Home » » Bukan Seperti Itu ~

Bukan Seperti Itu ~

Bukan Seperti Itu ~

Malam ini, barisan awan melingkar mengitari sependar cahaya bintang yang tampak sayu.
Di bawahnya terhampar tanah lapang yang dipenuhi dengan kesia-siaan.
Setiap jengkalnya tercium semerbak harum kemaksiatan.
Sedang lautan derita siap menanti di tepi pantai kematian.
Tak akan disadari oleh hati yang picik.
Daku tak mendapati kata yang lebih dekat untuk mendeskripsikan nuansanya selain daripada kata “glamour”.
Tembang nada terlantun memabukkan telinga.
Dibumbui suara percakapan manusia.
Sedang mendiskusikan apa mereka?
Sebagian mereka bicara CINTA.
Tapi, tidak!
Mereka tak tahu esensi CINTA.
Mereka juga salah merefleksikan CINTA.
Mereka hanya terhasut oleh prasangka.
Bahkan mereka tak tahu hidup ini apa.
Mereka hanyalah para hamba.
Yang lalai dari tugas menghamba.
Mereka hidup untuk fatamorgana.
Kiranya daku terlalu lancang dalam hipotesis.
Namun, bukanlah indikasi yang kujadikan pedoman.
Pedomanku adalah pedoman hakiki.
Yakni firman Tuhanku:
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu”[1]
Kadang daku bertanya-tanya.
Sampai kapan bumi ini mampu bersabar?
Dengan terus menampung bercak kedzaliman di punggungnya.
Akan tetapi, bumi jauh lebih penyabar dari yang bisa dibayangkan.
Ia hanya akan berhenti jika Tuhan menghendaki.
Daku juga sedang terpenjara dalam kesia-siaan.
Tapi, tak ada guna penyesalan tanpa militansi kebebasan.
Penguasa yang paling tiran adalah hawa nafsu.
Sangat ingin daku mengkudetanya.
Agar daku dapat bebas.
Bebas dari kesia-siaan.
“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.’”[2]

0 comments:

Post a Comment