Home » » Cinta Bersemi di Sirnarasa

Cinta Bersemi di Sirnarasa

    
Minggu,20 September 1981sekitar kurang lebih pukul 03.00 dini hari WIB
di kala sebagian manusia masih lelap dalam tidurnya,di sebuah kampung terpencil nan gelap gulita bernama Kampung Pabuaran-Damping-Pamarayan-Serang-Banten yang saat itu belum ada listrik,terdengar tangisan bayi laki-laki yang baru saja lahir dari kandungan sang ibu yang berinisial K.
Sementara sang ayah S yang seharusnya menemani kehadiran sang buah hati sudah lama pergi tanpa berita.
     Meskipun tak didampingi oleh sang suami,wanita itu begitu gigih memberikan kasih sayang kepada sang bayi yang diketahui berinisial M
sehingga M yang mungil memasuki usia balita.
Tak jarang M kecil menderita penyakit kulit bercampur nanah yang terkadang begitu menusuk hidung.
     Perpisahan dengan Sang bunda pun tak terelakkan ketika broken home melanda sepasang suami istri K & S.Sehingga M kecil dititipkan kepada neneknya dari pihak ayah tepatnya Kampung Kedung Sapi-Pamarayan-Serang.

   Sang ayah S konon kabarnya menikah lagi dengan wanita muda pilihannya,sementara Sang ibu K pergi merantau ke Ibukota hanya dengan berbekal seadanya alias modal nekat.
    M yang diasuh oleh kasih sayang dari Sang nenek,perlahan tapi pasti,hidup lazim seperti anak-anak seusianya hingga akhirnya masuk Sekolah Dasar,kendati memiliki kebiasaan hidup yang tidak begitu layak untuk ditiru yakni jarang menggosok gigi.Beruntung orang tua M yakni K dan S sesekali menengok buah hatinya meskipun dalam satu tahun boleh dikata hanya dalam hitungan jari.
    Setelah lulus Sekolah Dasar dengan nilai standar, M melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) selama 3 tahun kemudian lulus dengan nilai kebanyakan.
M yang saat itu tumbuh menjadi seorang remaja dengan penampilan terkesan bersahaja,
bingung hendak melanjutkan sekolah kemana?

Di tengah galau yang melanda,suatu hari ditengah perjalanan M melihat spanduk bertuliskan "MA Manbaul Falah-Petir Menerima Murid Baru Tahun Ajaran 1997/1998"

Seolah tak mau berpikir panjang,esok harinya dengan hanya menunggangi sepeda butut era 90-an,M meluncur ke alamat sekolah dimana MA Manbaul Falah berada.
Setelah mengayuh sepeda butut sekitar 3-4 jam dengan kondisi ruas jalan yang relatif naik turun,akhirnya  M berhasil menemukan alamat sekolah yang dimaksud dan langsung menemui Staff yang sedang bertugas pada hari itu,lalu interview secukupnya,lantas M pun bertolak untuk pulang.

Beberapa hari kemudian,sesuai rencana yang telah diperhitungkan M pun bertolak ke MA Manbaul Falah dengan didampingi oleh Sang Ayah untuk registrasi.Lalu resmilah M sebagai siswa baru di sekolah itu yang beralamat di Desa Cireundeu Kecamatan Petir Serang-Banten.
     Di MA Manbaul Falah itu M laksana menemukan keluarga baru,karena setelah tahun pertama bahkan lebih dari itu, M jarang sekali pulang ke kampung halamannya di Pamarayan.
Di tempat barunya itu Ia menumpang tinggal dirumah kediaman seorang Kyai setempat yang juga seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di wilayah Kabupaten Serang namun pada akhirnya Sang Kyai berinisial MA itu mengajukan pensiun muda kepada atasannya dengan berbagai alasan yang bisa dipertanggung jawabkan.
     Tiga tahun berselang,M lulus dengan meraih predikat nilai tertinggi disekolahnya,bahkan masuk daftar 10 besar se Kabupaten Serang pada saat itu. Otomatis nama baik sekolah naik satu digit dari generasi sebelumnya.Meskipun sebenarnya tak ada yang tahu bahwa pada saat itu hati M sedang berduka,pasalnya sang kekasih pujaan yang statusnya masih adik kelas berpindah kelain hati yang notabene masih sahabat sendiri. Hancurrr!!!

     

          Anak Yang Hilang


   Bak ditelan samudera,beberapa tahun lamanya tak ada kabar berita dari M,hingga diakhir Tahun 2007, M resmi menikah dengan seorang gadis berinisial R asal Rangkasbitung.
3 tahun kemudian tepatnya 2010 sepasang suami istri M dan R yang belum mempunyai momongan itu bersilaturrahim ke Pak Kyai yang masih tinggal di area MA Manbaul Falah (sekarang menjadi Madrosah Nurul Burhani),akhirnya Sang Kyai yang dianggap M seperti orang tua sendiri itu mengajak keduanya untuk sungkem ke Ulama terkenal Syeikh Ahmad Shohibul Wafa Taajul 'Arifin Qs.(Pangersa Abah Anom) sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya di daratan Pasundan tepatnya Tasikmalaya-Jawa Barat.Saat itu pula sepasang suami istri M dan R seumur hidup untuk kali pertama melihat serta mendengarkan hidmat ilmiyah yang disampaikan oleh murid kesayangan Pangersa Abah Anom yakni Panersa Abah Aos
yang kala itu menyampaikan tentang Manaqib di Tanah Suci.
 M berbisik dalam hati "ke Tanah Suci" (bahasa yang telah disederhanakan).

 M beserta istri masuk dalam antrian massa demi sungkem ke Pangersa Abah Anom.

Setelah acara sungkem dan pengajian bulanan (manaqiban red.) selesai M dan istri beserta Sang Kyai yang belakangan diketahui bernama lengkap KH.Moh.Adnan SH. sholat dhuhur berjama'ah di daerah Ciamis tepatnya dikediaman Abah Aos Pondok Pesantren Sirnarasa Kecamatan Panjalu-Ciamis-Jawa Barat.
   Lagi-lagi selama kurang lebih 3 tahun berselang M beserta isrti tak pernah lagi sungkem ke Suryalaya maupun Sirnarasa hingga memasuki tahun 2013.
    Ya mulai saat itulah setelah M ikut Safari Manaqib dan Ziaroh Walisongo yang dipimpin Pangersa Abah Aos di penghujung tahun 2013.Tak berapa lama setelah itu M terbang ke Tanah Suci demi  menunaikan Umroh.

   keyakinan M tumbuh seiring berjalannya waktu bahwa Syeikh Muhammad 'Abdul Ghouts Saefulloh Maslul Al-Qodiri An-Naqsyabandi Al-Kaamil Qs.
(Pangersa Abah Aos) adalah Mursyid Pilihan Nan Mulia sebagai pembimbing ruhani Era Millenium yang hanya satu pada masanya selaku penerus Mursyid sebelumnya Sang Guru Agung Pangersa Abah Anom.
   Sungguh karomah Abah Aos ketika M bisa Umroh ke Tanah Suci paket 16 hari,bonus dari Pemda Kabupaten Jombang pada MTQ Tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2013.

      Kini lelaki berinisial M yang bernama lengkap Mansur (34)dan Istrinya Rumdanah (27) itu dianugerahi tiga buah hati yakni Mustaghfiroh (4) dan Maahir Mubaarok (1) serta satu lagi yang masih dalam kandungan.


Mansur yang merasa banyak dosa,noda dan nista selama hidupnya itu,kini hanya mampu dan berupaya untuk menghadiri Manaqib Tuan Syeikh 'Abdul Qoodir Al-Jailany setiap bulan di Istana Pangersa Abah Aos sebagai simbol:

"Cinta Bersemi di Sirnarasa"
          


                                                Mohon ampun dzohir bathin kepada Yang
                                                Mulia Abah Aos Qs.
                                                          Tim Jurnalis Berita Kita

0 comments:

Post a Comment