Home » » Makna Foto: "Merem Tidak Tidur"

Makna Foto: "Merem Tidak Tidur"

Makna Foto:
"Merem Tidak Tidur"

Bagi yang tidak familiar dengan dunia thoriqoh, foto Pangersa Guru Agung Abah Aos, berderet ke kiri dua Wakil Talqinnya, KH Mohammad Soleh Mukhtar Hujjatul 'Arifin dan KH Irfan Zidni Wahab akan dan bisa disalah mengerti. (Lihat upload foto)
"Ngaji kok tidur," misalnya.
Penampakan sekilas akan tampak dan terasa tidak salah. Namun untuk diketahui, inilah sesungguhnya posisi duduk ajaran yang jadi amalan para kekasih Alloh sepanjang sejarah peradaban manusia. Inilah kebiasaan sekaligus kesenangan guru-guru pecinta kesucian jiwa yang diwariskan turun temurun dari gurunya dari gurunya dari gurunya hingga hadirat maha guru suci kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad Shollallohu 'alaihi wassalam.
Posisi duduk seperti ini, sekali lagi, bukan sedang tidur. Inilah teladan "merem tidak tidur" dari Pangersa Abah untuk umat Islam, khususnya kepada para ikhwan pengamal tentang posisi duduk terbaik saat mengikuti amaliyah Manaqib dan di saat-saat senggang, di mana saja. Ini adalah posisi tubuh paling favorit Pangersa Abah saat menunggu tiba waktu sholat, apa saja dan di mana saja, wabilkhusus ketika duduk satu jam sebelum adzan shubuh berkumandang.
Kenapa sebegitu bernilainya posisi seperti ini?
Ini bukan posisi duduk biasa, melainkan posisi duduk paling utama di antara posisi-posisi lainnya di luar gerakan sholat. Inilah posisi inti dari segala inti ibadah, inilah ibadah yang nilainya setara ibadah seribu bulan.
Inilah 'tawajjuh' --mata terpejam, bibir rapat, lidah ditekuk ke atas langit-langit, dagu menyentuh dada, kepala nunduk menyamping ke posisi dua jari di bawah susu kiri... Yaitu, penghadapan seluruh jiwa raga terhadap aku, diri, hati, yang sedang tenggelam dalam lautan dzikir khofi. Inilah dzikir hati, dzikir diri, dzikir inti kalimah dzikir paling agung LAA ILAAHA ILLALLOH. Inilah dzikir aku, jeritan hati yang malaikat dan syetan pun tak bisa mendengarnya, jeritan hati yang hanya aku dan Alloh yang tahu.
Inilah posisi hidup hati yang sedang membersamakan diri dengan dan sudah kembali (sejak sekarang) kepada Yang Maha Suci. Diri yang sedang dan akan selalu menyalakan hati dengan cahaya Ilahi. Dalam hadits qudsi Alloh subhanahu wata'ala bersaksi untuk diri yang senantiasa hidup hati dengan dzikir Khofi: "...Aku bersamanya (hamba) ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat)...” (HR. Bukhari)
Semoga Alloh berkahi diri kita dengan limpahan karomah istiqomah Guru/guru Agung agar senantiasa bersamaNya, bersama dengan orang yang selalu bersamaNya. Bibarokah wal istiqomah seluruh Ahli Silsilah TQN PP Suryalaya khusus Pangersa Abah Alfatihah. Amin.
Salam khidmah ngalap karomah, [Pembantu Khusus Abah Aos/Wakil Talqin Syeikh Mursyid, Abah Jagat]
Catatan: Kepada siapa saja yang belum mengerti, ingin mengerti, ingin memiliki dzikir inti ini, dan mau sama-sama belajar membersamakan diri dengan Alloh silakan datang ke Pesantren Kesucian Jiwa SIRNARASA, atau, hubungi Para Wakil Pemandu Dzikir Agung ini, para Wakil Talqin Hadrotusyeikh Pangersa Abah Aos yang terdekat di kota Anda.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts