Home » » Ketika Kita Memarahi Anak-anak yang "Bikin Ribut" di Masjid

Ketika Kita Memarahi Anak-anak yang "Bikin Ribut" di Masjid

Oleh: Syafruddin Ramly, syafruddinramly@yahoo.com.au

SEBAGIAN pengurus masjid ada yang mengusir anak-Anak dengan alasan menggangu orang solat, apa hukumnya?

Cara nabi berinteraksi dengan anak-anak di masjid saat solat sangat berbeda jauh dengan kenyataan yang dilakukan oleh sebahagian oknum muslim terhadap anak-anak yang suka bermain di masjid.

Ketika Kita Memarahi Anak-anak yang sedang bermain dimesjid, tanpa sadar, kita seringkali menjadikan masjid sebagai tempat yang sangat tidak nyaman bagi anak-anak.
Saat mereka datang dan bermain-main di sana, kita marahi, kita bentak-bentak, bahkan kita usir, dengan alasan bikin ribut dan mengganggu orang shalat. Untungnya, anak-anak masih suka datang ke masjid karena mereka senang bermain-main di sana bersama teman-temannya.

Lantas saat anak-anak tersebut beranjak remaja, masjid bagi mereka tidak lagi terlihat menarik. Mereka kini lebih suka nongkrong di mal, di tempat-tempat dugem, tak pernah lagi mau mampir ke masjid.
Kita yang menjadi pengurus dan jamaah masjid pun semakin tua. Usia kita sudah di atas lima puluh tahun. Tak ada lagi kaum muda yang mau mampir ke masjid.

Kita hendak mengajak anak muda untuk ikut mengelola masjid, namun susahnya bukan main.
Kita gelisah, khawatir jika tak ada REGENERASI. Bagaimana jika kita semua telah tiada? Siapa yang akan menggantikan posisi kita?

Para remaja dan orang-orang setengah baya tidak tertarik untuk datang ke masjid. Sementara anak-anak kecil yang masih mau datang ke masjid, justru kita marahi, kita bentak-bentak, bahkan kita usir, hingga akhirnya mereka tidak berani lagi datang ke masjid.

Padahal, anak-anak tersebut adalah generasi penerus kita. Mereka memang nakal, suka bikin ribut di masjid, bermain-main dan bersorak-sorak ketika orang dewasa sedang khusuk shalat beribadah menghadapNya.
Kita merasa terganggu, merasa tak bisa khusuk beribadah gara-gara mereka. Kita jengkel terhadap anak-anak yang tak bisa diatur.

KITA LUPA bahwa semua anak memang begitu. Semua anak memang senang bermain-main, bikin ribut, bikin heboh. Namanya juga anak-anak.

KITA LUPA bahwa kita pun pernah jadi anak-anak. Mungkin dulu kita jauh lebih nakal dibanding mereka.

KITA LUPA bahwa anak-anak tersebut adalah generasi penerus kita.

KITA LUPA bahwa di balik keributan dan kehebohan yang dibuat oleh anak-anak tersebut, yang membuat kekhusukan shalat kita terganggu, TERSIMPAN banyak pengalaman berharga. Itu adalah pengalaman serta latihan untuk mengenal, akrab, suka, lantas cinta kepada masjid.

KITA LUPA bahwa rasa cinta terhadap masjid harus dilatih dan dibiasakan sejak dini.

KITA LUPA bahwa untuk mencintai masjid itu butuh PROSES. Dan proses terbaik itu idealnya diawali sejak usia dini, sejak seseorang masih kanak-kanak.

KITA LUPA, bahwa siapa tahu di masa mendatang justru kanak-kanak tersebutlah yang menggantikan kita. Siapa tahu, setelah remaja atau dewasa, mereka tampil sebagai umat yang sangat mencintai masjid. Mereka berdakwah, berjuang untuk memakmurkan masjid, berjuang untuk menegakkan nilai-nilai Islam, yang dimulai dari dalam masjid.

Namun sayangnya, kita tanpa sadar telah membunuh PROSES menuju rasa cinta tersebut. Tanpa sadar, kita SEJAK DINI menghancurkan semangat perjuangan dakwah tersebut dari para generasi muda tersebut.

Jika ditanya siapa yang bertanggungjawab atas sepinya masjid-masjid, maka jawabannya adalah KITA para pengurus dan jamaah masjid yang sibuk memarahi, membentak dan mengusir anak-anak yang bikin ribut di dalam masjid.
Jawabannya adalah KITA, para orang tua yang hanya sibuk menyuruh anak-anak kita shalat di masjid. Sedangkan kita justru asyik nonton sinetron dan lalai beribadah wajib.

Anak-anak kita butuh keteladanan. Bagaimana mungkin mereka mau mencintai masjid, jika kita sendiri tak pernah mau shalat di masjid. Bahkan shalat di rumah pun kita tidak pernah mau.

Kita lupa, bahwa anak-anak yang bikin ribut di masjid itu umumnya adalah mereka yang datang sendiri ke masjid, atau bersama teman-temannya, tanpa didampingi oleh orang tua masing-masing.

Jika didampingi oleh orang tuanya, anak-anak biasanya lebih gampang diatur, dan bisa tertib dalam beribadah (kecuali yang usianya masih balita).

Para jamaah serta pengurus masjid pun tak akan berani memarahi anak-anak yang didamping oleh orang tuanya.
Ya, Kita merasa terganggu oleh kehadiran anak-anak di dalam masjid. Kita lupa bahwa anak-anak yang bikin ribut di dalam masjid itu jauh lebih baik ketimbang anak-anak yang duduk dengan manis, fokus bermain game, berpesta pora, menonton film porno dan sebagainya di tempat lain.

Jika anak-anak tersebut masih bikin ribut di masjid, adalah tugas kita untuk menertibkannya dengan cara baik-baik dan lembut, penuh kasih sayang. Adalah tugas kita untuk ikut shalat berjamaah di masjid, sambil menjaga anak-anak kita agar mereka tidak sampai bikin ribut di sana.

Mari renungkan bersama-sama.

Berikut kami sampaikan beberapa kasus penanganan yang dilakukan oleh Rasulullah pada anak-anak di masjid, agar kita dapat meneladani baginda Nabi saw.:

1. Sahabat Nabi yang bernama Syaddad ra. meriwayatkan, bahwa Rasulullah datang – ke masjid- mau solat Isya atau Zuhur atau Asar sambil membawa -salah satu cucunya- Hasan atau Husein, lalu Nabi maju kedepan untuk mengimami solat dan meletakkan cucunya di sampingnya, kemudian nabi mengangkat takbiratul ihram memukai solat. Pada saat sujud, Nabi sujudnya sangat lama dan tidak biasanya, maka saya diam-diam mengangkat kepala saya untuk melihat apa gerangan yang terjadi, dan benar saja, saya melihat cucu nabi sedang menunggangi belakang nabi yang sedang bersujud, setelah melihat kejadian itu saya kembali sujud bersama makmum lainnya. Ketika selesai solat, orang-orang sibuk bertanya,

“Wahai Rasulullah, baginda sujud sangat lama sekali tadi, sehingga kami sempat mengira telah terjadi apa-apa atau baginda sedang menerima wahyu.” Rasulullah menjawab, “Tidak, tidak, tidak terjadi apa-apa, cuma tadi cucuku mengendaraiku, dan saya tidak mau memburu-burunya sampai dia menyelesaikan mainnya dengan sendirinya”. (H.R. Nasa’i dan Hakim)

عن شداد رضي الله عنه قال: خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم في إحدى صلاتي العشي الظهر أو العصر وهو حامل حسناً أو حسيناً، فتقدم النبي صلى الله عليه وسلم فوضعه عند قدمه ثم كبر للصلاة، فصلى، فسجد سجدة أطالها!! قال: فرفعت رأسي من بين الناس، فإذا الصبي على ظهر رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو ساجد! فرجعت إلى سجودي، فلما قضى رسول الله صلى الله عليه وسلم الصلاة، قال الناس: يا رسول الله إنك سجدت سجدة أطلتها حتى ظننا أنه قد حدث أمر أو أنه يوحى إليك؟ قال: “كل ذلك لم يكن، ولكن ابني ارتحلني، فكرهت أن أعجله حتى يقضي حاجته” (رواه النسائي والحاكم وصححه ووافقه الذهبي)



2. Abdullah Bin Buraidah meriwayatkan dari ayahandanya: Rasulullah sedang berkhutbah -di mimbar masjid- lalu -kedua cucunya- Hasan dan Husein datang -bermain-main ke masjid- dengan menggunakan kemeja kembar merah dan berjalan dengan sempoyongan jatuh bangun- karena memang masih bayi-, lalu Rasulullah turun dari mimbar masjid dan mengambil kedua cucunya itu dan membawanya naik ke mimbar kembali, lalu Rasulullah berkata, “Maha Benar Allah, bahwa harta dan anak-anak itu adalah fitnah, kalau sudah melihat kedua cucuku ini aku tidak bisa sabar.” Lalu Rasulullah kembali melanjutkan khutbahnya. (H.R Abu Daud)

وعن عبد الله بن بريدة عن أبيه رضي الله عنه قال: خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم، فأقبل الحسن والحسين رضي الله عنهما عليهما قميصان أحمران يعثران ويقومان، فنزل فأخذهما فصعد بهما المنبر، ثم قال: “صدق الله، إنما أموالكم وأولادكم فتنة، رأيت هذين فلم أصبر”، ثم أخذ في الخطبة (رواه أبو داود).

3. Dalam Hadis lain diceritakan, bahwa Rasulullah solat, dan bila beliau sujud maka Hasan dan Husein bermain menaiki belakang Rasulullah. Lalu, jika ada sahabat-sahabat yang ingin melarang Hasan-Husein maka Rasulullah memberi isyarat untuk membiarkannya, dan apabila setelah selesai solat rasulullah memangku kedua cucunya itu. (H.R. Ibnu Khuzaimah)

وفي حديث آخر: كان الرسول صلى الله عليه وسلم يصلي، فإذا سجد وثب الحسن والحسين على ظهره، فإذا منعوهما أشار إليهم أن دعوهما، فلما قضى الصلاة وضعهما في حجره (رواه ابن خزيمة في صحيحه).

4. Abu Qatadah ra. mengatakan: “Saya melihat Rasulullah saw memikul cucu perempuannya yang bernama Umamah putrinya Zainab di pundaknya, apabila beliau solat maka pada saat rukuk Rasulullah meletakkan Umamah di lantai dan apabila sudah kembali berdiri dari sujud maka Rasulullah kembali memikul Umamah.” (H.R. Bukhari Dan Muslim)

وقال أبو قتادة رضي الله عنه: رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وأمامة بنت العاص -ابنة زينب بنت الرسول صلى الله عليه وسلم- على عاتقه، فإذا ركع وضعها وإذا رفع من السجود أعادها (رواه البخاري ومسلم).

5. Pada Riwayat Lain Dari Abu Qatadah, Mengatakan “……… pada saat rukuk Rasulullah meletakkan Umamah di lantai dan apabila sudah kembali berdiri dari sujud maka Rasulullah kembali memikul Umamah. Dan Rasulullah terus melakukan hal itu pada setiap rakaatnya sampai beliu selesai solat.” (H.R.Nasa’i)

وفي رواية أخرى عن أبي قتادة رضي الله عنه قال: بينما نحن جلوس في المسجد إذ خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم يحمل أمامة بنت أبي العاص بن الربيع -وأمها زينب بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم- وهي صبية يحملها، فصلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وهي على عاتقه يضعها إذا ركع ويعيدها إذا قام، حتى قضى صلاته يفعل ذلك بها (رواه النسائي).

6. Dalam hadis yang lain Rasulullah berkata, “Kalau sedang solat, terkadang saya ingin solatnya agak panjangan, tapi kalau sudah mendengarkan tangis anak kecil -yang dibawa ibunya ke masjid- maka sayapun menyingkat solat saya, karena saya tau betapa ibunya tidak enak hati dengan tangisan anaknya itu.” (H.R. Bukhari Dan Muslim)

وفي حديث آخر: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إني لأدخل في الصلاة وأنا أريد إطالتها فأسمع بكاء الصبي فأتجوّز في صلاتي مما أعلم من شدة وجد أمه من بكائه” (رواه البخاري ومسلم).

7. Anas meriwayatkan, “Pernah Rasulullah solat, lalu beliau mendengar tangis bayi yang dibawa serta ibunya solat ke masjid, maka Rasulullah pun mempersingkat solatnya dengan hanya membaca surat ringan atau surat pendek.” (H.R. Muslim)

وفي رواية أخرى: قال أنس رضي الله عنه: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يسمع بكاء الصبي مع أمه وهو في الصلاة فيقرأ بالسورة الخفيفة أو بالسورة القصيرة (رواه مسلم).

8. Pada hadis lain diriwayatkan bahwa Nabi memendekkan bacaannya pada saat solat subuh (dimana biasanya selalu panjang), lalu sahabat bertanya: Ya Raslullah mengapa solat kali ini singkat, tidak seperti biasanya? Rasulullah menjawab, “Saya mendengar suara tangis bayi, saya kira ibunya ikutan solat bersama kita, saya kasihan dengan ibunya.” (H.R. Ahmad)

وفي حديث آخر أن النبي صلى الله عليه وسلم: جوّز ذات يوم في الفجر -أي خفف- فقيل: يا رسول الله، لم جوزت؟! قال: “سمعت بكاء صبي فظننت أن أمه معنا تصلي فأردت أن أفرغ له أمه” (رواه أحمد بإسناد صحيح).

9. Sahabat Nabi Yang Bernama Rabi’ menceritakan bahwa pada suatu pagi hari Asyura Rasululah mengirim pesan ke kampung-kampung sekitar kota Madinah, yang bunyinya “barang siapa yang sudah memulai puasa dari pagi tadi maka silahkan untuk menyelesaikan puasanya, dan bagi yang tidak puasa juga silahkan terus berbuka”. Sejak saat itu kami senantiasa terus berpuasa pada hari Asyura, begitu juga anak-anak kecil kami banyak yang ikutan berpuasa dengan kehendak Allah, dan kami pun ke masjid bersama anak-anak. Di masjid kami menyiapkan mainan khusus buat anak-anak yang terbuat dari wool. Kalau ada dari anak-anak itu yang tidak kuat berpuasa dan menangis minta makan maka kamipun memberi makanan bukaan untuknya.”

وعن الربيع بنت معوذ رضي الله عنها قالت: أرسل رسول الله صلى الله عليه وسلم غداة عاشوراء إلى قرى الأنصار التي حول المدينة: “من كان أصبح صائماً فليتم صومه، ومن كان أصبح مفطراً فليتم بقية يومه” فكنا بعد ذلك نصومه ونصوم صبياننا الصغار منهم إن شاء الله، ونذهب إلى المسجد فنجعل لهم اللعبة من العهن، فإذا بكى أحدهم على الطعام أعطيناها إياه عند الإفطار (رواه مسلم)،

Demikianlah betapa Rasulullah dan para sahabat memanjakan anak-anak di masjid meski lumayan seru karena yang namanya anak-anak pasti akan menimbulkan berbagai gangguan keributan dan tangisan yang menyebabkan solat atau ibadah jadi terganggu.

Namun, ada saja oknum pengurus masjid yang tetap ngotot ingin mengusir anak-anak dan menjauhkan mereka dari masjid dengan berdalil kepada hadis lemah yang berbunyi:

“Jauhkan masjid anda dari anak-anak dan orang gila”

“جنبوا مساجدكم صبيانكم ومجانينكم”

“Hadis diatas lemah dan tidak jelas asalnya dari mana, sehingga tidak bisa dijadikan dalil”. Begitu kata para ulama Hadis, seperti Al-Bazzar dan Abdul Haq Al-Asybili. Sebagaimana Ahli Hadis Imam Al-Hafiz Ibnu Hajar dan Ibnu Al-Jauzi dan Al-Munziri dan Haitsami dan ulama-ulama lain juga melemahkan hadis tersebut. Banyak kalangan awam yang mengira bahwa hadis tersebut benar diriwayatkan dari Rasulullah sehingga membuat mereka senang benar mengusir anak-anak dari masjid dan sangat tidak suka kalau melihat anak-anak bermain di masjid. Ini adalah sikap dan tindakan yang sangat salah dan tidak benar.

Yang benar adalah Islam sangat peduli dengan anak-anak, dan memerintahkan para ayah dan orang tua kerabat yang bertanggungjawab pada anak-anak untuk menyuruh anak-anaknya solat sejak umur 7 tahun. Dan tempat yang benar dalam mengajarkan anak-anak solat dan membaca Al-Quran dan hukum-hukum tajwid dan materi-materi keislaman lainnya, adalah Masjid.

Seperti itu petunjuk dan pedoman yang diajarkan Rasulullah pada ummatnya terkait interaksi kita kepada anak-anak di masjid. Sehingga siapapun tidak boleh mengusir anak-anak dari masjid, sebab mereka adalah pemuda-pemuda harapan masa depan.

Allah memerintahkan kita agar meneladani Rasulullah pada segala hal, baik terkait urusan dunia maupun akhirat, sehingga sudah selayaknyalah kita mengikuti dan meladani Rasulullah dalam membiasakan anak-anak kita untuk mendatangi masjid dan bermain di masjid, serta tidak membiarkan mereka ngumpul-ngumpul tidak jelas di ujung gang atau jalan yang hanya akan menyebabkan akhlak mereka menjadi buruk karena pengaruh lingkungan dan teman-teman mereka yang tidak sehat.

Dan andainya pun sebahagian anak-anak yang datang ke masjid sering menjadi gangguan bagi orang-orang yang sedang solat, baik karena suara tangisan mereka, jeritan dan lengkingan suara, namun jamaah masjid tidak boleh meresponnya dengan kasar atau memarah-marahi anak-anak tersebut atau orang tua anak-anak, yang hanya akan menambah-menambah keributan baru saja. Serahkan hal itu kepada para pengurus masjid atau remaja masjid untuk menyelesaikan masalah anak-anak tersebut dengan bijak dan baik seperti metode yang dilakukan oleh Rasulullah.

Dan yang perlu diingat dan dicatat dan diamalkan adalah sikap lemah lembut dalam menyelesaikan masalah anak-anak di masjid.

Rasulullah pernah bersabda, “Segalanya sesuatu yang dibarengi dengan kelembutan niscaya akan membuatnya menjadi lebih cantik dan indah. Jika kelembutan terenggut, segalannya akan menjadi rusak dan jelek.” (H.R. Muslim)

“إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه ولا ينزع من شيء إلا شانه” (رواه مسلم).

Rasulullah adalah teladan terbaik bagi kita. Pernah terjadi seorang arab badui masuk ke dapam masjid nabawi, lalu si badui buang air kecil di dalam masjid itu. Melihat si badui pipis di masjid maka para sahabat nabi ngamuk. Menanggapi hal ini Nabi pun menyelesaikannya dengan bijak dan lembut dan berkata, “Biarkanlah badui itu, nanti jika pipisnya sudah selesai mohon cuci dan siram kencingnya itu dengan air. Kalian -umat islam- ini diutus bukan untuk bikin repot, melainkan untuk mempermudah.” (H.R. Bukhari Dan Muslim)

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قام أعرابي فبال في المسجد!! فتناوله الناس، فقال لهم النبي صلى الله عليه وسلم: “دعوه، وهريقوا على بوله سجلاً من ماء أو ذنوباً من ماء فإنما بعثتم ميسرين ولم تبعثوا معسرين” (رواه البخاري ومسلم).

Kesimpulannya, Islam melarang mengusir anak-anak keluar masjid, melainkan Islam mewajibkan umatnya membiasakan anak-anak datang ke masjid untuk belajar solat, belajar membaca Al-Quran, belajar tajwid dan belajar hukum syariat lainnya. [Translate: Kivlein Muhammad]
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
Judul Asli

طرد الأطفال من المسجد بحجة التشويش على المصلين
Penulis:
حسام الدين عفانه
نقلاً عن موقع فضيلة الشيخ حفظه الله.
التصنيف: فقه الصلاة
تاريخ النشر: 16 شوال 1429 (16/10/2008)
http://ar.islamway.net/fatwa/27890/

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts