Home » » Memahami Ilmu Cinta Dari Sebatang Pohon

Memahami Ilmu Cinta Dari Sebatang Pohon

Sebatang pohon yang rindang, menjulang ke angkasa, dengan buah lebat, menjadi dambaan setiap orang yang bertanam, juga menjadi kekaguman bagi yang melihatnya. Begitulah perumpamaan bagi pribadi muslim bahkan jamaah, dimana dia mempunyai akar yang menghujam bumi, dengan batang yang menjulang tinggi ke angkasa, buah-buahnya yang memberi manfaat bagi manusia lain, serta daun yang menyejukkan.


Kerindangannya menjadi pelindung bagi orang-orang yang membutuhkannya dari sengatan matahari di terik kemarau, kerindangannya menjadi pelindung bagi musafir yang kehujanan. Kerindangannya pula yang mampu mensintesa zat asam arang menjadi oksigen yang menghidupkan.

Dalam kerindangannya burung-burung bersarang berlindung serta berkembang biak, demikian banyak serangga yang menjadikannya sebagi rumah dan sumber penghidupannya.
Akar-akarnya yang menghunjam bumi serta menyebar menjadi pondasi kokoh yang mampu menopang untuk tetap berdiri dari terpaan angin dan gulungan taufan yang dasyat. Akar terus dinamis berkembang dan terus menghunjam ke bumi, ia bahkan lebih kokoh dari sebuah fondasi bangunan dari beton, karena akar lebih dinamis dan terus berkembang.

Telaga yang sejuk dan jernih airnya adalah bentuk kemurahan perakaran yang mampu menahan air dari limpahan air hujan, bahkan telaga itu tidak kering walaupun di musim kemarau sekalipun.

Namun tahukan kita, bahwa pohon tersebut ternyata hanya bermula dari sebutir biji yang jauh lebih kecil dibanding dengan pohon tersebut. Sungguh maha suci Allah yang terus menjaga butir biji kecil tersebut dengan segala dinamikanya sehingga menjadi pohon yang menjulang.

Kebesaran pohon adalah sebuah proses yang memakan waktu tidak sebentar, bila coba kita singkap sedikit ternyata ada sebuah sinergi yang kokoh dalam pohon tersebut.

Sinergi yang luar biasa tersebut adalah antara batang, ranting, akar, serta daun yang kemudian patut kita jadikan sebuah model lalu kita tiru. Sang akar sebagai satu komponen yang menyerap bahan makanan, kemudian diangkut oleh batang dengan mekanisme yang dimilikinya, kemudian disalurkan ke ranting-ranting, baru sampai ke daun dan dengan proses photosintesis, bahan makanan tersebut disintesa dengan bantuan sinar matahari menjadi makanan yang kemudian didistribuasikan ke seluruh bagian pohon.

Makanan tersebut digunakan untuk pertumbuhan dan perbaikan bagi seluruh bagian pohon, dan apabila telah sampai pada titik waktu tertentu makanan tersebut dipersembahkan untuk memperpanjang daur hidupnya dan untuk kemanfaatan mahluk lainnya, yaitu berupa bunga, kemudian menjadi buah, biji.

Betapa bermanfaatnya bunga bagi lebah, dan betapa bermanfaatnya lebah bagi bunga dalam membantu penyerbukan. Betapa bermanfaatnya buah yang ranum bagi mahluk hidup dan betapa bermanfaatnya mahluk yang memakan buah tersebut kemudian menyebarkan buahnya ke seluruh penjuru, sehingga spesies pohon tersebut rantai hidupnya tidak terputus.

Sinergi yang begitu padu antara batang, ranting, akar, serta daun begitu indahnya, sehingga setiap komponen-komponen tersebut sama-sama diuntung, sama-sama memberi manfaat, saling bekerja sama untuk mencapai sesuatu kesepakatan bersama yang telah ditentukan, komponen-komponen tersebut, memiliki peranannya masing- masing mereka tidak saling iri, namun mereka terus bekerja dan bekerja.

Coba kita bayangkan lagi apa yang terjadi apabila salah satu komponen tersebut tidak ada rasa keadilan disalah satunya, maka yang akan terjadi adalah pohon itu akan mati meranggas, tidak ada yang diuntungkan semuanya. Misalnya, apabila akar berlaku curang maka seluruh pohon akan mengalami kematian karena tidak ada bahan makanan yang dipasok oleh akar, demikian juga apabila daun tidak adil maka seluruh komponen akan kurus tak mendapatkan jatah makanan yang tentunya akan mati dan selanjutnya akan
menggugurkan seluruh dedaunan, demikian juga apabila batang dan ranting tidak adil ia hanya mau mengantar bahan makanan untuk dirinya sendiri tak mau menyalurkan makanan yang telah diolah oleh daun keseluruh pohon maka lambat laun pohon itu akan mati juga.

Sungguh ayat-ayat kauniyah memberi banyak sekali pelajaran bagi kita semua, mampukah kita mengambil pelajaran dari contoh nyata tersebut, untuk kemajuan kita secara individu, maupun secara jamaah, yah paling tidak jamaah terkecil kita. Mampukah kita berperan menjadi akar, batang ranting, daun.

Sebagai akar yang selalu memberi kontribusi, masukan-masukan baik berupa saran, gagasan, maupun bentuk-bentuk material, untuk diolah oleh daun jamaah kita menjadi sesuatu yang bermanfaat, yang kemudian didistribusikan oleh batang baik untuk jamaah itu sendiri, maupun untuk di luar kalangan jamaah.

Namun yang pasti waktu yang dibutuh bukan dalam jangka ketergesaan, namun waktu yang dibutuhkan adalah waktu dalam jangka kesabaran. Wallahu'alam bishowab. just sharing ^_^^_^

Cuaca dingin dan mendung bukan menjadi alasan untuk menarik selimut kembali. ayo kt Tetap semangat beraktivitas seperti biasa!

Salam Cinta
------------------------

Silahkan buka juga link halaman Facebook "Sinarilah Dunia Dengan Cinta" untuk gabung, sukai dan berdiskusi berbagi makna tentang cinta. Klik linknya dibawah ini:

=> http://www.facebook.com/sinarilahdunia

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts