Home » » Cinta Seorang Pemimpin Umat

Cinta Seorang Pemimpin Umat

Tidak ada seorang pun yang menyalaminya kecuali beliau menghadapinya dengan seluruh wajah, dan beliau tidak berpaling darinya sampai orang tersebut selesai perkataannya. (HR Thabrani)

Ketika Rasulullah SAW sedang berbincang-bincang dengan para sahabat, seorang pemuda datang menghampiri beliau sambil berkata, Ya Rasulullah, aku mencintaimu. Rasulullah SAW berkata, Kalau begitu, bunuh bapakmu!. Tanpa pikir panjang, pemuda itu segera beranjak pergi untuk melaksanakan perintah tersebut. Namun Rasul memanggilnya kembali seraya berkata, Aku tidak diutus untuk menyuruh orang berbuat dosa. Aku hanya ingin tahu, apa betul kamu mencintai aku dengan kecintaan yang sesungguhnya?


Tidak lama setelah itu, pemuda ini jatuh sakit hingga tak sadarkan diri. Rasul pun datang menjenguk. Namun pemuda itu masih dalam keadaan tidak sadar. Nanti kalau anak muda ini bangun, beritahu aku, sabda Rasul. Beliau pun kembali ke tempatnya. Lewat tengah malam pemuda itu bangun. Anehnya, yang pertama kali ia tanyakan adalah apakah Rasulullah SAW telah berkunjung kepadanya.

Diceritakanlah kepada pemuda itu bahwa Rasulullah SAW bukan saja berkunjung, tapi beliau juga berpesan agar diberi tahu jika pemuda itu bangun. Pemuda itu berkata, Tidak, jangan beritahukan Rasulullah. Jika beliau harus keluar rumah pada malam seperti ini, aku khawatir orang-orang Yahudi akan mengganggunya di perjalanan. Tak lama kemudian, ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Pagi hari usai shalat subuh, Rasulullah SAW diberitahu tentang kematian pemuda itu. Rasul datang melayat jenazah kemudian berdoa, Ya Allah, sambutlah Thalhah di sisi-Mu, Thalhah tersenyum kepada-Mu dan Engkau tersenyum kepadanya.
Tiada seorang pemimpin pun yang mendapatkan loyalitas serta kecintaan yang luar biasa dari para pengikutnya selain Rasulullah SAW. Mereka rela mati demi Nabi, bahkan berani membunuh orangtuanya sendiri jika itu yang Nabi kehendaki.

Apa sebabnya? Hidup manusia tidak pernah lepas dari hukum sebab akibat. Tidak ada akibat, jika tidak didahului sebab. Mengapa Rasulullah SAW dicintai umatnya? Sebab, beliau terlebih dahulu memberikan cinta yang murni, dan tak terkontaminasi ambisi dan kepentingan duniawi. Tak heran jika para sahabat membalasnya dengan cinta yang tulus pula kepadanya. Kecintaan beliau tergambar jelas dalam tiga hal: perhatian, pemberdayaan dan pengorbanan. Tak ada seorang pemimpin pun yang mampu memberikan perhatian, bimbingan serta pemberdayaan, dan pengorbanan sebagaimana yang diberikan Rasul kepada umatnya.

Pertama, perhatian. Sudah menjadi keharusan bagi seorang pemimpin untuk mengetahui serta memahami kebutuhan dan kondisi psikologis orang-orang yang dipimpinnya. Tidak hanya dalam hal-hal besar, namun juga hal-hal kecil dan dipandang kecil dan sederhana. Sesungguhnya, perhatian yang tulus dari seorang pemimpin akan mampu meningkatkan kualitas psikologis dan loyalitas para pengikutnya. Konon, Napoleon Bonaparte bisa menaklukkan hati prajuritnya hanya dengan mengenali nama-nama mereka. Ia biasa menyapa dan menyebut nama mereka saat hendak berperang. Hanya sedikit saja perhatian yang ia berikan, namun efeknya sungguh luar biasa. Bagaimana pula jika perhatian yang diberikan sang pemimpin benar-benar tulus ikhlas? Efeknya tentu akan lebih dahsyat. Itulah yang dilakukan Rasulullah SAW.

Abu Hurairah mengungkapkan betapa sopan dan perhatiannya Rasulullah SAW kepada umat, tanpa melihat kaya miskin tua atau muda, Rasulullah tidak melepaskan tangannya jika ada seseorang menjabat tangan beliau, sampai orang tersebut melepaskannya terlebih dulu. Aku tidak pernah terlihat lulut beliau keluar berselonjor melebihi lutut orang dalam satu majelisnya. Tidak ada seorang pun yang menyalaminya kecuali beliau pasti menghadapinya dengan seluruh wajah, dan beliau tidak berpaling darinya sampai orang tersebut selesai perkataannya. (HR Thabrani). Kedua, pemberdayaan. Beliaulah pemimpin yang paling berhasil dalam memberdayakan orang-orang yang dipimpinnya. Beliau sangat terampil membaca potensi, kelebihan dan kekurangan para sahabat.

Kemampuannya ini menjadikannya mampu menempatkan setiap sahabat sesuai kapasitas dirinya. Jika sahabat memiliki karakter baik, maka beliau akan memolesnya menjadi lebih baik. Jika memiliki karakter kuat, maka beliau akan menjadikannya lebih kuat dan terarah. Sebaliknya, karakter-karakter buruk yang masih melekat, sedikit demi sedikit beliau hapus lalu menggantikannya dengan yang lebih baik.

Itulah sebabnya, sebelum tersinari cahaya Islam, para sahabat tidak ada apa-apanya. Namun lewat bimbingan Rasulullah SAW, mereka menjelma menjadi manusia-manusia unggul yang sulit mencari bandingannya. Umar bin Khathab misalnya, sebelum masuk Islam adalah orang yang sangat pendek pikiran, fanatik terhadap suku, bengis, gemar mabuk dan berbuat maksiat. Meski dalam satu segi ia pun seorang pemberani, tegas, kuat fisiknya dan mudah tersentuh. Lewat bimbingan Rasul, Umar pun berubah wujud, dari seorang preman menjadi seorang negarawan agung, pembuat tatanan yang cerdas dan brilian, penegak keadilan, luas wawasannya, tangguh ibadahnya, jitu firasatnya, serta mulia akhlaknya.

Dalam bidang ekonomi Rasulullah SAW membina para sahabat dalam seluruh aspek, teoretis maupun empiris. Mereka disadarkan bahwa semua jenis harta adalah milik Allah SWT. Semuanya harus dicari seoptimal mungkin dalam batas-batas yang telah ditentukan, untuk kemudian didistribusikan demi kemaslahatan diri dan lingkungan sekitar. Beliau sangat menekankan kemandirian, menganjurkan sikap dermawan dan mencela sikap meminta-minta. Ketiga, pengorbanan. Beliau pun sangat banyak berkorban untuk sahabat dan umatnya. Saat hijrah misalnya, Nabi lebih memprioritaskan keselamatan para sahabatnya, hingga beliau termasuk orang terakhir yang berhijrah ke Madinah.

Prinsip yang beliau pegang adalah melayani umat bukan dilayani umat. Ketika umat berada dalam kesusahan, maka pemimpinlah yang pertama kali merasakan susah. Namun sebaliknya, ketika umat mendapatkan kesejahteraan, maka pemimpinlah yang terakhir kali merasakannya. Beliau pernah tidak makan selama tiga hari berturut-turut. Ketika 'Aisyah bertanya apa sebabnya, beliau menjawab,Selama masih ada ahli shuffah aku tidak akan makan kenyang.

Tidak hanya sebatas itu, Rasul pun masih memikirkan nasib umatnya di kemudian hari. Beliau khawatir jika ada umatnya yang makan kenyang sementara tetangganya kelaparan. Sehingga beliau berpesan, Tidak beriman kamu, jika kamu tidur dalam keadaan kenyang sementara tetanggamu kelaparan.

Itulah cinta sejati, cinta penuh pengorbanan dari seorang pemimpin umat.

Sumber: republika

Salam Cinta
------------------------

Silahkan buka juga link halaman Facebook "Sinarilah Dunia Dengan Cinta" untuk gabung, sukai dan berdiskusi berbagi makna tentang cinta. Klik linknya dibawah ini:

=> http://www.facebook.com/sinarilahdunia

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts