Home » » Titik Temu Antara Agama, Cinta Dan Politik

Titik Temu Antara Agama, Cinta Dan Politik

Apakah hubungan antara cinta dan politik? Bagaimana keduanya bisa dikaitkan? Bukankah masing-masing berada didunia yang berbeda? Inilah kesan umum ang sering saya dengar. Yang satu, yaitu cinta, tampaknya hanya pantas dihubungkan dengan pengertian-pengertian kelembutan, simpati, prikemanusiaan, pendek kata dengan segala sesuatu yang tidak agresif. Sementara itu, yang kedua, yaitu politik, biasanya dikaitkan dengan  cara-cara kotor untuk memperoleh kekuasaan, diplomasi, ketidakjujuran, dan bahkan kekejaman.
     Kekeliruan pertama dalama anggapan tersebut diatas adalah pengertian kata 'politik' itu sendiari yg mengalami distorsi. Kebanyapan anggapan, politik atau berpolitik dalam pendapat sehari-hari berarti 'cara mencapai tujuan dengan menghalalkan cara'. Tetapi sebenarnya arti dasarnya tidak demikian.
Politik adalah kegiatan yang dilakukan untuk menyelenggarakan kehidupan kenegaraan atau kesejahteraan masyarakat secara umum lebih baik. Jadi setiap kegiatan yang mengarah ke tujuan itu kita sebut tindakan politis. Ini adalah hakikatnya, dan kita akan memakai hakikat ini sebagai pedoman. Dengan berpedoman ini, maka politik dan cinta akan menemukan titik temunya.
     Seorang pecinta sejati akan terpanggil untuk terjun dalam kegiatan berpolitik demi mencintai sesama, memikirkan kebajikan umat. Khususnya kalau ia melihat bahwa kondisi sosial dalam masyarakatnya kurang memungkinkan sebagian besar masyarakat itu sendiri untuk memanusiakan manusia.
    Konsep ini mungkin agak sulit untuk dipahami bagi sebagian orang. Saya akan mulai menjelaskannya dengan mengemukakan semacam itu. Ia dapat mulai dari tanggungjawab politik dilingkungan yang paling terdekat. Misalnya, lingkungan rukun tetangganya atau kantornya, untuk kemudian memandang masyarakat negaranya secara keseluruhan sebagai cakrawala sosialnya. Tetapi pertanyaan paling penting adalah bagaimana cara melakukan tindakan politis sebagai pecinta itu?
    Pertama-tam ia harus menginsyafi bahwa yang dihadapinya adalah sistem, bukan manusianya. Ia melihat bahwa ketua rukun warganya sering melakukan pemerasan dan penduduk setempat tampaknya sudah biasa dengan praktek-praktek semacam itu. Yang dilawannya adalah sistem pemerasan dan sikap pasrah diri penduduk setempat, sedangkan manusia-manusia pelakunya tetap dicintainya. Artinya, dia tidak menutup diri dengan cara-cara untuk menginsyafkan mereka, mengetuk moral mereka. Memang sulit sekali memisahkan antara perbuatan dengan pelakunya. Biasanya kita cenderung untuk memakai sistem kekerasan, misalkan dengan melakukan teror terhadap pelaku itu. Tpi sitem kekerasan yang dipakai itupun sebenarnya merupakan musuh yang perlu dikikis. Dalam lingkup  yang jauh lebih besar, kita misalnya melihat bagaimana cara kaum komunis melakukan revolusinya. Biasanya Revolusi itu penuh dengan penjarahan, penumpahan darah, dan kekejaman merajalela. Ternyata setelah revolusi itu dimenangkan, struktur atau sistem penindasan yang dahulu dilawan itu tetap berlangsung, dalam baju dan nama yang lain, serta dipraktekan oleh pemenang itu sendiri. Gejala ini dapat terjadi kalau pandangan terlalu tertuju pada penjahatnya (figur), dan bukan pada kejahatannya.
    Bagi banyak orang, mungkin cara perjuangan yang berlandaskan semangat mencintai manusia-manusia (baik dari lawan maupun kawan) itu merupakan suatu kemustahilan. Mendisiplinkan diri untuk tidak cepat menyerah pada tekanan, tidak cepat mengarahkan politik pada cara2 kekerasan, memang tidak mudah. Sebab yang dituntut adalah sikap moral yang benar-benar berani, terbuka, aktif, tidak kenal lelah, dan tetap penuh harapan. Hal ini sebagaimana telah dicitrakan oleh pribadi pilihan Tuhan, nabi Muhammad saw dalam kemenangan politis ketika "Futuh mekkah", dimana kemenangan kala itu dilalukan dengan kesadaran akan hak-hak kemanusian, kesadaran akan  kekuatan cinta dan hikmah dari sebuah dakwah menyampaikan kebenaran..
     Tapi memang pada kenyataan saat dijaman sekuler ini, politik dan cinta sering kali sulit diakurkan atau disandingkan dalam sebuah pembicaraan. Seolah-olah cinta dan politik itu lahir dari rahim yang berbeda. Oposisi biner sering kali dilekatkan pada keduanya dengan mengatakan bahwa politik itu jahat dan cinta itu kudus. Sebuah oposi yang sungguh menyesatkan dan menjebak manusia. Sejatinya politik itu lahir dari rahim cinta, rahim yang mau membangun dan menata hidup manusia sehingga segala kejahatan yang membawa derita dijauhkan dari hidup manusia. Buah cinta adalah kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan.
Pertanyaan bisa dilontarkan dalam konteks ini: sejauh mana politik menjangkarkan dirinya pada cinta? Sangat ironis kalau kita mengatakan bahwa kehidupan politik itu dipandu oleh cinta kendati memang seharusnya begitu. Ironisme ini muncul karena kita terlalu sering dihadapkan pada persoalan-persoalan politik yang mengapkir cinta dari dirinya. Bahkan sering kali politik merasa tabu untuk membicarakan cinta. Hal ini bisa dibuktikan lewat berbagai kasus korupsi dan segala kejahatan politik yang merebak seperti di negara kita ini.
Berbagai usaha untuk memenangkan cinta dalam dunia politik sering kali sama saja dengan menggedor-gedor pintu batu karang. Saya tidak sedang membangun pesimisme dalam hidup berpolitik, tetapi saya hanya mau mengatakan bahwa cinta sudah terlalu banyak kalah dalam dunia politi.     Berbeda dengan ”cinta dan politik” yang sering dioposisikan, ”cinta dan agama” selalu di- sandingkan. Asumsi dasarnya, agama tidak pernah melepaskan diri dari ajaran cinta.
Ibu Teresa dan Mahatma Gandhi mengakarkan cinta mereka dalam tradisi agama masing-masing. Mereka mementingkan pencarian kebenaran serta secara sungguh-sungguh menghormati kehidupan dan berusaha memenangkan cinta dalam segala pencarian itu. Mereka meredam segala dorongan hawa nafsu yang picik dan egois yang mengor- bankan orang lain dengan segala kepentingannya. Justru sebaliknya, mereka bersedia mengor- bankan segala-galanya untuk memenangkan cinta.
Berger (1976) dalam refleksi religiusnya mengatakan, agama hendaknya membentuk kognisi masyarakat dan menjadi pedoman yang memberi arah bagi pola tingkah laku dan corak sosial. Berger sebenarnya mau membidik bagaimana agama itu memijakkan dirinya pada realitas sosial, pada realitas untuk menggapai kehidupan yang akan datang. Dengan demikian, agama tak mungkin melepaskan diri dari tanggung jawab sosial.
Agama dalam praktiknya selalu meniscayakan adanya tanggung jawab sosial. Sebab, kalau tidak, ia akan jatuh pada praktik pemujaan (cult) semata. Kalau agama tanpa tanggung jawab sosial, lalu apa arti dan sumbangan agama bagi peradaban sosial? Kalau agama menafikan tanggung jawab sosial, lalu untuk apa manusia beragama? Agama tidak cukup hanya menyibukkan diri dengan kekhusyukannya dengan orientasi pada keselamatan yang akan datang. Hakikat agama pada dirinya sendiri berdimensi humanis dan ilahi.
Mahatma Gandhi pada akhir sebuah ceramah politiknya mengatakan, ”Bagi saya, Tuhan dan kebenaran cinta merupakan istilah yang dapat digantikan satu dengan yang lain. Jika ada yang mengatakan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang tidak cinta atau tidak benar atau yang menyiksa, saya tidak akan sudi mengabdi kepada-Nya. Oleh sebab itu, dalam politik, kita juga harus membangun kerajaan surgawi.”
Ini adalah kata-kata Mahatma Gandhi yang pada pokoknya mau memenangkan cinta dalam hidup manusia. Kita diajak oleh Mahatma Gandhi dan Ibu Teresa untuk berjuang memenangkan cinta dalam hidup kita.



Salam Cinta Slalu

#Cinta dan Kebijaksanaan yg tdk trestrategi dlm sbuah kekuatan struktural akan mudah dikalahkan dengan kejahatan yg terstruktur rapih, sehingga kejahatan trsbut tampak seperti wajah Kebajikan..(Sayidina Ali)

 

 

 

 



Salam Cinta
------------------------

Silahkan buka juga link halaman Facebook "Sinarilah Dunia Dengan Cinta" untuk gabung, sukai dan berdiskusi berbagi makna tentang cinta. Klik linknya dibawah ini:

=> http://www.facebook.com/sinarilahdunia

0 comments:

Post a Comment