Home » » Catatan Singkat Perjalanan Abah Aos Ke Mamuju 1

Catatan Singkat Perjalanan Abah Aos Ke Mamuju 1

Catatan Singkat Perjalanan Abah Aos Ke Mamuju 1
Catatan singkat perjalanan Abah Aos & Rombongan ke Mamuju, Sulawesi Barat (4-6 November 2014). * Bagian I :



5 hari sepulang dari Safari Manaqib di Turki, atau sehari setelah Manaqib di Pondok Peradaban Sirnarasa (PPS), Syaikh Mursyid Abah Aos terbang menuju Kota Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Perjalanan kali ini, selain untuk manaqib dan menancapkan ajaran TQN PP Suryalaya, juga untuk menghadiri undangan Bpk Andi Ahmad Ilyas, ikhwan TQN yang berdomisili di sini, dalam rangka pemberian tanah hibah seluas 300 hektar untuk Agro Wisata Ruhani Terpadu.



Pemberian tanah hibah ini bermula dari telepon yang masuk ke Abah dari seseorang yang bernama H. Andi Ahmad Ilyas dalam perjalanan beliau memasuki kawasan Sunan Bonang Tuban, saat Safari Manaqib Wali Songo akhir September yang lalu. Bapak Ilyas mendapat nomor telepon Abah Aos dari hasil searchingnya di internet. Pada intinya, ia bersama beberapa saudaranya ingin menghibahkan sejumlah tanahnya kepada Abah dimana selain diperuntukkan untuk pusat pengembangan agama Islam sekaligus penyebaran ajaran Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyah PPS, juga sebagai sentra wisata ruhani bernilai ekonomis. Tidak kecil ternyata kandungan sumber daya alam yang terdapat di tanah tersebut. Selain tertanam pohon gaharu juga terdapat kandungan emas di dalamnya.

(Tentang telepon bapak Andi Ilyas ke Abah tepat ketika Pangersa Abah memasuki kawasan Sunan Bonang, belakangan kami baru tahu hubungannya, dalam penjelasan para ikhwan di sini disampaikan bahwa ternyata leluhur masyarakat di sini diyakini pernah menikah dengan Sunan Bonang, maka menjadi kuatlah hubungan batin masyarakat Mamuju dengan kanjeng Sunan Bonang!!.)

Tiba di Mamuju pada pukul 5 sore, Abah Aos dan rombongan langsung menuju ke hotel Grand Mutiara Mamuju. Suasana hotel terlihat ramai oleh Paspampres yang mempersiapkan kehadiran Presiden Jokowi di kota ini pada rabu siang, 5 November 2014. Tentu bukan hal kebetulan jika kunjungan Abah berbarengan dengan kunjungan sang presiden di kota yang tidak terlalu besar ini. Sesampainya di hotel, Abah tidak bertanya dimana kamarnya, tapi dimana tempat sholatnya. Semua koper di taruh di lobby hotel dan kami pun langsung menuju tempat sholat untuk berjamaah sholat maghrib-isya dengan di jama'.

Abah menangis di tengah-tengah sholat dan zikir. Pangersa Abah Anom hadir di hadapan beliau, berkata dengan lantangnya "Ar Rijaal Taqna'ul Jibal", Orang itu harus menundukkan gunung!. Gunung yang di maksud tentu adalah hawa nafsu, keinginan-keinginan diri. Namun, gunung itu juga menunjuk pada kondisi tanah yang akan dihibahkan. Kami baru tahu keesokan harinya, ternyata tanah hibah sebesar kurang lebih 300 hektar itu sudah termasuk gunung di dalamnya. Meliku-liku dan sangat terjal akses jalan menuju puncak gunung tersebut. Gunung yang di dalamnya menyimpan kekayaan sumber daya alam yang besar.

Setelah beres melaksanakan ibadah fardhu dan sunnah, kami pun bergerak menuju restoran untuk makan malam dan setelah itu baru ke kamar. Rencananya malam ini kami akan meeting dan Abah istirahat di kamar. Tapi, datang rombongan ikhwan-akhwat di bawah pimpinan Wakil Talqin Kyai Syahrul dari Sulawesi Barat. Meeting tertunda, Abah dan kami ikut menemani rombongan. Sebagian dari mereka yang belum talqin langsung di talqin zikir oleh Abah. Selesai talqin, kami pun semua melaksanakan manaqib perdana di tanah Mandar ini.

Saya ikut mengantar rombongan pulang hingga ke parkiran. Di parkiran inilah beberapa dari mereka bercerita, bahwa dua hari yang lalu mereka sudah bertemu Abah dan rombongan di alam yang mereka menyebutnya sebagai alam Malakut. Pertemuan di alam Malakut itulah yang menjadi salah satu pendorong mereka untuk jauh-jauh datang menghadap Abah dan meminta talqin zikir pada malam ini secara musyahadah.

Kemampuan penyaksian mereka tadi memang bisa dimaklumi. Di masyarakat Sulawesi pada umumnya, atau di tanah Mandar pada khususnya, ilmu tasawuf sudah menjadi 'makanan' mereka sejak usia dini. Berbeda dengan di pulau Jawa yang menjadi 'makanan' kesehariannya adalah persoalan fiqih. Maka keakraban dengan dunia tasawuf inilah yang mengasah mereka menjadi orang-orang yang sangat dekat dengan hal-hal mistik. Mandar bahkan di kenal sebagai kelompok masyarakat yang sangat disegani dibidang mistiknya.



(bersambung ke bagian ke II...)

Nama Pengirim Irfan Zidny
NO HP 038

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts