan belum ku ketahui siapa namanya. Aku tak pesimis, harapanku besar padanya, ia sudi datang.
Aku membayangkan. Ia akan datang mengenakan jeans biru tua dan blouse lengan panjang berbahan babat warna hitam yang biasa dipakainya. Aku suka sekali melihatnya dengan busana itu. Meskipun sebenarnya dengan setelan apapun ia tetap terlihat cantik.
Ia lalu mengambil duduk berhadapaan denganku. Ia akan memanggil pelayan kafe untuk memesan cokelat panas dan kentang goreng lengkap dengan saus tomat dan mayonaisenya. Lalu ia akan bertanya padaku "Kamu mau pesan apa?"
Kami bertabrakan mata tanpa jarak sekat kaca. Aku bisa memandangnya lebih jelas lagi. Matanya yang sangat indah.
"Pesan apa, kak?"
"Kak, pesan apa??"
Wajahnya tiba-tiba saja menghilang tetapi suaranya justru semakin jelas terdengar ditelinga.
Aku tersadar dari lamunanku ketika seorang perempuan menepuk bahuku dengan lembut. Pelayan kafe rupanya.
"Kakak, pesan apa?"
"Latte ya"
Pelayan kafe itu lalu pergi sebelum aku sempat membenahi khayalanku. Buru-buru sekali ia mengganggu lamunan malam mingguku.
Untuk mengusir penat, aku mengambil sebuah novel dari rak buku yang berada tak terlalu jauh dari mejaku.
Aku tenggelam dalam novel karya salah satu penulis terbaik indonesia. Khusyuk aku menikmatinya dengan secangkir latte, lampu kafe yang temaram, serta musik jazz yang menenangkan.
Hanya saja dua jam pun telah berlalu, perempuan itu tak pernah datang menjumpaiku.
****
Kekasihku dave mengajakku makan malam. Tentu dave ingat bahwa hari ini adalah hari perayaan jadian kami tahun kedua. Ia yang menentukan tempatnya. Aku tiba lebih dulu karena pekerjaanku tidak terlalu banyak.
Ia memilih pojok kafe yang jaraknya tidak terlalu jauh dari stasiun kereta. Katanya, aku hanya perlu bejalan sedikit lebih jauh dari biasanya.
Sebelumnya aku seperti tak asing lagi dengan nama pojok kafe, aku pernah mendengarnya tetapi lupa entah dimana dan kapan.
Barangkali memang pojok kafe nama yang sangat familiar.
Aku memesan cokelat panas dan kentang goreng lengkap dengan saus tomat dan mayonaise. Tak lama setelah pesananku datang, aku melihat dave muncul dari balik pintu kafe.
Ia menghampiri mejaku. Mencium pipi kanan serta pipi kiriku. Ia juga memberikanku kotak kecil berbungkus kertas kado merah jambu yang tak akan kubayangkan apa isinya. Dave terkadang penuh kejutan.
"Sayang, kau tidak pesan makanan?"
Dave memandangku tajam.
"Aku tidak lama"
"Oh begitu. Ini minum punyaku, cokelat hangat. Kau pasti haus"
Aku mengangkat gelasku dan memberikannya pada dave. Dave meraihnya, tetapi tak meminumnya. Ia justru meletakan gelas itu lagi ke meja.
Kami berpandangan cukup lama. Sampai akhirnya dave menggenggam tanganku, dan menarik nafas cukup panjang. Ia bersiap memulai kalimatnya.
"Ra, kita selesai"
"Apa?"
Kalimat dave tak dapat kuterima dengan baik ditelingaku. Entah karena musik jazz di pojok kafe yang bervolume terlalu kencang atau memang karena aku tak berharap dave akan mengucapkan hal itu. Aku memintanya untuk mengulangi perkataannya sekali lagi.
"Hubungan kita cukup sampai disini, ra"
Dave lalu mengangkat bokongnya dari kursi. Ia hendak pergi. Sementara aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dave mengecup keningku, dan berlalu.
Aku buru-buru membuka kotak kecil berbungkus kertas kado warna merah jambu pemberiannya. Rupanya cincin yang pernah tersemat dijari tengahnya, cincin jadian kami. Ia mengembalikannya kepadaku.
Dave, kau sungguh penuh dengan kejutan !
****
Perempuan yang bahkan belum kuketahui siapa namanya itu sedang berdiri didepan loket antreanku. Ia menyerahkan uang lima puluh ribu sehingga aku harus memberikannya kembalian. Sesungguhnya aku senang ia bisa sedikit lebih lama di ini mata memandang. Hari ini ia mengenakan dress merah dan sepatu flatshoes putih dengan hiasan pita merah senada bajunya. Parfumnya lebih banyak tumpah ketubuhnya sebab tercium lebih jelas daripada biasanya. Akan tetapi perasaan kecewaku sebab beberapa waktu lalu diabaikannya masih terasa.
"Terimakasih" katanya sambil mengambil uang kembalian. Ia berlalu dari hadapanku.
Jantungku berdegup kencang menerjemahkan rindu dan bahagia yang membuncah. Setelah hari dimana aku membuat perjanjian dipojok kafe yang bahkan tak pernah disepakati olehnya, aku baru melihatnya lagi. Cukup lama. Lebih kurang dua bulan. Sebab selama itu pula aku tak bertugas di ini stasiun.
Ia menampakan ekspresi biasa saja, seolah didalam hidupku tak pernah terjadi apa-apa. Menganggapku serupa halnya petugas tiket kereta api lain. Tidak lebih.
Hari ini terjadi penumpukan calon penumpang, dibanyak stasiun termasuk juga di ini stasiun. Salah satu kereta mengalami gangguan yang mengakibatkan kereta lain dibelakangnya sulit untuk meneruskan perjalanan. Tertahan.
Jam kerjaku telah berakhir. Aku beranjak meninggalkan loket untuk segera berganti pakaian.
Aku teringat perempuan yang bahkan belum kuketahui siapa namanya itu. Mungkin ia masih menunggu keretanya sebab setahuku kereta tujuan Pasarminggu-Depok-Bo­gor belum tersedia.
Setelah menanggalkan seragam dan menggantinya dengan t-shirt putih yang kupadukan dengan jaket hitam serta celana jeans, aku lalu menggendong jansport merahku, aku bergegas menjauhi loker karyawan.
Kubiarkan kakiku melangkah keperon enam. Sementara kepalaku celingukan mencari sosok perempuan yang bahkan belum kuketahui siapa namanya itu. Barangkali ia masih setia menunggu keretanya yang sedang terjebak gangguan.
Tidak mudah menemukannya diantara kerumunan orang banyak. Tetapi dengan sangat pelan aku menyusuri setiap keramaian.
Akhirnya mataku berpesta saat melihatnya tengah berdiri dan bersandar pada pilar di ujung stasiun.
Ia sedang menyumpal telinganya dengan headset berwarna ungu. Tasnya dipeluknya erat-erat.
Aku menghampirinya lalu menepuk bahunya dengan lembut. Ia cukup terkejut melihatku.
Ia pun melepas headset dari telinganya.
"Kau yakin mau naik kereta?"
"Loh memangnya?"
"Keretanya tertahan entah sampai kapan. Bagaimana kalau kuantar kau pulang naik motor saja?"
Ia tak memberi jawaban, hanya memandangiku lekat-lekat.
"Sungguh aku bukan orang jahat. Aku kerja disini melayani tiket. Ingat?"
Ia mengangguk.
"Ya, anggaplah ini bentuk usahaku untuk mengenalmu lebih dekat. Kau tidak pernah memberi tahu siapa namamu, dimana kerjamu, dan bahkan perjanjian temu yang kubuat tidak pernah kau sepakati walaupun aku sudah menyengajakan diri untuk datang"
"Perjanjian temu?"
Aku sedikit menundukan kepala karena malu. Rupanya ia benar-benar tidak pernah menganggap serius usahaku.
"Iya, malam minggu di pojok kafe jam delapan meja nomor 15. Lupakan saja, sudah 2 bulan berlalu"
Ia lalu memegang bahuku.
"Ya ampun, jadi kau benar-benar pergi kesana? Bukankah aku bahkan tak menjawabnya?"
Aku mengangkat kembali wajahku. Rupanya ia tak benar-benar melupakan tawaran temu dariku. Benar bahwasannya ia mengira hal itu hanya sekedar candaan saja.
"Iya, tapi tak apa-apa. Namanya juga usaha, bisa berhasil bisa tidak"
Lalu kami tertawa untuk mencairkan suasana.
Degup hatiku benar-benar meriah karenanya. Matanya adalah lautan yang bahkan aku rela kalau harus berlama-lama tenggelam didalamnya.
"Oh iya, sudah lama ya tidak melihatmu. Kemana saja?"
Aku terkejut, rupanya perempuan yang bahkan belum kuketahui namanya itu memperhatikanku.
"Iya, jaga ditempat lain selama kurang lebih dua bulanan. Kamu mencariku?"
Ia tertawa renyah.
"Jadi bagaimana, pulangnya kuantar naik motor saja ya?"
Ia memperhatikan sekeliling.
"Semakin lama semakin ramai tapi kereta belum juga tersedia. Pasti penuh dan berdesakan nantinya. Kau yakin?"
"Bukankah jauh sekali darisini ke margonda kalau ditempuh dengan motor?"
"Tidak apa-apa anggaplah aku hanya sedang usaha"
Kami tertawa lagi.
"Jadi bagaimana, mau?"
Ia mengangguk saja dengan senyuman.
"Oh iya, siapa namamu?" kataku seraya memberikan tanganku, ia lalu menyambutnya.
"Dirra"
"Aku yadi"
Bersamaan dengan tenggelamnya matahari keperaduannya, aku dan perempuan bernama dirra itu meninggalkan stasiun.
Langit maghrib selalu indah. Akan tetapi ada yang sedang mengalihkan pandangan darinya sebab ada hal lain yang mengalahkan indahnya. Lebih dari berkali-kali menatapi kaca spion sang vixion. Itu aku; yang diam-diam mencuri pandang memandangimu, ra !
****
Perpisahan dan kehilangan adalah kematian berikutnya setelah kematian itu sendiri. Tangisku mengering sebab air mata sudah tak mampu menerjemahkannya, tetapi hatiku selalu basah menggenang kenangan.
Dave, kau mengenalkan aku pada dunia paling sunyi setelah kematian. Aku pernah kecewa karena cintaku tak berbalas, aku pernah sakit hati sebab dikhianati, aku pernah ditinggalkan dengan perkar-perkara sederhana lainnya. Akan tetapi kau pergi untuk alasan yang aku sendiri tak pernah siap menerimanya, untuk waktu yang lebih lama daripada selamanya. Kau abadi.
Dave mati. Ia sengaja memutuskan hubungannya denganku yang sudah berjalan selama dua tahun. Sebab perkara bodoh; ia tak ingin membuatku berduka dengan memikirkan soal penyakitnya yang selama ini disembunyikannya dariku.
Dave menyimpan kankernya dengan sangat rapat. Sesaat sebelum kepergiannya orangtua dave meneleponku memberi kabar agar aku segera datang. Ia terbaring dirumah sakit. Kondisinya sudah payah. Meskipun aku masih melihat dave tersenyum kepadaku. Sedetik saja aku tak pernah mau beranjak dari sampingnya, tak juga mau melepaskan genggaman tanganku dari tangannya.
Hatiku sakit. Tapi dave tak tertolong lagi. Hujan bulan desember mengantar kepergiannya. Ia berpulang kepada yang kuasa dengan senyum paling menawan.
Aku membenahi semuanya pelan-pelan. Tangisku yang pecah bermalam-malam. Pekerjaanku terbengkalai. Perut yang mengosong sebab tak selera makan, hanya selera minum kopi. Tidur yang tak pernah cukup.
Aku tak kuasa.
Setelah kehilangan dave hidupku benar-benar berantakan. Aku tahu, kau pun tak akan suka melihatnya dave. Kantung mataku tak bisa kujelaskan bagaimana bentuknya. Berat badanku turun drastis. Prosfek kerjaku tak cerah. Sakit kepala yang terlalu membebani sampai aku harus melupakannya dengan bantuan obat tidur.
Segalanya memang tak mudah.
Di-ini waktupun aku masih setia mengunjungi pekuburan dave.
"Sudah hampir malam. Kita pulang ya?"
Suara lembut yadi menyadarkanku dari lamunan. Ini kali kelima aku mengajak pria itu kepekuburan dave.
"Sebentar lagi ya, di?"
Yadi mengangguk dengan senyuman.
Mungkin untuk beberapa bulan kedepan aku tak akan mudah menginjakan kaki ketanah makam ini lagi. Kalaupun bisa, akan kuusahakan berkunjung sekali dalam sebulan. Sebab aku dipindah tugaskan bekerja ke luar kota untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.
Tetapi tentang merindukan, obat yang paling menyembuhkan selain temu adalah mendekapnya lewat do'a-do'a.
Itu pasti dave !
****
Matanya tak pernah bisa menyembunyikan kehilangan. Aku sebut itu lautan. Aku rela berlama-lama tenggelam didalamnya. Aku bahkan iklas jika harus mati didalamnya. Menjadi apa saja; kapal yang karam, dayung yang kehilangan tuannya, bangkai ikan yang membusuk, nelayan yang mati, atau apapun.
Dimatamu, aku ingin menjadi apa saja ra.
Sore di penghujung bulan oktober aku mengantar perempuan yang sangat kucintai itu sampai ke stasiun kereta api senen. Ia hendak melaksanakaan tugas dinasnya keluar kota. Ia ditempatkan dikota para pelajar.
Hujan mengiringi perpisahan kami. Katanya aku harus baik-baik saja. Padahal ia tahu jawabanku; mana mungkin akan baik-baik saja tanpa melihat keadaannya setiap hari.
"Aku butuh sehatmu, ra"
Dirra tersenyum.
Sulit untuk menyembunyikan cemas yang tak terkata. Ia hendak pergi, sementara aku mencecap perih pada luka menganga.
Kereta tak lama lagi akan segera diberangkatkan. Sesaat sebelum dirra membawa dirinya masuk kedalam gerbong, ia merobohkan tubuhnya pada pelukku. Ia mendekapku erat-erat. Matanya berkaca-kaca.
"Terimakasih selama kurang lebih setahun ini sudah menemani segala hal yang bahkan aku tidak pantas membaginya kepadamu, di"
"Hatiku serupa rumah. Pulanglah bukan karena kapan saja kau bisa kembali. Tetapi kau harus. Benahi isinya, segalanya yang menjadi berantakan semenjak kau meninggalkannya pergi"
Perempuan yang sangat kucintai itu melangkah menjemput takdirnya. Perihal perpisahan adalah pahit sepahit-pahitnya duka. Tetapi biarkan ingin Tuhan berjalan semestinya.
"Kelak kembalimu adalah hal yang aku tunggu-tunggu dimulai dari detik ini, detik saat kau berbalik memunggungiku, dan pergi"
Semoga selamat sampai tujuan, ra !
****
Aku terbangun dari tidurku dengan kejut luar biasa karena mendengar suara ibu kost membising ditelinga, ia juga mengetuk pintu berkali-kali.
Aku tak sempat membasuh wajah karena tidak sabar untuk mengetahui perihal tak biasanya ibu kost membangunkanku dipagi yang menurutku masih buta -jam setengah enam.
Aku membuka pintu dengan mata yang belum sempurna memandang.
"Nak, ini ada titipan. Kemarin tukang pos yang mengantarnya. Maaf ibu membangunkanmu sepagi ini. Ibu mau pergi ke solo kurang lebih seminggu. Nanti jam tujuh berangkatnya. Makanya sebelum ibu lupa ibu terpaksa mengganggu tidurmu"
Aku lalu menerima paket dari tangan ibu kost. Sebuah kotak berukuran sedang.
"Terimakasih ya bu"
Ibu kost pun berlalu.
Aku membuka kotak yang terbungkus dengan sampul berwarna cokelat ini secara perlahan.
Sebuah novel dengan judul "Matamu dan perkara-perkara lain yang membuatku jatuh cinta" karya Ahmad Nuryadi.
Ia mendampingi novel tersebut dengan sepucuk surat.
:
Mandirra, resah sebab merindukanmu akan kututurkan lewat tulisan ini. Aku ingin setatap temu. Matamu, dan perkara-perkara lain yang membuatku jatuh cinta, aku sungguh ingin kau menenangkannya. Barangkali kita bisa menikmati kopi bersama lagi seperti malam minggu tempo hari, atau kalau kau mual dengan kopi kau bisa menggantinya dengan cokelat panas, jangan lupa pesan kentang goreng lengkap dengan saus tomat dan mayonaise kesukaanmu. Kita akan membicarakan apa saja. Pekerjaan, cuaca-cuaca, liburan yang menyenangkn, atau tempat-tempat yang menyajikan makanan lezat khas nusantara. Ra, kita juga tidak akan lupa untuk mengunjungi dave yang selalu kita rindukan.
Aku ingin menyeregakannya, melipat jarak dengan merobohkan peluk didadamu.
Satu hal yang perlu kau tahu; novel berjudul "Matamu dan perkara-perkara lain yang membuatku jatuh cinta" yang kini ada padamu adalah hasil karya kesepianku. Aku memilih merangkainya lewat kata. Bersyukur salah satu perusahaan penerbit sudi membukukannya. Anggaplah itu bonus kesekian karena telah jatuh cinta padamu. Kau adalah berkat tuhan yang luar biasa.
Terimakasih ra, segeralah pulang.
Dari aku yang selalu ingin melihatmu bahagia;
Ahmad Nuryadi.
Tangisku tak pernah tumpah setelah kematian dave. Tetapi hari ini Tuhan mengairi pipiku lagi dengan airmata bahagia.
Aku memeluk buku "Matamu dan perkara-perkara lain yang membuatku jatuh cinta", merasakan sang penulis tengah mendekapku erat-erat lewat indahnya aksara, harapan serta do'a.
Pria itu menakjubkanku. Lewat caranya merias luka, mengemas air mata, mengindahkan tabah, membagi tawa canda, mensyukuri bahagia, dan hal-hal lain yang membuat ku terpesona.
Dave, sebab yadi; aku jatuh cinta (lagi).
****
Seorang perempuan berdiri di loketku. Ia mengenakan blouse merah lengan panjang dan celana jeans hitam. Sepatu kets hitam. Tasnya merah maroon diletakannya dibahu sebelah kanan.
Sebagian wajahnya ditutupi oleh masker. Rambutnya ikal panjang sebawah bahu.
"Mau kemana?"
Ia hanya diam saja memandangiku.
"Kau mau kemana dik?"
Kami berpandangan cukup lama. Aku mengamati matanya sebab hanya itu yang bisa aku lihat, wajahnya sebagian tertutup oleh masker.
Hatiku tersedot matanya. Terbawa arus kenangan berikut luka-luka dan airmata yang menyertainya. Aku sampai pada bagian paling palung yakni peristiwa tentang perihnya kehilangan.
Itu lautan yang sangat aku rindukan !
Mandirra.
Segera aku meninggalkan loket dan menujunya. Aku langsung menabrak tubuhnya. Roboh dipelukannya.
Ia melepas maskernya sehingga aku bisa melihat wajahnya dengan jelas tanpa penghalang apapun, tanpa masker, juga tanpa kaca loket yang kerap memisahkan kami.
Kini kami tak berjarak lagi.
Ra, pertemuan katamu adalah ingin yang tak bisa lagi dibendung. Kerap cuaca-cuaca tak pernah sanggup menyampaikannya. Pun surat-surat cinta tak cukup mampu menggambarkannya. Agar kau mengerti; maka pada setatap temu kita akan kuhadiahi kau robohnya peluk. Akan kuremukan kau dengan segala rindu yang masih sangat ngilu.
Ra, aku mencintaimu !
Depok, 20 maret 2016.
Terimakasih CTCR.
.
Ms Nii

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts