Home » » INTROSPEKSI

INTROSPEKSI

INTROSPEKSI -

Oleh : Niaw Shinran
.
Katanya--seseorang yang sering menilaiku seenaknya--aku itu anak perawan yang nakal, sukanya keluyuran.
**
Namaku Gheby, anak bungsu dari dua bersaudara. Ibu sudah meninggal, sementara Bapak masih setia dengan kesendiriannya, dan kuharap seperti itu selamanya, amin ... Aku tak penah mau punya Ibu tiri. Nowwe!
Sudah tiga tahun lamanya kakak perempuanku--ka Gita namanya--tinggal di rumah suaminya. Kak Gita adalah kakak yang paling baik sedunia, hanya dia yang bisa memahamiku, dan padanyalah aku selalu mencaritakan keluh dan kesahku setiap hari. Tidak enaknya menjadi anak perawan itu adalah punya predikat jomblo, apalagi jomblo ketika dibulan-bulan tertentu. Misalnya, di akhir bulan Desember menuju pergantian tahun, dibulan februari, tepatnya pada tanggal empat belas, dan dibulan Ramdhan menuju hari Raya Idul Fitri. Duh! Bagiku itu sangat menyedihkan.
Bukan, masalahnya bukan itu, yang amat sangat aku sedihkan adalah perkataan orang itu, dia selalu saja menilaiku seenak jidatnya, lalu dengan lihai mulutnya berbagi penilaiannya itu kepada orang lain lagi, lagi dan lagi. Apa salahku? Andai aku bisa mananyakannya langsung, tapi entah mengapa aku selalu saja tak bisa berkata apa-apa ketika mulutnya yang songong itu mencibirku dengan terlalu. Sebagai seorang perawan yang jomblo, alias gak punya pacar, aku merasa seperti tidak punya harga diri di depan kakakku sendiri, ternyata orang itu berusaha menjelek-jelekkan aku di depan kakakku lewat sms, dia mengatakan sesuatu yang tidak benar, yang sama sekali tidak pernah kulakukan, sampai akhirnya kak Gita menelfonku, ia marah-marah.
''Geby! Apa benar apa yang di katakan tetangga kita itu, kalau kamu sering keluar malam sama cowok?'' tanya kak Gita kesal, ''Jawab dengan jujur!'' lanjutnya membentakku.
Aku terkaget-kaget mendengarnya, ''Siapa, kak? Siapa yang ngomong kaya gitu ke kaka?'' aku balik bertanya.
''Ya siapa lagi kalau bukan tetangga kita yang mulutnya ember itu,'' kak Gita semakin kesal.
''Ya ampun ..., kak, kakak jangan dengerin apa kata tu orang, semenjak kakak gak tinggal lagi di rumah, aku jadi jarang keluar rumah. Sesekali keluar paling ke warung atau ke rumah Bi Imah,'' kujelaskan secara detail.
''Kamu gak bohong kan?'' kak Gita kurang yakin padaku.
''Iya, kak, kalau kakak tidak percaya, silahkan tanya aja sama Bapak!!'' ucapku mulai terpancing emosi.
''Yasudah, kakak percaya. Minggu depan kakak pulang, kamu harus ada di rumah, ya?'' pinta kak Gita.
''Iya, kak. Jangan sampai gak jadi lagi ya, aku udah kangen banget, nih,''
''Iya ... Udah dulu ya, jaga diri baik-baik. Dah.'' kak Gita menyudahi obrolan kami. Saking kesalnya, aku langsung membanting ponselku ke lantai. Sialan! Pekikku.
Masih dalam keadaan kesal, kulihat si mulut ember itu sedang asik mengobrol dengan tetangga yang lain, pikiranku langsung kemana-mana, rasanya ingin sekali ku hampiri dia, lalu memaki-makinya. Tapi kutahan, aku tak mau jika harus berdebat panjang dengan orang seperti itu.
**
Kak Gita tidak mengingkari janjinya, siang ini, tepatnya pukul sebelas, kak Gita sudah sampai di rumah. Sungguh terlalu orang itu, kak Gita baru saja sampai, orang itu sudah bicara yang tidak-tidak tentangku, tapi untungnya kak Gita tidak terpropokasi oleh sungutnya itu, kak Gita hanya mengiyakan ucapannya saja. Ketika melihatnya, aku langsung menarik tangan kak Gita, sementara mata si mulut ember itu terlihat sinis menatapku.
''Kak! Kenapa, sih, masih ngeladenin orang kayak gitu, gak ada kerjaan aja!!'' ujarku kesal.
Kak Gita tersenyum, lalu merangkulku, ''Kamu gak boleh gitu, ah! sekesal-kesalnya kita terhadap seseorang, lebih baik tidak usah diperlihatkan, itu enggak baik, tau,'' celoteh kak Gita, ''Disabarin aja.'' lanjutnya.
''Iya ..., habis! Aku kesel banget sama dia. Dia kan lagi hamil, apa gak takut karma nyamber ke calon bayinya,'' ucapku sembarangan.
Plak! Kak Gita mengkemplang kepalaku, ''Hust! Kamu, tuh! Kalau ngomong jangan sembarangan, gak baik itu namanya,'' kak Gita menceramahiku, lagi.
Aku garuk-garuk kepala yang tidak gatal, ''Habisnya, sih, orang itu bikin aku sewot,'' jelasku dengan bibir manyun.
Kak Gita pulang ke rumah sendirian, suaminya bekerja, sehingga tidak bisa mengantar kak Gita pulang ke rumah. Di umur pernikahan mereka yang ke tiga, belum juga dikaruniai seorang anak, padahal, kak Gita sudah tidak sabar ingin memiliki seorang anak, begitupula dengan bapak yang sudah sangat ingin memiliki cucu. Namun Tuhan memiliki rencana lain untuk keluarga kecilnya.
**
Sudah dua hari ini kak Gita menginap di rumah, rasanya tak ingin kak Gita pulang lagi ke rumahnya. Ingat! Kak Gita sudah menikah, sudah punya suami, ada yang merhatiin, ada yang sayangin pula, sementara lo, Gheb? Lo masih jomblo ..., kasian. Celotehku dalam hati.
Lagi-lagi kulihat kak Gita sedang asik mengobrol dengan si mulut ember itu. Karena penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, lantas aku mendengarkan pembicaraan mereka di balik pintu.
''Ah! Masa, sih?'' tanya kak Gita.
''Iya, bener. Dia keluar rumah malam-malam, gak tau, deh, pulangnya jam berapa. Pokoknya pas setelah kamu menikah, si Gheby jadi bandel, suka keluyuran,'' fitnah si mulut ember itu.
''Hmm ..., memangnya kamu gak nanya langsung dia malam-malam mau kemana waktu itu?'' tanya kak Gita lagi.
''Ih! Ngapain nanya-nanya, males. Aku udah faham betul dia itu kaya gimana orangnya, Git.'' mulut si ember itu semakin membuatku ingin melabraknya.
''Yasudah, nanti biar kutanyakan langsung sama orangnya, udah dulu ya, mau masak, nih.'' kak Gita pergi dari hadapannya.
Bergegas aku masuk ke dalam kamar, setelah kak Gita masuk ke dalam rumah, aku segera menghampirinya.
''Apa yang dikatakan orang itu bohong, kak. Jangan percaya,'' seruku.
Kak Gita tersenyum simpul,'' Iya, iya ..., kaka percaya, kok, sama kamu. Makanya, sesekali kamu ngobrol sama dia, biar sama-sama saling tau satu sama lain,'' titah kak Gita.
''Apa? Ngobrol sama dia? Yang ada dia malah nyari-nyari kesalahan aku, kak!'' aku kesal.
''Tu kan ..., belum apa-apa udah suudzhon duluan, itu artinya kamu sma aja kayak dia, hehe,'' kak Gita malah meledekku.
Aku manyun, ''Enak aja. Kalau dia gak gitu duluan, aku juga gak bakal kayak gini, kok, kak,'' ujarku sedikit menyangkal.
''Yaudah, dari pada kitanya yang ngomongin dia, mending bantuin kaka masak, yuk!'' ajak kak Gita.
Aku tersenyum, ''Hayu!'' aku dan kak Gita pun memasak di dapur sembari menunggu bapak pulang kerja.
Hidup itu perlu yang namanya introspeksi diri, kalau tidak, kita akan terus menyalahkan orang-orang yang tidak menyukai kita di luar sana.
.
End.
Bogor, 08 Maret 2016
Ms Nii

0 comments:

Post a Comment